Menembus Jerat Kelam Arus Kas: Asa Baru Pelaku Usaha Cipawon di Tangan Generasi Muda UIN Saizu





PURBALINGGA - Di tengah bayang-bayang ketidakpastian ekonomi dan rumitnya mengelola perputaran modal usaha mikro, puluhan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Desa Cipawon, Kecamatan Bukateja, Kabupaten Purbalingga, mendapatkan titik terang melalui program edukasi pencatatan finansial yang diinisiasi oleh Sirfi Nur Fitriani, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Responsif dari Program Studi Ekonomi Syariah Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, pada Minggu (23/8/2026). Inisiatif strategis ini hadir sebagai respons nyata atas rapuhnya tata kelola kas tradisional yang kerap mengancam keberlangsungan usaha warga desa, sekaligus menjadi tonggak awal transformasi manajerial UMKM setempat menuju ekosistem usaha yang jauh lebih akuntabel, tertata, dan berdaya saing tinggi.


Sirfi Nur Fitriani menegaskan bahwa permasalahan mendasar yang selama ini menggerogoti stabilitas para pegiat usaha lokal adalah minimnya kesadaran untuk memisahkan antara pengeluaran rumah tangga pribadi dan modal perputaran usaha. Kondisi tersebut memicu kerancuan neraca keuangan harian, di mana banyak pemilik usaha merasa dagangannya laris manis namun justru terus mengalami defisit kas internal tanpa menyadari ke mana kebocoran modal itu mengalir. Berangkat dari kegelisahan terhadap kenyataan pahit tersebut, pelatihan ini dirancang khusus guna membekali para pelaku UMKM dengan instrumen pembukuan sederhana yang mudah diimplementasikan, praktis, serta terstruktur sehingga mampu memberikan gambaran riil mengenai kondisi kesehatan finansial usaha mereka secara berkala.


"Banyak pelaku usaha di Desa Cipawon yang bekerja banting tulang dari subuh hingga petang, namun pada akhir bulan mereka bingung karena modal dagang perlahan habis terpakai untuk urusan konsumsi dapur harian tanpa pernah tercatat secara jelas. Kami hadir melalui program KKN Responsif ini bukan sekadar untuk menggugurkan kewajiban akademik, melainkan membawa misi penyelamatan finansial sederhana agar para pelaku UMKM memiliki kendali penuh atas laba bersih, beban operasional, dan arus kas usaha mereka secara mandiri," ungkap Sirfi saat memberikan pendampingan langsung kepada warga.


Kegiatan pelatihan dan pendampingan yang berlangsung di balai desa tersebut disambut dengan antusiasme luar biasa dari para perajin makanan olahan, pedagang sembako, dan pemilik industri rumahan yang selama bertahun-tahun terjebak dalam pencatatan manual seadanya di atas lembaran kertas usang. Para peserta diajak membedah langsung komponen biaya pokok produksi, menyusun pos pengeluaran darurat, hingga mempraktikkan pencatatan buku kas masuk dan keluar secara sistematis. Pendekatan personal yang humanis dan sabar dari mahasiswa Ekonomi Syariah ini berhasil mematahkan stigma di kalangan warga bahwa urusan akuntansi adalah ranah rumit yang hanya bisa dipahami oleh kalangan korporasi besar.


"Selama puluhan tahun saya berjualan, modal dan uang belanja dapur selalu tercampur di dalam satu dompet yang sama, sehingga saya tidak pernah tahu secara pasti apakah usaha saya ini sebenarnya untung atau justru buntung. Bimbingan dari mahasiswa UIN Saizu ini membuka mata kami bahwa mencatat setiap rupiah yang keluar dan masuk adalah benteng utama agar usaha kecil kami tidak gulung tikar tergerus kebutuhan harian," tutur Suminah (48), salah seorang pemilik usaha makanan ringan di Desa Cipawon.


Melihat tingginya serapan pemahaman serta semangat pantang menyerah dari para pelaku usaha mikro tersebut, program ini diharapkan tidak berhenti sebatas seremonial pelatihan sesaat, melainkan mampu menumbuhkan kebiasaan disiplin finansial jangka panjang yang berkelanjutan. Transformasi tata kelola keuangan yang rapi ini diproyeksikan membuka aksesibilitas yang lebih luas bagi UMKM Cipawon terhadap berbagai peluang kemitraan, program bantuan pemerintah, hingga skema permodalan perbankan syariah yang mensyaratkan transparansi laporan keuangan. Efek domino dari literasi finansial ini diyakini akan memperkuat fondasi ketahanan ekonomi desa dalam menghadapi berbagai gejolak pasar dan inflasi di masa depan.


"Harapan terbesar kami adalah melihat UMKM di Desa Cipawon mampu naik kelas dan menjadi tulang punggung ekonomi keluarga yang benar-benar kokoh tanpa rasa cemas akan kebocoran modal. Pembukuan yang teratur adalah fondasi utama dari kemandirian usaha, dan kami optimis bahwa langkah kecil yang dimulai dari kesadaran mencatat kas harian hari ini akan membawa perubahan besar bagi masa depan kesejahteraan masyarakat pedesaan," pungkas Sirfi dengan penuh optimisme.

Kontributor: Sirfi

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama