Moralitas yang Kehilangan Malu

 


Moralitas yang Kehilangan Malu

Membaca Catatan Budaya Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja

https://www.infobanyumas.com/2026/05/bangsa-penuh-ajaran-jujur-kosong-dalam.html

Oleh; Riswo Mulyadi


Tulisan panjang Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja, “Bangsa Penuh Ajaran Jujur, Kosong dalam Laku”, sesungguhnya bukan sekadar artikel opini sosial. Ia lebih dekat kepada elegi kebudayaan: ratapan tentang bangsa yang terlalu kaya petuah, tetapi miskin keberanian moral untuk melaksanakannya.


Tulisan ini berdiri di satu kegelisahan besar: keterputusan antara ajaran dan tindakan.


Di sekolah anak-anak diajari kejujuran, di rumah mereka mendengar petuah tentang adab, di ruang agama mereka menghafal ayat tentang amanah. Tetapi ketika memasuki dunia nyata, mereka menyaksikan sesuatu yang bertolak belakang: kuasa lebih menentukan daripada kebenaran, kedekatan lebih berharga daripada kemampuan, dan prosedur sering kali hanya menjadi topeng bagi kepentingan.


Di titik inilah tulisan Trisnatun menjadi menarik.

Ia tidak berhenti pada kemarahan sesaat terhadap satu kasus lomba cerdas cermat. Ia menjadikan peristiwa itu sebagai pintu masuk untuk membaca watak budaya kita sendiri. Dan seperti banyak esai kebudayaan yang baik, tulisan ini bergerak dari peristiwa kecil menuju diagnosis peradaban yang lebih luas.


Ada gema pemikiran Mochtar Lubis dalam cara penulis memandang kemunafikan sosial bangsa ini. Ketika Trisnatun menyebut bahwa kita “bangga disebut religius tapi malu disebut jujur”, ia sebenarnya sedang menampar lapisan terdalam kebudayaan Indonesia modern: religiusitas yang berubah menjadi simbol publik, bukan laku etis sehari-hari.


Kalimat itu terasa pahit justru karena dekat dengan kenyataan.

Kita hidup di negeri yang penuh ceramah moral, tetapi miskin keteladanan moral. Kebenaran dirayakan dalam slogan, tetapi sering dikorbankan ketika bersentuhan dengan relasi kuasa. Maka tulisan ini menjadi penting karena ia berani mengatakan sesuatu yang sering kita sembunyikan rapat-rapat: bangsa ini sebenarnya tidak kekurangan nilai luhur, melainkan kekurangan rasa malu ketika mengkhianati nilai itu sendiri.


Di bagian paling kuat, Trisnatun melakukan sesuatu yang jarang dilakukan penulis opini populer hari ini: ia membawa warisan budaya Nusantara sebagai cermin moral. Dari Aceh hingga Papua, dari Bugis hingga Jawa, ia menunjukkan bahwa hampir semua kebudayaan lokal Indonesia menempatkan kejujuran sebagai inti kehormatan manusia.


Di sana kita melihat satu paradoks besar.

Bangsa ini secara kultural dibangun di atas ajaran tentang harga diri, rasa malu, dan kebenaran. Namun dalam praktik sosial-politik modern, semua itu perlahan kalah oleh budaya patronase dan feodalisme baru. Yang benar sering harus menunduk pada yang berkuasa. Yang jujur justru dianggap naif. Dan yang curang sering hanya disebut “pandai bermain keadaan”.


Tulisan ini menjadi semakin tajam ketika meminjam gagasan Michel Foucault tentang cara kerja kuasa. Bahwa kekuasaan tidak selalu hadir lewat kekerasan terbuka, melainkan melalui prosedur, legitimasi, dan aturan yang tampak resmi. Pembacaan ini membuat artikel Trisnatun melampaui sekadar keluhan emosional. Ia mulai memasuki wilayah kritik budaya.


Sebab yang sedang dipersoalkan bukan hanya satu lomba.

Melainkan cara sistem sosial kita diam-diam mendidik generasi muda untuk percaya bahwa “kebenaran bisa dinegosiasikan”.

Dan itu berbahaya.

Karena kerusakan moral bangsa memang jarang dimulai dari skandal besar. Ia tumbuh dari pembiasaan kecil: membiarkan manipulasi demi kenyamanan, diam terhadap ketidakadilan demi relasi, serta menertawakan kejujuran sebagai kelemahan.


Secara stilistika, tulisan ini bergerak dengan gaya retoris yang emosional dan langsung. Ada semangat moralistik yang kuat, kadang mendekati nada khotbah sosial. Ini sekaligus menjadi kekuatan dan kelemahannya.


Kekuatannya: tulisan terasa hidup, menggugah, dan mudah menyentuh pembaca umum. Penulis piawai memainkan repetisi dan antitesis:


“Kita tahu mana yang benar, tapi diam demi jabatan.
Kita paham mana yang adil, tapi memaklumi demi hubungan.”

Pola semacam ini membuat artikelnya memiliki ritme pidato kebudayaan yang kuat.


Namun di sisi lain, karena terlalu penuh amarah moral, beberapa bagian terasa sangat hitam-putih. Realitas sosial sesungguhnya lebih rumit daripada sekadar pertarungan antara “orang jujur” dan “orang curang”. Ada faktor struktural, ekonomi, pendidikan, bahkan ketakutan sosial yang membentuk perilaku masyarakat. Pada titik tertentu, tulisan ini kadang terdengar seperti vonis kolektif terhadap bangsa sendiri.


Tetapi mungkin justru di sanalah letak urgensinya.

Bangsa yang terlalu lama nyaman dengan kompromi moral memang kadang membutuhkan suara yang keras untuk membangunkannya.


Tulisan Trisnatun mengingatkan kita pada satu hal mendasar: kehancuran sebuah bangsa tidak selalu dimulai dari kemiskinan ekonomi atau kekalahan politik. Kadang ia dimulai ketika masyarakat tidak lagi merasa malu berbohong.


Ketika kebohongan menjadi kewajaran, dan kejujuran dianggap kebodohan, maka kebudayaan sedang kehilangan jantung etiknya.


Dan barangkali pertanyaan terbesar yang diajukan tulisan ini bukanlah tentang lomba cerdas cermat itu sendiri.

Melainkan ini:

masihkah bangsa ini percaya bahwa kebenaran layak diperjuangkan, meski tidak selalu menguntungkan?

Karang Anjog, 15 Mei 2026







Tentang Penulis:
Riswo Mulyadi, Guru Madrasah ndesa yang gemar membaca dan menulis.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama