SOKARAJA, BANYUMAS - Berawal dari hanya empat anak yang membutuhkan tempat mengaji, sebuah ikhtiar sederhana di Kedungwuluh, RT 03 RW 04, Sokaraja, Banyumas, perlahan tumbuh menjadi lembaga pendidikan Al-Qur’an yang kini diikuti 25 santri. Inisiasi dan pembentukan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) berbasis masyarakat yang digagas melalui pendampingan Balqis Nur Fayza, mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir sekaligus mahasiswa KKN Responsif UIN Saizu Purwokerto, sejak 18 Juli 2026 tersebut menjadi jawaban atas kebutuhan warga terhadap tempat belajar agama yang dekat, terstruktur, dan dapat diakses anak-anak usia dini hingga lanjutan. Perkembangan jumlah santri itu sekaligus memperlihatkan besarnya antusiasme masyarakat terhadap pendidikan keagamaan yang hadir dari lingkungan mereka sendiri.
Gagasan pembentukan TPQ berangkat dari kondisi warga yang selama ini mengalami kesulitan mencari tempat mengaji yang lokasinya dekat dan memiliki pola pembelajaran terstruktur bagi anak-anak. Melihat kebutuhan tersebut, inisiasi tidak berhenti pada sekadar membuka kegiatan mengaji, tetapi diarahkan menjadi sebuah lembaga yang memiliki metode pembelajaran, rancangan kurikulum, serta pelaksanaan kegiatan yang lebih terarah. Anak-anak usia dini hingga usia lanjutan mendapatkan ruang untuk belajar membaca Al-Qur’an dan memperkuat pendidikan agama sejak usia mereka. Kehadiran TPQ di tengah masyarakat juga memberikan kesempatan kepada orang tua untuk lebih mudah mendampingi dan mengawasi proses pendidikan keagamaan anak-anak mereka tanpa harus mencari tempat belajar yang jauh dari lingkungan tempat tinggal.
Balqis Nur Fayza menjelaskan bahwa proses membangun TPQ tersebut dilakukan secara bertahap, mulai dari membuka lembaga, menentukan metode pembelajaran, menyusun gagasan kurikulum, hingga melaksanakan kegiatan belajar bersama para santri. Menurutnya, perkembangan jumlah peserta dari empat santri menjadi 25 santri menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap pendidikan Al-Qur’an di lingkungan tersebut cukup besar.
“Alhamdulillah, per hari ini dari empat santri awal sudah menjadi 25 santri. Mulai dari membuka lembaga, menentukan metode, ide kurikulum, pelaksanaan, dan ini sedang proses data ke Kemenag,” ujar Balqis.
Perkembangan tersebut menjadi dorongan tersendiri agar pengelolaan TPQ terus diperkuat sehingga keberadaannya dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi anak-anak dan masyarakat sekitar.
Pertumbuhan jumlah santri dalam waktu relatif singkat juga menunjukkan bahwa masyarakat tidak sekadar menjadi penerima program, tetapi memiliki peran penting dalam keberlangsungan lembaga. Anak-anak hadir sebagai peserta belajar, sementara masyarakat menjadi bagian dari lingkungan yang mendukung tumbuhnya kegiatan pendidikan Al-Qur’an. Konsep berbasis masyarakat membuat TPQ tidak berdiri sebagai lembaga yang terpisah dari kehidupan warga, melainkan tumbuh dari kebutuhan dan kepedulian lingkungan itu sendiri. Dengan demikian, kegiatan mengaji dapat menjadi bagian dari rutinitas sosial sekaligus sarana mempererat hubungan antarwarga melalui kepedulian bersama terhadap pendidikan dan pembentukan karakter generasi muda.
Dalam pelaksanaannya, perhatian tidak hanya diarahkan pada kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi juga pada pembentukan kebiasaan religius anak sejak dini. Penyusunan metode dan gagasan kurikulum menjadi bagian penting agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara terarah sesuai kebutuhan santri. Tahapan tersebut juga menjadi proses belajar bagi pengelola untuk menemukan pola pendidikan yang sesuai dengan kondisi masyarakat setempat. Di tengah perkembangan jumlah santri, pengelolaan administrasi dan kelembagaan juga mulai diperkuat melalui proses pendataan ke Kementerian Agama. Langkah tersebut menunjukkan adanya upaya untuk membawa TPQ dari sebuah kegiatan mengaji sederhana menuju lembaga pendidikan keagamaan masyarakat yang lebih tertata.
Bagi anak-anak di Kedungwuluh, kehadiran TPQ memberikan ruang baru untuk belajar dan bertumbuh dalam suasana yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari. Pendidikan agama yang berlangsung di lingkungan sendiri diharapkan mampu membangun kecintaan terhadap Al-Qur’an sekaligus menanamkan nilai-nilai kebaikan, kedisiplinan, tanggung jawab, dan akhlak sejak usia dini. Sementara bagi masyarakat, keberadaan lembaga tersebut menjadi investasi sosial jangka panjang. Sebab, pendidikan keagamaan bukan hanya berkaitan dengan kemampuan membaca kitab suci, tetapi juga menjadi salah satu fondasi dalam membentuk perilaku dan karakter anak ketika mereka tumbuh di tengah keluarga dan lingkungan sosialnya.
Perjalanan TPQ berbasis masyarakat di Kedungwuluh akhirnya menjadi kisah tentang bagaimana sebuah kebutuhan sederhana dapat berubah menjadi gerakan pendidikan yang terus berkembang. Dari empat santri, kini 25 anak telah bergabung dan mendapatkan ruang belajar agama di lingkungan mereka sendiri. Proses pembentukan lembaga, penyusunan metode, pengembangan gagasan kurikulum, pelaksanaan pembelajaran, hingga proses pendataan ke Kementerian Agama menjadi tahapan yang masih terus berjalan. Empat santri menjadi awal, 25 santri menjadi tanda bahwa harapan itu tumbuh. Dari sebuah tempat mengaji sederhana, masyarakat sedang menyalakan cahaya pendidikan Al-Qur’an yang diharapkan terus menerangi generasi berikutnya.
Kontributor: Balqis Nur Fayza
Posting Komentar