BANYUMAS — Siswi berbakat asal SMP Diponegoro 7 Gumelar, Azahra Nila Safina, berhasil mengukir prestasi gemilang dalam perhelatan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) jenjang SMP tingkat Kabupaten Banyumas tahun 2026. Keberhasilannya meraih gelar Juara 2 dalam cabang lomba Maca Geguritan tersebut membuktikan konsistensi lembaga pendidikan daerah dalam membina potensi serta minat para pelajar di bidang seni sastra.
Kompetisi bergengsi bagi para penutur muda bahasa daerah itu diselenggarakan secara semarak di aula Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas pada Kamis, 24 September 2026. Dalam ajang tersebut, Azahra tampil penuh percaya diri dengan mengumandangkan karya sastra geguritan bertajuk "Impen Kamardikan" tulisan sastrawan Ucik Fuadhiyah di hadapan dewan juri.
Penampilan Azahra di atas panggung penjelasannya mampu memikat perhatian juri berkat penguasaan vokal yang matang, artikulasi nan jelas, serta pengaturan intonasi yang begitu presisi. Tak hanya itu, penjiwaan mendalam dan gestur ekspresif yang disajikannya berhasil membangun atmosfer kebudayaan yang kuat sehingga pesan dari bait-bait geguritan tersampaikan dengan sempurna.
Keberhasilan yang diraih siswi Gumelar ini menjadi bukti nyata bahwa pelestarian bahasa serta sastra Jawa tetap dapat berjalan beriringan dengan gairah pengembangan prestasi generasi muda di era modern. Hasil tersebut sekaligus menegaskan posisi sekolah dalam mendukung dan memfasilitasi bakat-bakat seni tradisional siswa hingga mencapai tingkat kabupaten.
Ajang Festival Tunas Bahasa Ibu sendiri hadir sebagai ruang ekspresi yang amat krusial bagi pelajar muda untuk mengenal, mengintegrasikan, serta melestarikan keberadaan bahasa ibu melalui wadah kesenian. Khusus pada cabang Maca Geguritan, penilaian tidak sekadar berfokus pada kelancaran membaca teks, melainkan menuntut kemampuan peserta dalam menghidupkan karakter kata.
Bagi Azahra Nila Safina, karya geguritan "Impen Kamardikan" tidak dianggap sekadar bacaan kompetisi biasa yang dilafalkan di atas panggung perhelatan. Teks sastra tersebut dimaknainya sebagai medium spiritual dan emosional untuk menyuarakan gagasan, kecintaan, serta pesan pelestarian nilai kebudayaan berbasis bahasa Jawa.
Kepala SMP Diponegoro 7 Gumelar, H. Warkim, S.Pd., menyampaikan rasa bangga dan apresiasi setinggi-tingginya atas dedikasi serta perjuangan keras yang telah ditunjukkan oleh anak didiknya. Ia menekankan bahwa esensi utama dari kompetisi ini terletak pada proses belajar dan keberanian siswa untuk mencintai identitas budayanya.
"Kami sangat mengapresiasi perjuangan Azahra. Prestasi ini menjadi kebanggaan sekolah dan mudah-mudahan menjadi motivasi bagi siswa-siswi lainnya untuk terus berprestasi sekaligus mencintai bahasa dan budaya Banyumas," ujar H. Warkim, S.Pd., saat memberikan keterangannya, Kamis (24/9/2026).
Pihak sekolah berharap raihan trofi Juara 2 tingkat Kabupaten Banyumas ini mampu menjadi pijakan awal bagi Azahra untuk terus mengasah kemampuannya di bidang seni sastra Jawa. Pencapaian berharga ini juga diharapkan mampu menyulut semangat para pelajar lain di SMP Diponegoro 7 Gumelar agar terus berkarya dan berbudaya.

Posting Komentar