“Smart Gadget, Smart Future”: Telkom University Ajak Anak dan Remaja Desa Muntang Bijak Bermedia Digital dan Jauhi Narkoba”


PURBALINGGA - Suasana Balai Desa Muntang pada Minggu, 17 Mei 2026, dipenuhi semangat anak-anak dan remaja yang mengikuti kegiatan edukasi bertajuk Smart Gadget Smart Future. Program pengabdian masyarakat yang digagas mahasiswa Telkom University Purwokerto ini menghadirkan dua isu penting bagi generasi masa kini, yakni penggunaan gawai secara bijak dan kampanye pencegahan penyalahgunaan narkoba. Melalui kegiatan tersebut, peserta diajak memahami bahwa masa depan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan mengendalikan diri di tengah derasnya arus informasi.


Kegiatan diikuti peserta dari Posyandu Anak dan Remaja Desa Muntang yang tampak antusias sejak awal acara. Mereka memenuhi ruang balai desa untuk mengikuti sesi edukasi yang dikemas santai, interaktif, dan dekat dengan keseharian anak muda. Tidak sekadar seminar satu arah, kegiatan ini menghadirkan diskusi, tanya jawab, permainan edukatif, hingga sesi berbagi pengalaman yang membuat peserta aktif terlibat sepanjang acara.


“Kami ingin anak-anak dan remaja tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga memahami dampaknya bagi kehidupan mereka,” ujar Hanief Taqiyuddien Adz-Dzaky An-Naayif.


Sesi pertama diisi oleh Raden Aurel Aditya Kusumawaningyu yang membawakan materi tentang penggunaan gadget secara sehat. Ia menjelaskan bahwa gawai merupakan alat yang sangat bermanfaat apabila digunakan secara tepat. Namun, tanpa kontrol, perangkat digital justru dapat menjadi ancaman yang memengaruhi kesehatan mental, menurunkan produktivitas, dan menghambat interaksi sosial generasi muda.


Dalam paparannya, peserta diajak memahami pola penggunaan gadget yang sehat, mulai dari membatasi durasi layar, memilih konten edukatif, hingga memanfaatkan media digital untuk belajar, berkreasi, dan mengembangkan kemampuan diri. Anak-anak dan remaja juga diajak merefleksikan kebiasaan mereka sehari-hari, termasuk waktu bermain media sosial, menonton video, dan penggunaan ponsel sebelum tidur.



“Gadget bukan musuh, tetapi bagaimana cara kita menggunakannya yang menentukan masa depan kita. Anak muda harus mampu menjadi pengguna teknologi yang cerdas, produktif, dan tetap sehat secara mental maupun sosial,” jelas Aurel.


Sesi berikutnya menghadirkan edukasi anti narkoba yang disampaikan oleh Finsa Annisa. Dengan materi bertajuk “Narkoba No, Prestasi Yes”, ia mengingatkan bahwa ancaman narkoba kini tidak hanya menyasar orang dewasa, tetapi juga mulai masuk ke lingkungan remaja dan anak-anak. Penyebaran informasi melalui media sosial, lingkungan pergaulan, dan pengaruh teman sebaya menjadi tantangan nyata yang harus diantisipasi sejak dini.


Finsa menegaskan bahwa pendidikan pencegahan harus dimulai dari kesadaran individu. Ia mengajak peserta untuk mengenali bentuk-bentuk penyalahgunaan zat adiktif, dampaknya terhadap kesehatan, pendidikan, serta kehidupan sosial. Menurutnya, remaja perlu dibekali keberanian untuk menolak ajakan negatif dan fokus pada pencapaian yang membangun masa depan.


“Kita ingin anak-anak dan remaja di Desa Muntang memiliki keberanian untuk berkata tidak terhadap narkoba dan lebih fokus mengejar prestasi serta cita-cita mereka,” tegas Finsa.


Kegiatan ini menjadi bagian dari pengabdian masyarakat yang digerakkan mahasiswa Telkom University sebagai bentuk kepedulian terhadap isu sosial di pedesaan. Ketua kegiatan Hanief menjelaskan bahwa perkembangan teknologi yang sangat cepat perlu diimbangi dengan pendidikan karakter. Menurutnya, generasi muda saat ini hidup di tengah banjir informasi yang dapat memberi peluang besar sekaligus risiko yang serius apabila tidak dibarengi kemampuan memilah.


Kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat desa menjadi kekuatan utama dalam kegiatan tersebut. Hadir pula Naping yang mendukung penuh kegiatan edukatif ini. Ia menilai tema yang diangkat sangat relevan dengan tantangan yang dihadapi anak-anak desa saat ini, terutama meningkatnya penggunaan ponsel sejak usia dini dan pengaruh lingkungan sosial yang semakin terbuka.


“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai seminar semata, tetapi benar-benar memberi dampak nyata dalam pola pikir anak-anak dan remaja,” ungkap Hanief.



Sepanjang acara, suasana berlangsung akrab. Peserta tampak berani mengajukan pertanyaan, menceritakan pengalaman mereka dalam menggunakan media sosial, hingga menyampaikan pandangan tentang pergaulan di lingkungan sekitar. Diskusi tersebut menunjukkan bahwa anak-anak dan remaja sebenarnya memiliki kesadaran, namun masih membutuhkan ruang dialog agar dapat memahami risiko secara lebih mendalam.


Pihak Posyandu Anak dan Remaja Desa Muntang menyebut kegiatan ini menjadi salah satu upaya preventif yang penting. Selain memberikan pengetahuan, kegiatan juga membangun kedekatan emosional antara mahasiswa dan masyarakat. Edukasi yang disampaikan dengan bahasa sederhana membuat materi lebih mudah dipahami dan diingat oleh peserta.


“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini karena memberikan bekal yang sangat dibutuhkan anak-anak dan remaja saat ini,” kata Ibu Naping.


Di tengah perubahan zaman yang serba digital, Desa Muntang menunjukkan bahwa membangun generasi unggul tidak hanya dilakukan melalui pendidikan formal, tetapi juga melalui ruang-ruang edukasi masyarakat. Kegiatan ini menjadi contoh bahwa literasi digital dan pencegahan narkoba dapat dikemas menarik, menyenangkan, sekaligus bermakna bagi anak muda.



Bagi Telkom University, kegiatan ini adalah bagian dari tanggung jawab perguruan tinggi untuk hadir di tengah masyarakat. Pengabdian tidak berhenti pada transfer ilmu, tetapi membangun kesadaran kolektif agar generasi muda mampu menghadapi tantangan masa depan dengan bekal pengetahuan dan karakter yang kuat.


“Anak-anak desa memiliki potensi besar. Jika mereka dibekali pemahaman yang baik, mereka akan mampu tumbuh menjadi generasi cerdas, tangguh, dan berprestasi,” tutup salah satu mahasiswa peserta kegiatan.


Melalui Smart Gadget Smart Future, Desa Muntang tidak hanya menjadi lokasi kegiatan pengabdian, tetapi ruang lahirnya harapan baru. Dari balai desa sederhana itu, pesan penting disampaikan kepada generasi muda: teknologi bisa menjadi jembatan menuju masa depan gemilang, tetapi hanya bagi mereka yang mampu menggunakannya dengan bijak dan menjauhi jalan yang merusak masa depan.


Kontributor: Dasril Aldo

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama