Setahun Menjabat, Kepala SDN 2 Jatisaba Gebrak Gugus Bardiman Lewat Diseminasi PTS Berbasis Kolaborasi Masyarakat



CILONGOK, INFO BANYUMAS — Genap satu tahun mengemban amanah sebagai nakhoda di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 2 Jatisaba, Wantoro, S.Pd.SD., langsung membuat gebrakan nyata dengan menghadirkan sebuah karya inovasi berupa Penelitian Tindakan Sekolah (PTS). Langkah terobosan untuk mengukur sekaligus mengevaluasi kinerja manajerialnya tersebut dipaparkan secara lugas dalam acara Diseminasi Laporan Hasil PTS yang berlangsung di Sudimara Cilongok pada Selasa, 19 Mei 2026. 


Di hadapan 16 anggota Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Gugus Bardiman—salah satu gugus kerja di bawah naungan Korwilcam Dindik Cilongok—Wantoro membedah tuntas laporan ilmiahnya yang bertajuk “Upaya Memaksimalkan Peran Serta Masyarakat dalam Memajukan Kualitas Pendidikan di SD Negeri 2 Jatisaba melalui Pendekatan Kolaborasi Tahun 2026”. Guna memantik jalannya diskusi ilmiah yang dinamis, sang kepala sekolah juga menyediakan apresiasi khusus berupa reward buku inovasi hasil karyanya bagi para peserta seminar yang aktif mengajukan pertanyaan.


Aksi nyata yang diinisiasi oleh Kepala SDN 2 Jatisaba ini langsung memicu respons positif dari otoritas pengawas pendidikan setempat. Pengawas SD Daerah Binaan Gugus Bardiman Korwilcam Dindik Cilongok, Opsi Rizky Andaru, S.Pd., M.Pd., memberikan analogi mendalam mengenai pentingnya pembaruan di lingkungan sekolah. Menurutnya, institusi pendidikan yang pasif tanpa adanya terobosan baru tidak akan mampu bertahan di tengah tuntutan zaman yang kian dinamis. Opsi menekankan bahwa perubahan besar selalu bermula dari komitmen-komitmen kecil yang konsisten di ruang kelas.


"Sekolah tanpa inovasi layaknya tanaman yang tidak disiram. Jangankan berbuah, untuk tumbuh saja sulit. Lakukan perubahan dari hal kecil yang berdampak baik. Mulai dari lingkup terdekat, dari dalam kelas," tegas Opsi Rizky Andaru memberikan wejangan kepada seluruh kepala sekolah yang hadir.


Selaras dengan pandangan tersebut, jalannya agenda diseminasi tersebut dikawal ketat oleh Sekretaris Gugus Bardiman, Ririzkiyana Lestiyani, S.Pd. Menjabat sebagai Kepala SDN 1 Pejogol, Ririzkiyana bertindak langsung sebagai moderator yang memandu lalu lintas komunikasi sepanjang seminar ilmiah berlangsung. Dirinya menyampaikan rasa hormat dan penghargaan setinggi-tingginya atas komitmen pemateri dalam menularkan virus-virus kebaikan pedagogis melalui laporan akademis yang valid.


"Kami menyampaikan penghargaan yang luar biasa atas dedikasi pemateri dalam berbagi praktik baik selama satu tahun menjadi kepala sekolah, yang dibuktikan secara nyata dalam bentuk laporan hasil Penelitian Tindakan Sekolah ini," ujar Ririzkiyana Lestiyani di sela-sela memandu acara.


Apresiasi senada juga datang dari Ketua Gugus Bardiman, Caswati, S.Pd.SD. Selain memuji inisiatif Wantoro, Caswati memanfaatkan momentum tersebut untuk menggali aspek teknis implementasi di lapangan. Ia menanyakan strategi konkret yang diterapkan SDN 2 Jatisaba dalam menjaring kemitraan eksternal, khususnya terkait program sosial sekolah seperti pemberian santunan bagi anak yatim-piatu serta janda tua di lingkungan sekitar sekolah.


Merespons pertanyaan tersebut, Wantoro membeberkan formula rahasianya yang bertumpu pada formula 3K, yakni Koordinasi, Komunikasi, dan Kolaborasi. Ia menjelaskan bahwa langkah awal yang wajib ditempuh adalah membangun pendekatan yang berkelanjutan dan berkesinambungan. Pola ini penting agar para mitra atau rekanan merasa dihargai dan ditempatkan pada porsi yang terhormat. Selanjutnya, langkah kedua adalah memperluas jejaring donasi ke pihak luar dengan mengintensifkan jembatan komunikasi bersama aktor-aktor strategis yang memiliki kepedulian sosial tinggi.


Perkembangan signifikan yang dialami SDN 2 Jatisaba di bawah komando Wantoro juga menarik perhatian Susmiyat, S.Pd. Tokoh pendidik ini mengaku sangat mengagumi akselerasi kualitas yang ditunjukkan sekolah tersebut dalam waktu relatif singkat. Namun, Susmiyat juga bersikap kritis dengan mempertanyakan bagaimana manajemen sekolah mengatasi berbagai kendala, tantangan, serta hambatan sosial yang muncul selama proses kolaborasi dengan masyarakat dijalankan.


Menjawab tantangan tersebut, Wantoro menerangkan bahwa pihak manajemen SDN 2 Jatisaba selalu mengedepankan pendekatan preventif (pencegahan) secara maksimal. Upaya ini diwujudkan melalui ruang-ruang dialogis formal maupun informal, seperti kegiatan refleksi pagi bersama staf, agenda pertemuan berkala, hingga pemanfaatan acara-acara umum di sekolah. Melalui keterbukaan informasi tersebut, Wantoro mengklaim bahwa segala bentuk kesalahpahaman atau multi-persepsi di tengah masyarakat dapat diredam sejak dini sebelum menjadi konflik yang menghambat program sekolah.


Inspirasi yang ditebarkan melalui diseminasi tersebut diakui secara terbuka oleh Kepala SDN 4 Panusupan, Nur Cahyo Trihadidin, S.Pd. Nur Cahyo menyatakan bahwa banyak program kerja yang telah dipaparkan oleh pemateri sangat potensial dan kontekstual untuk direplikasi di sekolah yang ia pimpin. Meski demikian, ia menggarisbawahi perlunya kiat khusus agar tingkat partisipasi dan rasa memiliki (sense of belonging) dari masyarakat terhadap sekolah bisa menyentuh level maksimal.



Menanggapi hal itu, Wantoro menegaskan bahwa modal utama untuk menggerakkan masyarakat adalah integritas dan aksi riil dari internal sekolah itu sendiri. Pihak sekolah harus berani mengambil inisiatif gerakan awal yang akuntabel, yang memberikan panggung dan ruang artikulasi bagi komite sekolah, paguyuban kelas, hingga jejaring alumni. Menurut Wantoro, kepercayaan publik tidak bisa dibeli dengan janji-janji manis di atas kertas.


"Masyarakat butuh bukti dan bukan hanya sekedar rencana tanpa realisasi. Harus ada tindakan berupa kegiatan, minimal ada pergerakan dari sekolah yang memberikan ruang bagi komite, paguyuban, juga alumni agar mereka merasa memiliki sekolah ini," pungkas Wantoro mengakhiri sesi pemaparannya dengan lugas.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama