CILONGOK - Hari Belajar Guru (HBG) di lingkungan Gugus Bardiman, Korwilcam Dindik Cilongok, Rabu (5/8/2026), menghadirkan nuansa berbeda. Puluhan guru sekolah dasar mengikuti Workshop Menulis Cerita Cekak (Cerkak) Banyumasan sebagai upaya meningkatkan kompetensi profesional sekaligus menghidupkan kembali kecintaan terhadap bahasa dan budaya lokal. Bertempat dalam suasana yang hangat dan penuh semangat belajar, kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi bagi para pendidik untuk mengasah keterampilan menulis karya sastra berbahasa Banyumasan yang diharapkan dapat diwariskan kepada generasi muda melalui pembelajaran di sekolah.
Workshop yang digelar dalam rangka Hari Belajar Guru tersebut menghadirkan komunitas literasi Pensil Kajoe sebagai narasumber utama. Selama kegiatan berlangsung, peserta memperoleh pembekalan mengenai teknik menulis cerkak mulai dari menentukan tema, menyusun alur, memilih sudut pandang, hingga penggunaan ejaan Banyumasan yang baik dan benar. Tidak hanya itu, para guru juga diajak memahami pentingnya membangun karakter tokoh, menyusun konflik yang menarik, menghadirkan latar yang kuat, menggunakan gaya bahasa yang tepat, serta menyisipkan amanat agar cerita memiliki nilai sastra sekaligus pesan moral yang mendalam.
Ketua Gugus Bardiman, Caswati, S.Pd.SD., mengatakan bahwa pelaksanaan workshop ini merupakan tindak lanjut dari aspirasi para guru yang menginginkan adanya pelatihan khusus menulis cerita berbahasa Banyumasan. Menurutnya, kegiatan tersebut diharapkan menjadi awal kebangkitan budaya literasi lokal sekaligus mendorong guru untuk lebih produktif menghasilkan karya yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran.
"Workshop ini merupakan wujud dari masukan rekan-rekan guru untuk mengadakan pelatihan menulis cerkak Banyumasan. Semoga kegiatan ini menjadi langkah awal yang baik untuk menyalakan kembali semangat kita dalam menulis. Ilmu yang diperoleh hari ini hendaknya dapat kita kembangkan dan nantinya ditularkan kepada peserta didik agar mereka juga memiliki kecintaan terhadap budaya literasi dan bahasa daerah," ujar Caswati.
Pada sesi inti, pemateri dari Pensil Kajoe mengajak peserta memahami bahwa sebuah cerkak yang baik tidak hanya bergantung pada ide cerita, tetapi juga pada kemampuan penulis mengolah unsur-unsur sastra secara utuh. Peserta dikenalkan pada tiga pola alur, yakni alur maju, alur mundur, dan alur campuran, serta berbagai pilihan sudut pandang, mulai dari orang pertama seperti aku, inyong, atau kula, orang kedua seperti ko, rika, sampean, atau njenengan, hingga orang ketiga yang menempatkan penulis sebagai pencerita yang mengetahui seluruh jalannya kisah. Penjelasan tersebut diperkaya dengan contoh-contoh praktis sehingga mudah dipahami dan diterapkan dalam karya masing-masing.
Pemateri juga menegaskan bahwa menjaga keaslian bahasa Banyumasan merupakan tanggung jawab bersama. Oleh karena itu, setiap penulis perlu memperhatikan penggunaan ejaan yang benar serta tetap mempertahankan kekhasan kosakata Banyumasan. Selain aspek kebahasaan, peserta dibimbing menyusun tokoh dan penokohan, membangun konflik yang logis, memilih latar yang mendukung cerita, serta merangkai amanat yang mengalir secara alami sehingga karya yang dihasilkan tidak hanya menarik dibaca, tetapi juga memiliki nilai edukatif bagi pembaca.
Suasana workshop berlangsung sangat interaktif. Para guru tampak antusias mengajukan pertanyaan, berdiskusi mengenai pengalaman menulis, hingga saling bertukar gagasan tentang cara mengintegrasikan cerkak Banyumasan ke dalam pembelajaran di kelas. Diskusi yang hidup menunjukkan besarnya kepedulian para pendidik terhadap pelestarian bahasa daerah sekaligus semangat untuk terus mengembangkan kompetensi literasi sebagai bagian dari profesionalisme guru di era pendidikan yang terus berkembang.
"Kami berharap semakin banyak guru yang berani menulis dan menghasilkan cerkak Banyumasan berkualitas. Karya-karya tersebut bukan hanya menjadi dokumentasi budaya, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan ajar yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Ketika guru mulai menulis, sesungguhnya guru sedang menghidupkan literasi sekaligus menjaga identitas budaya daerah," ungkap salah satu pemateri dari komunitas Pensil Kajoe dalam sesi diskusi.
Melalui Hari Belajar Guru yang dikemas dalam bentuk Workshop Menulis Cerkak Banyumasan ini, Gugus Bardiman menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan kegiatan pengembangan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan guru sekaligus memperkuat pelestarian budaya lokal. Diharapkan dari forum ini lahir karya-karya sastra Banyumasan hasil kreativitas para guru yang tidak hanya memperkaya khazanah literasi daerah, tetapi juga menjadi inspirasi bagi peserta didik untuk mencintai bahasa ibu, menghargai warisan budaya, serta terus berkarya demi menjaga identitas Banyumas di tengah arus perkembangan zaman.
Kontributor: Laela Isna Maziatun
Posting Komentar