DARI PENYINTAS MENJADI PENGGERAK: MAHASISWA KKN UIN SAIZU DAN PUSKESMAS PURBALINGGA DOBRAK STIGMA TBC LEWAT MEDIA DIGITAL



PURBALINGGA - Perjuangan melawan Tuberkulosis (TBC) ternyata tidak selesai ketika seseorang dinyatakan sembuh. Di balik keberhasilan pengobatan, masih terdapat persoalan sosial berupa stigma, ketakutan, dan pandangan negatif yang dapat membuat pasien maupun mantan pasien merasa terasing dari lingkungan. Persoalan tersebut menjadi perhatian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Responsif UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto melalui kolaborasi bersama Puskesmas Purbalingga dalam program OBAMA (Obrolan Bersama Puskesmas Purbalingga), Sabtu (18/7/2026). Kegiatan dikemas melalui siaran langsung di platform TikTok dan Instagram dengan menghadirkan perspektif mantan pasien TBC sebagai narasumber. Pendekatan tersebut menjadi langkah edukatif untuk mengajak masyarakat memahami TBC secara lebih manusiawi sekaligus mengubah stigma menjadi dukungan dan kepedulian.


Kegiatan edukasi tersebut berangkat dari kenyataan bahwa kurangnya informasi mengenai TBC dapat memunculkan kesalahpahaman di tengah masyarakat. Ketakutan terhadap penularan, pemahaman yang keliru mengenai proses pengobatan, maupun anggapan bahwa seseorang yang pernah menderita TBC harus dijauhi dapat menjadi beban tambahan bagi pasien. Karena itu, edukasi tidak hanya diarahkan pada aspek kesehatan, tetapi juga pada dimensi sosial yang menyertai perjalanan pasien. Kolaborasi mahasiswa KKN Responsif dengan Puskesmas Purbalingga menjadi upaya untuk menghadirkan informasi yang lebih mudah diterima masyarakat melalui media yang sehari-hari mereka gunakan. TikTok dan Instagram dipilih sebagai ruang penyampaian pesan karena memungkinkan komunikasi berlangsung lebih interaktif, ringan, dan menjangkau audiens yang lebih luas, khususnya generasi muda.


Kehadiran mahasiswa KKN yang merupakan mantan pasien TBC memberikan kekuatan tersendiri dalam kegiatan tersebut. Pengalaman personal yang pernah melalui proses menghadapi penyakit, menjalani pengobatan hingga kembali beraktivitas normal di tengah masyarakat menjadi pesan nyata bahwa TBC bukanlah akhir kehidupan dan bukan pula alasan seseorang kehilangan hak untuk hidup secara wajar. Dalam dialog OBAMA, pengalaman tersebut digunakan untuk membangun perspektif bahwa di balik status sebagai pasien terdapat manusia yang memiliki keluarga, cita-cita, pekerjaan, harapan, dan masa depan. 


“TBC bukanlah akhir dari kehidupan dan bukan pula sebuah aib. Yang dibutuhkan oleh seseorang yang sedang menjalani pengobatan bukanlah dijauhi, melainkan diberikan dukungan, pemahaman, dan kesempatan untuk tetap menjalani kehidupan seperti biasa,” menjadi pesan utama yang disampaikan dalam kegiatan tersebut. 


Pesan itu sekaligus mengajak masyarakat melihat persoalan TBC bukan semata dari sisi penyakit, tetapi juga dari sisi kemanusiaan.


Upaya menghapus stigma kemudian diperkuat dengan pemahaman bahwa masyarakat memiliki posisi penting dalam mendukung proses pemulihan pasien. Dukungan keluarga, teman, dan lingkungan sosial dapat memberikan kekuatan psikologis bagi seseorang yang sedang menjalani pengobatan. Sebaliknya, perlakuan diskriminatif dapat membuat pasien merasa malu, takut terbuka, bahkan menarik diri dari lingkungan. Karena itu, informasi yang benar menjadi salah satu kunci untuk membangun lingkungan sosial yang lebih sehat. Semakin baik masyarakat memahami TBC, semakin besar peluang tumbuhnya sikap yang tidak diskriminatif. Edukasi juga menjadi penting agar masyarakat mampu membedakan antara kewaspadaan terhadap penyakit dengan tindakan mengucilkan orang yang pernah mengalaminya. Pesan tersebut menjadi semakin kuat karena disampaikan melalui pengalaman langsung seorang penyintas yang pernah berada dalam posisi sebagai pasien.


Pemanfaatan media digital juga menjadi bagian penting dari strategi edukasi mahasiswa KKN Responsif UIN Saizu. Jika penyuluhan konvensional sering kali hanya menjangkau masyarakat yang hadir secara langsung, siaran melalui TikTok dan Instagram memungkinkan informasi terus menjangkau masyarakat yang lebih luas. Format obrolan membuat topik stigma TBC dapat dibicarakan secara komunikatif tanpa kehilangan substansi edukasi. Kolaborasi bersama Puskesmas Purbalingga menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya berperan sebagai pelaksana program pengabdian, tetapi juga berusaha menjadi penghubung antara pengetahuan kesehatan dan masyarakat. Melalui media digital, pesan mengenai pentingnya memberikan dukungan kepada pasien dan mantan pasien TBC dapat disebarluaskan secara lebih cepat serta berpotensi diteruskan kembali oleh masyarakat kepada keluarga dan lingkungan masing-masing.


Edukasi tidak berhenti pada siaran langsung. Sebagai bentuk keberlanjutan pesan, mahasiswa KKN juga membuat poster digital mengenai stigma TBC yang dapat disebarluaskan melalui media sosial. Media visual tersebut dirancang untuk menyampaikan pesan secara singkat, mudah dipahami, dan mudah dibagikan kembali. Salah satu pesan yang ingin ditekankan adalah bahwa masyarakat tidak seharusnya menjadikan TBC sebagai alasan untuk menjauh dari seseorang. “Jangan jadikan TBC sebagai alasan untuk menjauh. Jadikan kepedulian sebagai langkah untuk menguatkan,” menjadi semangat yang dirangkum dalam edukasi tersebut. Kehadiran poster digital diharapkan memperpanjang jangkauan kegiatan karena pesan dapat terus dibaca dan dibagikan meskipun pelaksanaan siaran langsung telah berakhir. Dengan demikian, pengalaman seorang penyintas tidak berhenti sebagai cerita pribadi, tetapi berkembang menjadi sumber pembelajaran dan gerakan kepedulian bagi masyarakat.


Kolaborasi KKN Responsif UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto bersama Puskesmas Purbalingga melalui program OBAMA pada akhirnya membawa pesan bahwa perang melawan TBC membutuhkan lebih dari sekadar pengobatan medis. Diperlukan pula keberanian untuk melawan stigma, membenahi informasi yang keliru, serta membangun lingkungan sosial yang mampu memberikan dukungan kepada pasien dan mantan pasien. Pengalaman mantan pasien yang dibagikan melalui media digital menjadi bukti bahwa seseorang dapat bangkit, menyelesaikan pengobatan, dan kembali menjalani kehidupan secara normal. Dari seorang penyintas yang memilih berbicara, lahir pesan untuk menguatkan mereka yang sedang berjuang; dari sebuah obrolan digital, tumbuh harapan agar masyarakat tidak lagi melihat TBC sebagai aib. Melalui langkah sederhana tersebut, mahasiswa KKN dan Puskesmas Purbalingga berupaya menggeser cara pandang masyarakat: dari stigma menuju empati, dari ketakutan menuju pemahaman, dan dari menjauh menuju kepedulian.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama