Perangkat Desa dan Republik Kursi Plastik

 


Perangkat Desa dan Republik Kursi Plastik

Oleh: Riswo Mulyadi

Kalau kita berbicara tentang negara, orang biasanya membayangkan presiden, menteri, DPR, atau paling tidak gubernur yang wajahnya muncul di baliho lebih sering daripada harga cabai turun. Jarang ada yang teringat pada perangkat desa. Padahal, bagi rakyat kecil, negara itu sering bukan istana. Negara adalah balai desa dengan kursi plastik yang kakinya sedikit goyah.

 

Di situlah perangkat desa bekerja.

 

Mereka kadang datang pagi-pagi sebelum ayam selesai berunding dengan matahari. Membuka kantor, menyapu halaman, lalu mulai menghadapi berbagai persoalan manusia: surat kehilangan, surat kematian, bantuan sosial, pertengkaran warisan, sampai urusan warga yang merasa kambing tetangganya punya bakat mencuri daun singkong.

 

Jangan tertawa dulu. Republik ini memang sering berdiri di atas persoalan-persoalan kecil yang bila diurus dengan benar bisa membuat rakyat merasa dihargai sebagai manusia.

 

Sayangnya, perangkat desa sering hanya diingat ketika ada masalah. Kalau pelayanan lancar, orang diam. Tetapi kalau ada surat terlambat sedikit saja, perangkat desa bisa lebih terkenal daripada artis sinetron yang kawin tiga kali dalam setahun.

 

Padahal pekerjaan mereka tidak ringan. Mereka berada di tengah-tengah. Di atas ada aturan yang kadang berubah lebih cepat daripada cuaca. Di bawah ada rakyat yang ingin semuanya selesai hari itu juga. Belum lagi kalau musim politik datang. Desa mendadak berubah seperti panggung ketoprak: semua orang merasa paling benar, paling berjasa, dan paling layak menentukan masa depan.

 

Perangkat desa sering menjadi korban pertama dari keributan semacam itu.

 

Karena itu, menurut saya, perangkat desa membutuhkan dua hal: kesabaran dan humor. Tanpa kesabaran, mereka akan cepat marah menghadapi warga yang datang lima kali hanya untuk menanyakan surat yang sebenarnya belum lengkap. Tanpa humor, mereka akan cepat stres menghadapi situasi negeri yang kadang memang terasa seperti dagelan panjang tanpa jeda iklan.

 

Humor penting supaya manusia tidak merasa dirinya paling penting.

 

Saya pernah berpikir, mungkin Indonesia ini masih bertahan bukan karena sistemnya hebat, tetapi karena rakyat kecilnya masih punya kemampuan untuk tertawa di tengah kesulitan. Termasuk perangkat desa. Bayangkan kalau semua perangkat desa mudah tersinggung, mungkin setiap hari ada perang dunia kecil di kantor balai desa.

 

Tetapi tentu saja humor saja tidak cukup. Perangkat desa juga harus jujur. Sebab rakyat desa itu jangan diremehkan. Mereka mungkin tidak ramai di media sosial, tetapi mereka hafal siapa yang tulus membantu dan siapa yang hanya ramah kalau ada kepentingan.

 

Kadang ada orang yang begitu ingin menjadi perangkat desa seolah jabatan itu pintu menuju surga lengkap dengan parkiran pribadi. Setelah terpilih, yang berubah bukan pelayanan, melainkan gaya berjalan. Dulu naik motor butut sambil menyapa warga. Setelah menjabat, senyumnya ikut dikawal gengsi.

 

Padahal jabatan di desa itu amanah, bukan lomba pamer stempel.

 

Perangkat desa yang baik bukan yang paling pandai pidato. Yang dibutuhkan rakyat sederhana saja: mau mendengar, tidak mempersulit, dan tidak merasa lebih tinggi dari warga yang dilayani.

 

Sebab inti pemerintahan, dari pusat sampai desa, sebenarnya cuma satu: memanusiakan manusia.

 

Karang Anjog, 2026







Tentang Penulis:
Riswo Mulyadi, Guru Madrasah ndesa yang gemar membaca dan menulis.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama