Aja
Jagong Ning Lawang, Mbok Dilamar Balik
Oleh
Riswo Mulyadi
Orang
desa Jawa tidak selalu mendidik anak-anaknya dengan kitab tebal atau pidato
panjang. Mereka mendidik dengan kalimat-kalimat pendek yang lahir dari
kehidupan sehari-hari. Kadang terdengar lucu, kadang seperti gurauan, tetapi di
dalamnya tersimpan tata kehidupan yang telah berumur panjang.
Salah
satunya ialah ucapan yang sangat familiar pada masayarakat Banyumas: aja
jagong ning lawang, mbok dilamar balik.
Jangan
duduk di pintu, nanti dilamar balik.
Kalimat
itu biasa dilemparkan kepada anak perempuan yang duduk terlalu lama di ambang
pintu rumah. Orang-orang tua mengucapkannya sambil tertawa kecil, sambil
mengupas singkong atau membersihkan beras di tampah. Tetapi jangan kira ucapan
itu sekadar olok-olok kampung yang tidak berarti.
Masyarakat
desa memahami rumah bukan hanya tempat berteduh. Rumah adalah kehormatan
keluarga. Dan pintu adalah batas antara dunia dalam dan dunia luar. Karena itu
ada aturan tidak tertulis tentang bagaimana seseorang mesti bersikap di sana. Anak-anak
perempuan diajari menjaga diri bahkan dari cara duduknya.
Bukan
karena mereka dibenci. Justru karena masyarakat desa hidup dalam pengawasan
sosial yang ketat. Orang saling mengenal. Saling memperhatikan. Dan sering
kali, nasib seseorang ditentukan bukan hanya oleh kenyataan, tetapi juga oleh
omongan tetangga.
Pendidikan
kesopanan lahir dari hal-hal kecil.
Jangan
tertawa terlalu keras. Jangan pulang terlalu malam. Jangan duduk di pintu
terlalu lama.
Hari ini
orang mungkin akan menertawakan semua itu sebagai sesuatu yang kuno. Tetapi
orang-orang kota sering lupa: masyarakat desa membangun tata kehidupannya
dengan cara menjaga keseimbangan sosial. Mereka tidak punya hukum tertulis yang
rumit. Mereka punya rasa malu, rasa hormat, dan ketakutan akan hilangnya
martabat keluarga.
Teguran
disampaikan dengan gurauan.
Sebab
orang desa tahu, kata-kata yang terlalu keras dapat melukai hati lebih dalam
daripada rotan.
Kalimat mbok
dilamar balik sebenarnya lucu karena membalik kebiasaan lama. Dalam tradisi
Jawa, laki-laki yang melamar perempuan. Maka ancaman bercanda itu mengandung
ejekan halus: jangan terlalu membuka diri kepada dunia luar.
Tetapi
kehidupan selalu berubah. Hari ini anak-anak muda duduk di depan pintu bukan
lagi memandang jalan tanah atau menunggu pedagang lewat. Mereka menunduk
memandang telepon genggam. Dunia luar kini masuk melalui layar kecil di tangan
mereka.
Namun
satu hal tetap sama: manusia selalu hidup di tengah pandangan manusia lain.
Dan orang
desa, jauh sebelum para sarjana sosial menulis teori tentang masyarakat, telah
memahami bahwa kehidupan bersama membutuhkan tata krama agar manusia tidak
berubah menjadi makhluk yang kehilangan batas.
Karang Anjog, April 2026
Tentang Penulis:
Riswo Mulyadi, Guru Madrasah ndesa yang gemar membaca dan menulis.
Posting Komentar