Catatan Akhir Tahun: Antara Administrasi dan Kemerdekaan yang Masih Dicari
Oleh : Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja
Setiap akhir tahun pelajaran, dua peristiwa berjalan
beriringan. Di satu sisi, satu angkatan murid berpamitan usai mengikuti
perjalanan belajar setahun penuh. Di sisi lain, gerbang sekolah kembali dibuka
lebar menyambut calon murid baru lewat Seleksi Penerimaan Murid Baru.
Di atas kertas, inilah masa libur. Waktu untuk berhenti
sejenak, menarik napas panjang, dan mempersiapkan tenaga untuk lembaran baru.
Namun bagi banyak guru, kata "libur" sering kali hanya berubah label,
bukan makna.
Di pagi hari yang seharusnya terasa santai, saat keluarga
lain berencana berwisata atau sekadar bersantai di rumah, seorang guru tetap
menggenggam ponselnya. Bukan untuk melihat foto liburan, melainkan membuka
aplikasi kehadiran. Kamera diaktifkan, wajah difoto, lokasi diverifikasi. Hanya
setelah sistem memberi tanda centang, harinya bisa dimulai.
Maka muncul pertanyaan sederhana yang sesungguhnya menusuk:
jika tugas utama guru adalah mendidik dan membimbing akal budi, mengapa ukuran
pengabdiannya masih sering berhenti pada soal hadir atau tidak hadir?
Barangkali kita memang hidup di zaman di mana kertas dan
layar lebih mudah memahami angka daripada memahami manusia. Surat keterangan
libur tertulis rapi di atas kertas. Aturan kehadiran disusun pasal demi pasal.
Laporan kinerja disusun dalam tabel-tabel rapi. Bahkan setelah kertas berganti
menjadi tampilan digital, sifatnya tetap sama: ia hanya mengenali tanda
centang, bukan makna di baliknya.
Padahal, inti kerja guru justru jarang bisa ditangkap oleh
mesin absensi.
Mesin tidak dapat merekam waktu yang diluangkan guru untuk
menenangkan murid yang kehilangan semangat.
Mesin tidak bisa menghitung kegelisahan seorang wali kelas
ketika melihat muridnya berubah pendiam.
Mesin pun tidak mampu mencatat malam-malam yang dihabiskan
untuk merenungkan cara mengajar yang lebih menyentuh hati.
Namun justru hal-hal yang tak terlihat itulah yang menjadi
napas pendidikan. Ironisnya, hal yang paling mudah diukur sering kali bukanlah
hal yang paling penting.
Di ruang guru, lahirlah istilah yang terdengar lucu
sekaligus pahit: "pengangguran tersamar". Bukan karena guru tidak mau
bekerja justru sebaliknya. Mereka hadir di sekolah meski tidak ada murid yang
dibimbing, tidak ada pelajaran yang disampaikan, dan tidak ada tugas mendesak
yang harus diselesaikan di tempat. Mereka duduk, menunggu, lalu pulang. Semua
berjalan sesuai aturan. Tidak ada yang salah secara prosedural. Namun
pertanyaan tetap menggantung: apakah kehadiran fisik selalu identik dengan
kualitas kerja?
Jika seorang guru membaca buku di rumah demi memperkaya
wawasan mengajarnya, apakah itu kurang berharga dibandingkan duduk berjam-jam
tanpa tujuan jelas? Jika ia menyusun bahan ajar atau melakukan riset sederhana
dari rumah, apakah nilainya lebih rendah dibanding sekadar mengisi kursi agar
tercatat hadir? Pertanyaan ini jarang mendapat jawaban yang memuaskan.
Ini semakin ironis ketika kita ingat: di era ini, pendidikan
begitu gemar berbicara tentang kreativitas, inovasi, dan kemerdekaan belajar.
Spanduk sekolah bertuliskan besar semangat "Merdeka Belajar".
Pelatihan berulang kali menekankan pentingnya pembelajaran yang berpusat pada
murid. Seminar mengagungkan nilai berpikir kritis. Namun dalam praktiknya, guru
masih sering diminta membuktikan dedikasi lewat hal-hal administratif semata.
Seolah-olah kepercayaan terhadap profesionalisme masih menjadi barang langka
yang sulit diberikan.
Padahal, kreativitas hanya tumbuh di ruang yang memberi
kepercayaan. Guru yang dipercaya akan berusaha mencari cara terbaik untuk
mendidik. Guru yang terlalu diawasi dan dibatasi hanya akan sibuk mencari cara
agar tidak dianggap melanggar aturan. Bedanya sangat jelas: yang satu
melahirkan inovasi, yang lain hanya melahirkan kepatuhan.
Di saat yang sama, sekolah sibuk menyambut murid baru.
Baliho dipasang megah. Media sosial diisi unggahan prestasi. Video promosi
dibuat semenarik mungkin. Semua wajar dilakukan, agar orang tua tahu sekolah
berusaha memberikan yang terbaik. Namun ada satu pertanyaan penting yang perlu
direnungkan: setelah murid diterima, apakah mereka akan masuk ke lingkungan
yang benar-benar memberi ruang tumbuh bagi seluruh warganya termasuk gurunya?
Karena kualitas pendidikan tidak lahir dari baliho yang
indah atau slogan yang menggelegar. Ia tumbuh dari guru yang bersemangat, ruang
kerja yang sehat, budaya saling percaya, dan aturan yang dibuat untuk melayani
manusia, bukan sebaliknya.
Maka saat libur tiba, yang dibutuhkan bukan sekadar jeda di
kalender. Yang lebih penting adalah jeda untuk merenung: Sudah cukupkah kita
memberi kepercayaan kepada guru? Apakah energi mereka lebih banyak tercurah
untuk memikirkan murid, atau sekadar melengkapi dokumen? Dan apakah semangat
"Merdeka Belajar" sudah benar-benar terasa di ruang guru dan kelas,
atau hanya berhenti sebagai kata-kata di atas panggung?
Tahun pelajaran boleh berganti. Seleksi murid baru boleh
selesai. Spanduk boleh diganti dengan yang baru. Namun pekerjaan rumah
pendidikan Indonesia tampaknya tetap sama: mencari cara agar kemerdekaan tidak
sekadar menjadi retorika.
Karena guru yang merasa merdeka berpikir, dihargai
martabatnya, dan dipercaya kemampuannya, akan jauh lebih mampu melahirkan murid
yang juga merdeka dalam belajar. Barangkali, dari situlah pendidikan yang
sesungguhnya baru dimulai.
Yogyakarta, 23 Juni 2026
Tentang Penulis:
Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja adalah seorang guru IPA SMP di Banyumas, dan menulis esai reflektif mengaitkan sains, budaya, dan spiritualitas dalam narasi pendidikan humanistik. Ia percaya bahwa belajar bukan hanya tentang logika, tetapi juga tentang energi yang menghubungkan hati manusia
Posting Komentar