MENJELANG KHATAMAN, SANTRI TPQ AL-HIKMAH SUMAMPIR TEMPA HAFALAN DAN TAJWID, PENDAMPINGAN JADI PENGUAT LANGKAH


PURWOKERTO - Menjelang pelaksanaan Khataman Al-Qur’an yang dijadwalkan berlangsung pada 19 September 2026, para santri TPQ Al-Hikmah Sumampir, Kelurahan Sumampir, Purwokerto Utara, terus memantapkan persiapan melalui latihan intensif hafalan Al-Qur’an, tajwid, dan bacaan Gharib. Persiapan yang telah dimulai sejak 1 Agustus tersebut mendapat pendampingan dari Bagus Hidayatullah, mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam sekaligus mahasiswa KKN Responsif UIN Saizu Purwokerto, bersama pengasuh TPQ Ustadz Nugroho dan Ustadzah Lie. Kegiatan pendampingan yang berlangsung Selasa (25/8/2026) itu menyasar santri usia 4 hingga 18 tahun dan diarahkan untuk meningkatkan kelancaran membaca, memantapkan hafalan, serta memastikan setiap santri mampu menerapkan kaidah tajwid dan membaca bacaan Gharib secara tepat. Pendampingan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kesiapan mental dan kemampuan santri agar dapat mengikuti prosesi khataman dengan lancar dan penuh percaya diri.


Proses persiapan dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Para santri mendapatkan kesempatan untuk mengulang hafalan, memperbaiki pelafalan, serta memperdalam penerapan hukum-hukum tajwid dalam bacaan Al-Qur’an. Latihan juga diarahkan pada bacaan Gharib yang membutuhkan ketelitian karena terdapat cara membaca tertentu yang perlu dipahami dan dipraktikkan dengan benar. Dalam proses tersebut, pendampingan menjadi sarana untuk memberikan penguatan kepada santri yang masih mengalami kesulitan sekaligus menjaga kemampuan mereka yang telah menguasai materi. Perbedaan usia santri, mulai dari anak usia dini hingga remaja, membuat proses pembelajaran membutuhkan pendekatan yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Suasana latihan pun dibangun agar tetap nyaman sehingga santri dapat belajar tanpa merasa terbebani oleh target khataman yang semakin dekat.


Bagus Hidayatullah mengatakan bahwa pendampingan dilakukan untuk membantu para santri lebih siap menghadapi khataman, terutama dalam aspek hafalan, kelancaran bacaan, dan penerapan tajwid. Menurutnya, persiapan tidak cukup hanya dengan menghafalkan materi, tetapi perlu disertai latihan membaca secara berulang agar santri semakin terbiasa dan percaya diri ketika tampil. 


“Pendampingan ini menjadi bagian dari ikhtiar untuk membantu anak-anak memantapkan hafalan dan bacaan mereka. Dengan latihan yang dilakukan secara rutin, diharapkan mereka semakin lancar, memahami tajwid, serta mampu membaca bacaan Gharib dengan tepat saat pelaksanaan khataman,” ujar Bagus. 


Ia menilai proses belajar yang konsisten akan membantu santri mengenali kesalahan sekaligus memperbaikinya sebelum pelaksanaan kegiatan.


Selain aspek teknis membaca Al-Qur’an, latihan juga menjadi ruang pembentukan sikap bagi para santri. Mereka dibiasakan untuk tekun mengulang hafalan, bersabar ketika menemukan kesulitan, serta berani membaca di hadapan pengasuh dan teman-temannya. Kebiasaan tersebut secara tidak langsung melatih kedisiplinan dan rasa percaya diri. Bagi santri usia dini, proses latihan menjadi pengalaman untuk mengenal Al-Qur’an melalui kegiatan yang dilakukan secara berulang dan menyenangkan. Sementara bagi santri yang lebih besar, persiapan diarahkan agar mereka semakin matang dalam menguasai hafalan dan kaidah bacaan. Peran pengasuh TPQ menjadi penting dalam memastikan latihan tetap berjalan terarah sekaligus memberikan koreksi terhadap bacaan yang masih perlu diperbaiki.


Ustadz Nugroho selaku pengasuh TPQ Al-Hikmah Sumampir turut memberikan perhatian terhadap kesiapan para santri menjelang khataman. Menurutnya, proses persiapan yang dilakukan sejak awal Agustus merupakan bagian dari pembiasaan agar anak-anak tidak hanya mengejar kelancaran ketika mendekati acara, tetapi benar-benar memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an yang baik. Pendampingan dari mahasiswa KKN Responsif juga menjadi tambahan energi dalam proses latihan karena memberikan perhatian dan kesempatan belajar lebih intensif kepada para santri. Kehadiran pendamping diharapkan dapat membantu menciptakan suasana latihan yang lebih dinamis, sementara Ustadzah Lie turut mendampingi proses pembelajaran dan memberikan penguatan sesuai kebutuhan para santri. Kolaborasi tersebut menjadi bentuk kepedulian bersama terhadap keberhasilan pendidikan Al-Qur’an di lingkungan masyarakat.


Ustadzah Lie juga memiliki peran dalam mendampingi para santri selama menjalani rangkaian persiapan. Latihan tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan bacaan yang lancar, tetapi juga membangun ketelitian dan kesungguhan dalam membaca setiap ayat. Para santri terus diberikan kesempatan untuk memperbaiki bacaan dan mengulang bagian-bagian yang masih dianggap kurang. Dengan waktu pelaksanaan khataman yang semakin dekat, konsistensi latihan menjadi faktor penting agar kemampuan yang telah dibangun sejak 1 Agustus tetap terjaga. Kegiatan tersebut sekaligus memberikan pengalaman bahwa keberhasilan sebuah acara keagamaan membutuhkan proses panjang, kesabaran, kedisiplinan, dan kerja sama antara santri, pengasuh, serta pendamping.


Menjelang 19 September 2026, persiapan santri TPQ Al-Hikmah Sumampir menjadi gambaran tentang perjuangan kecil yang dilakukan secara konsisten demi sebuah momen besar. Dari hafalan yang diulang berkali-kali, tajwid yang terus diperbaiki, hingga bacaan Gharib yang dipelajari dengan penuh ketelitian, setiap proses menjadi bagian dari perjalanan para santri menuju khataman. Pendampingan yang dilakukan Bagus Hida

yatullah bersama Ustadz Nugroho dan Ustadzah Lie diharapkan mampu semakin memantapkan kemampuan sekaligus kepercayaan diri anak-anak. Khataman bukan sekadar akhir dari rangkaian hafalan, melainkan sebuah momentum untuk menunjukkan hasil dari ketekunan belajar. Dari setiap ayat yang dilafalkan, tumbuh harapan agar para santri semakin dekat dengan Al-Qur’an, mencintainya, serta mampu menjadikannya sebagai pedoman dalam kehidupan.


Kontributor: Bagus Hidayatullah

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama