Perangkat Desa dan Republik Kursi Plastik
Kalau kita berbicara tentang negara, orang biasanya membayangkan
presiden, menteri, DPR, atau paling tidak gubernur yang wajahnya muncul di
baliho lebih sering daripada harga cabai turun. Jarang ada yang teringat pada
perangkat desa. Padahal, bagi rakyat kecil, negara itu sering bukan istana.
Negara adalah balai desa dengan kursi plastik yang kakinya sedikit goyah.
Di situlah perangkat desa bekerja.
Mereka kadang datang pagi-pagi sebelum ayam selesai berunding
dengan matahari. Membuka kantor, menyapu halaman, lalu mulai menghadapi
berbagai persoalan manusia: surat kehilangan, surat kematian, bantuan sosial,
pertengkaran warisan, sampai urusan warga yang merasa kambing tetangganya punya
bakat mencuri daun singkong.
Jangan tertawa dulu. Republik ini memang sering berdiri di atas
persoalan-persoalan kecil yang bila diurus dengan benar bisa membuat rakyat
merasa dihargai sebagai manusia.
Sayangnya, perangkat desa sering hanya diingat ketika ada masalah.
Kalau pelayanan lancar, orang diam. Tetapi kalau ada surat terlambat sedikit
saja, perangkat desa bisa lebih terkenal daripada artis sinetron yang kawin
tiga kali dalam setahun.
Padahal pekerjaan mereka tidak ringan. Mereka berada di
tengah-tengah. Di atas ada aturan yang kadang berubah lebih cepat daripada
cuaca. Di bawah ada rakyat yang ingin semuanya selesai hari itu juga. Belum
lagi kalau musim politik datang. Desa mendadak berubah seperti panggung
ketoprak: semua orang merasa paling benar, paling berjasa, dan paling layak
menentukan masa depan.
Perangkat desa sering menjadi korban pertama dari keributan semacam
itu.
Karena itu, menurut saya, perangkat desa membutuhkan dua hal:
kesabaran dan humor. Tanpa kesabaran, mereka akan cepat marah menghadapi warga
yang datang lima kali hanya untuk menanyakan surat yang sebenarnya belum
lengkap. Tanpa humor, mereka akan cepat stres menghadapi situasi negeri yang
kadang memang terasa seperti dagelan panjang tanpa jeda iklan.
Humor penting supaya manusia tidak merasa dirinya paling penting.
Saya pernah berpikir, mungkin Indonesia ini masih bertahan bukan
karena sistemnya hebat, tetapi karena rakyat kecilnya masih punya kemampuan
untuk tertawa di tengah kesulitan. Termasuk perangkat desa. Bayangkan kalau
semua perangkat desa mudah tersinggung, mungkin setiap hari ada perang dunia
kecil di kantor balai desa.
Tetapi tentu saja humor saja tidak cukup. Perangkat desa juga harus
jujur. Sebab rakyat desa itu jangan diremehkan. Mereka mungkin tidak ramai di
media sosial, tetapi mereka hafal siapa yang tulus membantu dan siapa yang
hanya ramah kalau ada kepentingan.
Kadang ada orang yang begitu ingin menjadi perangkat desa seolah
jabatan itu pintu menuju surga lengkap dengan parkiran pribadi. Setelah
terpilih, yang berubah bukan pelayanan, melainkan gaya berjalan. Dulu naik
motor butut sambil menyapa warga. Setelah menjabat, senyumnya ikut dikawal
gengsi.
Padahal jabatan di desa itu amanah, bukan lomba pamer stempel.
Perangkat desa yang baik bukan yang paling pandai pidato. Yang
dibutuhkan rakyat sederhana saja: mau mendengar, tidak mempersulit, dan tidak
merasa lebih tinggi dari warga yang dilayani.
Sebab inti pemerintahan, dari pusat sampai desa, sebenarnya cuma
satu: memanusiakan manusia.
Karang Anjog, 2026
Tentang Penulis:
Riswo Mulyadi, Guru Madrasah ndesa yang gemar membaca dan menulis.
Posting Komentar