Di Negeri yang Sedang Batuk‑batuk
Oleh: Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja
Konon resep hidup sehat sangat sederhana dan mudah dihafal.
Jangan mudah marah. Rajin berjalan kaki. Banyak
tersenyum. Rajin berpuasa. Jangan memelihara iri hati maupun dendam. Sering
bersedekah dan rajin berdoa.
Nasihat itu benar, bahkan didukung ilmu pengetahuan. Dokter
setuju, pendidik setuju, pemuka agama setuju, dan para pembicara semangat
mengulanginya di mana‑mana.
Hanya satu hal yang jarang diajak berunding: dompet.
Seolah‑olah nasihat itu lahir dari dunia yang tak
bersinggungan dengan harga beras, kenaikan tarif listrik, ongkos sekolah, atau
penghasilan yang berjalan lambat bagai siput. Di dunia nyata, dompet sering
menyela pelan namun tegas: “Mohon maaf, semua itu indah sekali… tapi saya
sedang kosong.”
Maka kita pun mulai membaca satu per satu resep itu dengan
kacamata kejujuran:
Dikatakan jangan mudah marah.
Baiklah. Tetapi bagaimana tidak mudah panas hati jika
berbulan‑bulan melamar kerja tak mendapat jawaban? Jika harga kebutuhan pokok
naik secepat layang‑layang putus, sementara pendapatan diam saja? Marah dalam
keadaan demikian bukan sifat buruk, melainkan gejala tekanan hidup.
Dikatakan rajin berjalan kaki.
Memang sehat. Namun apakah jalannya aman, rata, dan
terjangkau? Sebelum sampai tempat nyaman berjalan, kita harus membayar
kendaraan dulu. Sepatu pun tak turun dari langit. Bagi yang setiap hari
melangkah dari satu pintu lamaran ke pintu lain, berjalan kaki menjadi lelah
bukan karena olahraga, melainkan karena harapan yang makin menipis.
Dikatakan rajin berpuasa.
Sangat baik bagi jiwa dan raga. Namun bedakanlah: puasa
karena ibadah bernilai pahala, sedangkan puasa karena tak mampu membeli makanan
adalah tanda ketimpangan. Ada yang menyebut ini kebiasaan baik padahal banyak
warga justru berpuasa terpaksa karena isi dompet sedang menjalankan “sunah
kosong”.
Dikatakan makan bergizi.
Sering pula terdengar pujian: rakyat baru rutin makan telur
dan ayam setelah adanya program tertentu. Ironisnya, di negeri agraris ini,
ayam dan telur kadang lebih sering tampil di baliho daripada di meja makan
petani. Sawah subur, laut kaya, kandang penuh namun grafik laporan lebih
sering kenyang daripada rakyat yang bekerja.
Dikatakan banyak bersedekah.
Indah dan mulia. Namun sedekah tak boleh menggantikan tugas
negara mewujudkan keadilan. Orang lapar tak selamanya menginginkan diberi ikan
saja; ia ingin lautnya tak dipagar sembarangan, jaringnya tak disobek, bahan
bakar terjangkau, dan hasil panen tak dibeli murah lalu dijual berlipat ganda.
Dikatakan hilangkan iri hati dan dendam.
Sulit dilaksanakan jika setiap hari mata disuguhi kemewahan
tak seimbang, sementara di meja sendiri masih terhitung butiran beras dan
batang gas tiga kilogram. Apakah rasa itu muncul karena sifat buruk, atau
karena ketimpangan yang terus dipamerkan?
Dikatakan senyum itu gratis.
Benar. Namun mempertahankan senyum tetap butuh ketenangan
yang tak terpisahkan dari kenyataan hidup. Saat anak meminta uang sekolah,
tagihan berderet, dan obat mahal — senyum tetap bisa ada, tapi terasa berat.
Dan akhirnya, saat sakit datang?
Di sanalah rahasia terbuka paling jelas. Mulai dari
perjalanan ke puskesmas, biaya pemeriksaan, obat‑obatan hingga rawat inap.
Syukurlah ada jaminan kesehatan yang meringankan, namun masih ada bagian yang
tak tertutup sepenuhnya.
Uang tak bisa membeli kesehatan mutlak. Memang benar.
Namun jangan pula kita berpura‑pura buta: hampir setiap
jalan menuju kesehatan melewati loket yang bertuliskan: “Silakan bayar lebih
dulu.”
Kemiskinan adalah musuh utama kesehatan. Ia melahirkan stres
berkepanjangan, membatasi akses gizi baik, menunda pemeriksaan, dan merampas
tidur nyenyak. Jangan mudah menuduh orang miskin kurang bersyukur; mungkin
mereka justru paling pandai bersyukur, hanya saja rasa syukur tak cukup untuk
melunasi tagihan.
Sebaliknya, jangan keliru mengira kekayaan jaminan
kesejahteraan sepenuhnya. Uang bisa membeli kasur empuk, bukan tidur nyenyak;
obat mahal, bukan ketenangan hati; rumah megah, bukan kehangatan keluarga.
Di negeri ini, seolah‑olah uang tahu jalan menuju dompet
yang sudah berisi saja. Sementara yang bekerja keras setiap hari justru kerap
ditunggu rezekinya di jalan yang berlubang dan panjang.
Padahal tanah kita subur, laut luas, gunung hijau, dan
rakyat rajin. Bukan rezeki Tuhan yang seret, melainkan jalan agar rezeki itu
sampai secara adil.
Maka pesan yang paling mendasar adalah:
Jangan hanya mengajarkan rakyat cara menjaga tubuh sehat.
Ajarkan juga negara cara menyehatkan kehidupan.
Kesehatan bukan sekadar kadar gula atau kolesterol.
Kesehatan berarti harga pangan yang masuk akal.
Berarti lapangan kerja tersedia.
Berarti upah yang layak.
Berarti pendidikan yang membuka jalan masa depan.
Berarti pemimpin yang lebih banyak mendengar daripada
berbicara.
Jika perut tenang, harga ramah, pekerjaan ada, dan keadilan
terasa nyata…
percayalah: senyum tak perlu diajarkan lagi.
Ia akan tumbuh sendiri - sealami bulir padi menguning,
setulus anak kecil pulang sekolah membawa sebutir telur dan berkata sederhana
kepada ibunya:
“Bu… hari ini kita makan enak.”
Semoga suatu hari nanti, kalimat itu bukan lagi berita
istimewa.
Melainkan kebiasaan yang merata di seluruh penjuru negeri
ini.
Ajibarang, 7 Juli 2026
Tentang Penulis:
Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja adalah seorang guru IPA SMP di Banyumas, dan menulis esai reflektif mengaitkan sains, budaya, dan spiritualitas dalam narasi pendidikan humanistik. Ia percaya bahwa belajar bukan hanya tentang logika, tetapi juga tentang energi yang menghubungkan hati manusia
Posting Komentar