Tiga peserta putri yang dipercaya membawa nama SDN 1 Besuki dan Kwaran Lumbir dalam ajang bergengsi tersebut adalah Delisa Az Zahwa, Aisyah Fathkatul Mubarokah, dan Nadira Zalfa Tavana. Ketiganya merupakan andik Siaga yang dinilai memiliki kesiapan, kecakapan, serta semangat kompetitif yang baik untuk tampil di tingkat cabang. Bagi SDN 1 Besuki, keberhasilan melaju ke level Kwarcab bukan sekadar capaian lomba, tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa pembinaan Pramuka di sekolah dasar mampu melahirkan peserta didik yang percaya diri, disiplin, dan siap berkompetisi secara sehat.
Keikutsertaan dalam LCTP tingkat Kwarcab Banyumas itu juga menunjukkan bahwa kegiatan kepramukaan di sekolah dasar bukan sekadar pelengkap aktivitas belajar, melainkan wahana pendidikan karakter yang konkret. Di balik lomba cerdas tangkas yang identik dengan ketangkasan berpikir dan penguasaan materi, tersimpan proses panjang pembinaan, latihan, pembiasaan, dan pendampingan yang melibatkan kerja sama antara peserta didik, pembina, dan pihak sekolah. Oleh karena itu, partisipasi SDN 1 Besuki dalam ajang ini layak dibaca sebagai bagian dari proses pendidikan yang utuh.
Secara teknis, pelaksanaan kegiatan LCTP tingkat Kwarcab Banyumas tahun ini diawali dengan tahapan registrasi peserta yang cukup tertib dan terstruktur. Panitia menetapkan bahwa seluruh peserta wajib mengikuti registrasi manual terlebih dahulu, sebelum melanjutkan proses registrasi melalui sistem digital Ayo Pramuka. Sistem registrasi tersebut menjadi salah satu bentuk modernisasi tata kelola kegiatan Pramuka, di mana data peserta diverifikasi melalui pemindaian kode QR yang terhubung dengan Kartu Tanda Anggota (KTA) Nasional bagi peserta yang telah memilikinya.
Pada pelaksanaan tahun ini, skema registrasi yang semula dirancang dalam empat sesi kemudian disederhanakan menjadi dua sesi utama, yakni Sesi Registrasi Peserta Datang dan Sesi Babak Final. Panitia bertugas langsung melakukan pemindaian QR Code dari KTA Nasional masing-masing peserta. Karena itu, seluruh peserta yang telah memiliki KTA Nasional diwajibkan menyiapkan file KTA pada telepon genggam masing-masing untuk mempercepat proses validasi data di lokasi kegiatan.
Pihak panitia juga menyediakan room kegiatan sebagai sarana pengecekan keberhasilan registrasi. Jika proses registrasi berhasil, maka pada sistem akan muncul tanda centang hijau pada sesi kehadiran atau sesi datang. Mekanisme ini menandakan bahwa pelaksanaan LCTP tidak hanya menekankan aspek perlombaan, tetapi juga melatih peserta dan pendamping untuk memahami pentingnya tertib administrasi, ketepatan data, serta kesiapan teknis sebelum mengikuti kompetisi.
Selain kesiapan digital, aspek administrasi manual juga menjadi perhatian penting. Berkas peserta diwajibkan dimasukkan ke dalam snelhecter berwarna hijau, dipisahkan secara rapi antara regu putra dan putri, serta diberi identitas yang jelas. Dokumen yang harus disiapkan antara lain fotokopi KTA Nasional atau KTA Kwarcab jika ada, surat tugas dari gudep, formulir biodata, serta bukti transfer pendaftaran. Ketelitian dalam menyiapkan berkas tersebut menjadi bagian dari pembelajaran tersendiri bagi sekolah dan peserta bahwa keberhasilan dalam sebuah ajang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan tampil, tetapi juga oleh kerapian persiapan.
Untuk lokasi kegiatan, proses registrasi dan pembukaan dilaksanakan di GOR Lapangan Futsal, sedangkan babak final diselenggarakan di lingkungan Kwarcab Banyumas. Perpindahan lokasi itu menambah nuansa kompetisi yang lebih dinamis sekaligus memberikan pengalaman baru bagi peserta didik yang baru pertama kali merasakan atmosfer lomba di tingkat kabupaten.
Bagi SDN 1 Besuki, keikutsertaan dalam LCTP bukan hanya tentang meraih piala atau gelar juara. Lebih dari itu, kegiatan ini dipandang sebagai media strategis dalam membentuk karakter peserta didik sejak usia dini. Melalui proses latihan, seleksi, pendampingan, dan kompetisi, anak-anak belajar tentang tanggung jawab, kejujuran, sportivitas, kedisiplinan, serta keberanian tampil di hadapan orang lain. Nilai-nilai itulah yang selama ini menjadi ruh utama Gerakan Pramuka dan terus diupayakan tumbuh melalui berbagai kegiatan di gugus depan sekolah.
Kepala SDN 1 Besuki sekaligus Mabigus, Nurkhayati Fatimah, S.Pd.SD., menyampaikan rasa bangga dan syukur atas keberhasilan regu Siaga Putri sekolahnya yang mampu melaju hingga tingkat Kwarcab. Menurutnya, pencapaian tersebut merupakan buah dari proses pembinaan yang konsisten dan kerja sama semua pihak di sekolah.
“Kami merasa bangga karena anak-anak SDN 1 Besuki, khususnya regu Siaga Putri, bisa membawa nama sekolah sekaligus mewakili Kwaran Lumbir pada ajang LCTP tingkat Kwarcab Banyumas. Ini bukan hanya tentang lomba, tetapi juga tentang proses pendidikan karakter yang tumbuh melalui kegiatan Pramuka,” ujar Nurkhayati.
Ia menegaskan bahwa sekolah akan terus mendukung kegiatan kepramukaan sebagai bagian dari pembentukan pribadi peserta didik yang tangguh, mandiri, dan berakhlak baik. Menurutnya, pengalaman berkompetisi di tingkat yang lebih tinggi akan menjadi bekal berharga bagi anak-anak dalam membangun rasa percaya diri dan semangat belajar.
“Anak-anak belajar banyak dari kegiatan seperti ini. Mereka belajar disiplin, belajar bertanggung jawab, belajar mempersiapkan diri, dan yang paling penting adalah belajar berani tampil membawa nama baik sekolah. Kami berharap pengalaman ini menjadi motivasi untuk terus berkembang,” tambahnya.
Hal senada disampaikan oleh Wahyu M., S.Pd., selaku Pembina Pramuka Siaga SDN 1 Besuki. Ia menjelaskan bahwa keberhasilan melaju ke tingkat Kwarcab merupakan hasil dari latihan yang serius, pembiasaan materi, dan semangat anak-anak yang luar biasa selama masa persiapan.
“Anak-anak berlatih dengan semangat yang sangat baik. Dalam LCTP, yang diuji bukan hanya pengetahuan kepramukaan, tetapi juga kesiapan mental, ketepatan, dan kerja sama tim. Karena itu, selama pembinaan kami tidak hanya fokus pada hafalan materi, tetapi juga membangun kepercayaan diri dan kebiasaan disiplin,” ungkap Wahyu.
Ia juga menambahkan bahwa kegiatan seperti LCTP sangat penting untuk menanamkan nilai sportivitas sejak dini. Menurutnya, anak-anak perlu dibiasakan untuk memahami bahwa kompetisi bukan sekadar menang atau kalah, tetapi tentang proses belajar dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
“Melalui kegiatan ini, anak-anak belajar bahwa setiap perlombaan harus dihadapi dengan jujur, sportif, dan penuh tanggung jawab. Itulah manfaat besar dari Pramuka. Anak-anak tidak hanya cerdas secara materi, tetapi juga dibentuk sikap dan karakternya,” jelasnya.
Salah satu peserta, Nadira Zalfa Tavana, mengaku merasa senang sekaligus berdebar saat dipercaya mewakili sekolah dan Kwaran Lumbir di ajang LCTP tingkat Kwarcab Banyumas. Baginya, kesempatan itu menjadi pengalaman yang sangat berkesan karena ia bisa belajar sekaligus membawa nama sekolah ke tingkat yang lebih tinggi.
“Saya senang sekali bisa ikut lomba ini. Awalnya deg-degan, tapi juga bangga karena bisa mewakili sekolah dan Lumbir. Saya dan teman-teman berusaha belajar dan berlatih supaya bisa tampil sebaik mungkin,” ujar Nadira.
Pengakuan Nadira menggambarkan betapa besar makna kegiatan semacam ini bagi anak-anak usia sekolah dasar. Di balik seragam Pramuka yang mereka kenakan, tersimpan proses pembentukan mental yang pelan-pelan sedang tumbuh. Dari latihan demi latihan, mereka belajar tentang usaha, kesungguhan, dan arti membawa tanggung jawab bersama.
Keikutsertaan SDN 1 Besuki dalam LCTP tingkat Kwarcab Banyumas menjadi bukti bahwa pembinaan kepramukaan di sekolah dasar memiliki peran strategis dalam menumbuhkan generasi muda yang cerdas, tangguh, dan berkarakter. Ajang ini bukan sekadar kompetisi, melainkan panggung pendidikan yang mengajarkan anak-anak tentang keberanian, kerja sama, serta pentingnya mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh.
Bagi keluarga besar SDN 1 Besuki dan Kwaran Lumbir, langkah regu Siaga Putri menuju tingkat Kwarcab merupakan kebanggaan sekaligus harapan. Apa pun hasil akhir perlombaan, mereka telah membuktikan bahwa semangat belajar, disiplin, dan keberanian untuk tampil adalah kemenangan yang sesungguhnya. Dan dari langkah kecil para Srikandi Siaga inilah, nilai-nilai kepramukaan terus hidup, tumbuh, dan mengakar kuat dalam dunia pendidikan dasar.
Kontributor: Nurkhayati Fatimah
Editor: Suripto

Posting Komentar