KEDUNGBANTENG – Layar Zoom Meeting yang biasanya menjadi ruang belajar virtual, Selasa (1/9/2026), berubah menjadi “ruang redaksi” bagi Pramuka Penggalang di wilayah Kwarran Kedungbanteng. Dalam pelatihan reportase yang digelar secara daring tersebut, para peserta tidak hanya diajak mengasah keterampilan khas kepramukaan seperti tali-temali dan kegiatan lapangan, tetapi juga diperkenalkan pada dunia jurnalistik. Mereka belajar bagaimana mengamati sebuah peristiwa, menggali informasi, melakukan wawancara, menyusun fakta menjadi berita, hingga menyampaikannya kepada publik secara menarik dan bertanggung jawab. Kegiatan ini menjadi langkah kreatif Kwarran Kedungbanteng dalam membekali generasi muda agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi sekaligus memiliki kecakapan komunikasi yang semakin dibutuhkan di era digital.
Kegiatan diawali dengan pembukaan yang kemudian dilanjutkan arahan dan motivasi dari Ka Kwarran Kedungbanteng, Kak Supriyati, S.Pd. Dalam arahannya, ia mendorong Pramuka Penggalang agar tidak hanya menjadi peserta aktif dalam setiap kegiatan, tetapi juga mampu menjadi pihak yang mendokumentasikan sekaligus menceritakan kembali berbagai aktivitas positif melalui karya jurnalistik. Menurutnya, kegiatan Pramuka memiliki banyak cerita inspiratif yang layak diketahui masyarakat. Karena itu, kemampuan membuat reportase dapat menjadi jembatan antara aktivitas di lapangan dengan masyarakat yang menyaksikan melalui media digital. Keterampilan tersebut sekaligus melatih keberanian berbicara, ketelitian mengamati lingkungan, kemampuan bertanya, serta kecakapan menyampaikan informasi secara runtut dan bertanggung jawab.
“Pramuka harus mampu mengikuti perkembangan zaman. Di era digital seperti sekarang, kegiatan positif Pramuka perlu dikemas dan disampaikan dengan cara yang menarik. Keterampilan reportase menjadi salah satu bekal agar adik-adik berani berbicara, mampu menggali informasi, dan dapat menceritakan kegiatan Pramuka kepada masyarakat,” tegas Kak Supriyati.
Pesan tersebut menjadi penekanan bahwa kecakapan digital bukan sekadar kemampuan menggunakan perangkat atau mengikuti tren media sosial. Lebih dari itu, generasi muda perlu memahami bagaimana informasi diperoleh, diolah, dan disampaikan secara benar. Ia juga mengingatkan peserta agar memiliki karakter jujur, disiplin, kritis, dan bertanggung jawab ketika berada di ruang digital. Sebab, kemampuan membuat konten harus berjalan seiring dengan kesadaran untuk menjaga kebenaran informasi serta memberikan manfaat kepada orang lain.
Memasuki sesi inti, Kak Syaefudin, STP, memberikan materi mengenai dasar-dasar reportase dan jurnalistik. Peserta diperkenalkan pada proses kerja seorang reporter, mulai dari mengenali peristiwa yang memiliki nilai berita, menentukan informasi yang diperlukan, memilih narasumber, melakukan wawancara, mencatat fakta penting, hingga mengolah hasil liputan menjadi sebuah berita. Materi tidak berhenti pada teori penulisan, tetapi juga diarahkan pada bagaimana seorang reporter bekerja ketika berada di lapangan. Peserta diajak memahami bahwa sebuah berita yang baik membutuhkan ketelitian sejak proses pengamatan hingga penulisan. Mereka juga diperkenalkan dengan unsur 5W+1H, yaitu what, who, when, where, why, dan how, yang menjadi fondasi agar informasi dalam berita dapat tersaji secara lengkap dan mudah dipahami.
“Seorang reporter harus memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Ketika melihat sebuah peristiwa, jangan berhenti pada apa yang terlihat saja. Gali informasinya, tanyakan kepada sumber yang tepat, kemudian tuliskan berdasarkan fakta,” jelas Kak Syaefudin dalam penyampaian materi.
Ia menekankan bahwa rasa ingin tahu merupakan modal penting bagi seorang reporter. Namun, rasa ingin tahu tersebut harus diarahkan melalui pertanyaan yang tepat dan proses verifikasi yang benar. Peserta juga diarahkan untuk membedakan antara fakta dan opini sehingga berita yang dihasilkan tidak sekadar menarik, tetapi memiliki dasar informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan pendekatan tersebut, Pramuka Penggalang diharapkan mampu menghasilkan laporan kegiatan yang informatif sekaligus menjadi bagian dari gerakan literasi digital yang sehat.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Meski pelatihan dilakukan melalui layar komputer dan perangkat digital masing-masing, interaksi pembelajaran tetap diarahkan agar peserta aktif mengikuti materi. Mereka memperoleh pengalaman baru bahwa dunia kepramukaan memiliki ruang yang luas untuk dikembangkan melalui jurnalistik dan teknologi. Selama ini, dokumentasi kegiatan mungkin hanya berhenti pada foto atau video, tetapi melalui keterampilan reportase, sebuah kegiatan dapat diolah menjadi cerita yang memiliki konteks, informasi, dan pesan. Dari sinilah peserta mulai dikenalkan pada peran baru sebagai “reporter cilik” yang mampu mengabadikan kegiatan positif di lingkungan sekolah maupun pangkalan masing-masing.
“Jangan hanya menjadi penonton di dunia digital. Jadilah pelaku yang mampu membuat konten positif dan memberikan manfaat bagi orang lain,” pesan Kak Supriyati kepada para peserta.
Pesan tersebut sekaligus menjadi semangat yang ingin ditanamkan melalui pelatihan reportase Kwarran Kedungbanteng. Kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan reporter-reportir cilik Pramuka yang berani bertanya, jeli melihat peristiwa, cerdas mengolah informasi, dan percaya diri menyampaikan cerita positif. Dari layar Zoom, proses itu dimulai bukan sekadar belajar menulis berita, melainkan belajar melihat dunia dengan lebih teliti, mendengar dengan lebih saksama, bertanya dengan lebih berani, serta menyampaikan informasi dengan penuh tanggung jawab. Dengan demikian, Pramuka Penggalang tidak hanya siap menjadi generasi yang terampil di lapangan, tetapi juga mampu menjadi generasi komunikatif dan kreatif di tengah derasnya arus informasi digital.
Kontributor: HUMASTIKA Kwarran Kedungbanteng 2026
Posting Komentar