Upacara diikuti oleh seluruh warga sekolah, mulai dari kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, hingga seluruh peserta didik dari kelas I sampai kelas VI. Sementara itu, petugas upacara berasal dari siswa-siswi kelas V yang telah mempersiapkan diri melalui latihan intensif selama satu pekan. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tertib, khidmat, dan penuh semangat, mencerminkan pembiasaan karakter positif yang terus dibangun di lingkungan SD Negeri 2 Dukuhwaluh.
Melalui pelaksanaan upacara tersebut, sekolah tidak hanya menjalankan agenda rutin, tetapi juga menghadirkan proses pendidikan karakter yang nyata. Sejak pagi hari, para siswa dibiasakan hadir tepat waktu, mengenakan seragam lengkap dan rapi, serta mengikuti setiap tahapan upacara dengan penuh tanggung jawab. Nilai-nilai kedisiplinan tersebut diyakini menjadi bekal penting dalam membentuk pribadi peserta didik yang bertanggung jawab, berkarakter, serta memiliki rasa cinta tanah air.
Dalam amanatnya, Hardi Gunarso mengajak seluruh peserta didik untuk membiasakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, terutama kebiasaan bangun pagi dan gemar belajar. Menurutnya, kedua kebiasaan tersebut merupakan fondasi sederhana yang mampu membentuk karakter positif anak sejak dini.
"Kebiasaan bangun pagi yang dilanjutkan dengan beribadah dan mempersiapkan diri akan membuat tubuh lebih bugar serta siap mengikuti pembelajaran di sekolah. Anak-anak juga harus membiasakan diri gemar belajar, karena belajar tidak hanya dilakukan di sekolah, tetapi juga di rumah dan di lingkungan masyarakat," ujar Hardi Gunarso di hadapan peserta upacara.
Ia menjelaskan, keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan akademik, tetapi juga oleh kebiasaan baik yang dilakukan secara konsisten setiap hari. Oleh karena itu, pembiasaan sederhana seperti bangun pagi, menjaga kebersihan, menghormati guru dan orang tua, serta rajin belajar perlu terus ditanamkan kepada anak-anak sebagai bagian dari pembentukan karakter.
Kepala SD Negeri 2 Dukuhwaluh, Siti Suswati, S.Pd., menyampaikan bahwa upacara bendera memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar kegiatan seremonial. Menurutnya, upacara merupakan media efektif untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan sekaligus membangun budaya disiplin di lingkungan sekolah.
"Upacara bendera jangan dipandang hanya sebagai kegiatan rutin. Upacara adalah salah satu bentuk membangun kedisiplinan di sekolah. Kami selalu menghimbau agar siswa berpakaian rapi dan lengkap. Bagi siswa yang belum memenuhi ketentuan, guru akan memberikan tugas membuat mading yang nantinya dipajang di sekolah. Cara ini tidak hanya menumbuhkan kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga melatih kreativitas, imajinasi, dan keberanian berkarya," ungkap Siti Suswati.
Menurutnya, pendekatan yang diterapkan sekolah lebih mengedepankan pendidikan daripada hukuman. Pemberian tugas kreatif berupa pembuatan mading diharapkan mampu menumbuhkan rasa tanggung jawab sekaligus memberikan ruang bagi siswa untuk menyalurkan ide dan kreativitas mereka secara positif.
Selain membentuk kedisiplinan peserta upacara, kegiatan tersebut juga menjadi wahana pengembangan kepemimpinan bagi siswa yang bertugas sebagai petugas upacara. Melalui proses latihan yang dilakukan selama beberapa hari sebelumnya, mereka belajar bekerja sama, bertanggung jawab terhadap tugas masing-masing, serta membangun rasa percaya diri ketika tampil di hadapan seluruh warga sekolah.
"Tidak hanya peserta, siswa yang mendapat tugas sebagai petugas upacara juga memperoleh pengalaman berharga. Menjadi pemimpin upacara, pengibar bendera, pembaca teks Pancasila, pembaca UUD 1945 maupun pemimpin doa melatih keberanian, kepemimpinan, dan kepercayaan diri. Nilai-nilai inilah yang ingin terus kami tumbuhkan melalui pembiasaan setiap pekan," tambahnya.
Kehadiran mahasiswa PPG sebagai pembina upacara juga memberikan warna baru dalam kegiatan tersebut. Selain menjadi bagian dari praktik pengalaman lapangan, keterlibatan mahasiswa calon guru tersebut memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk memperoleh motivasi dan pengalaman belajar dari sosok pendidik muda yang sedang mempersiapkan diri menjadi guru profesional.
Kolaborasi antara sekolah dengan perguruan tinggi dinilai menjadi langkah positif dalam memperkaya pengalaman pembelajaran di sekolah. Mahasiswa tidak hanya belajar mengenai praktik mengajar, tetapi juga memperoleh pengalaman membangun komunikasi dengan peserta didik melalui kegiatan-kegiatan pembiasaan seperti upacara bendera.
Semangat kebangsaan yang ditanamkan melalui upacara setiap hari Senin diharapkan mampu menjadi pondasi karakter peserta didik dalam menghadapi tantangan masa depan. Pembiasaan hadir tepat waktu, menghormati simbol negara, menaati tata tertib, hingga berani tampil di depan umum menjadi bagian penting dalam membentuk generasi yang disiplin, mandiri, dan bertanggung jawab.
Menutup kegiatan tersebut, pihak sekolah berharap budaya positif yang telah dibangun melalui upacara bendera dapat terus terbawa ke dalam kehidupan sehari-hari peserta didik, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat.
"Melalui kegiatan upacara yang dikemas dengan nilai-nilai karakter dan semangat kemerdekaan, kami berharap peserta didik semakin disiplin, berkarakter, serta mampu membiasakan perilaku positif dalam kehidupan sehari-hari sebagai generasi Indonesia yang hebat," pungkas Siti Suswati.
Kontributor: Fatih Nurijeki

.jpeg)
Posting Komentar