Oleh : Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja
Spanduk itu masih tergantung rapi di sekolah
tempat saya mengajar: 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Warnanya cerah,
bahasanya optimistis, seperti masa depan yang dijanjikan kurikulum. Namun
setiap kali membaca itu, pikiran saya justru melayang ke sekolah lain—sekolah
kecil tempat istri saya mengajar.
Sekolahnya jauh dari kata ideal. Sebagian
bangunan tua, ruang kelas sempit, perpustakaan lebih mirip lemari arsip,
laboratorium tidak ada, dan halaman sekolah sempit, yang separuhnya tanah. Di
sana, membicarakan 7 KAIH rasanya seperti mengutip pepatah lama: jauh panggang
dari api. Bukan karena gurunya tidak mau, tapi karena realitasnya memang tidak
memberi ruang.
Istri saya sering bercerita sepulang sekolah.
Bukan tentang laporan, tapi tentang bertahan.
“Pak, hari ini literasi nggak jadi,” katanya
suatu sore.
“Kenapa?”
“Buku kurang. Anak-anak gantian baca. Separuh
lagi nunggu.”
Di sekolah itu, literasi bukan 15 menit yang
tinggal dijadwalkan. Literasi adalah soal ketersediaan buku, pencahayaan ruang
kelas, bahkan soal anak-anak yang datang ke sekolah tanpa sarapan.
Kurikulum boleh menuntut kebiasaan membaca,
tapi perut kosong sering lebih keras suaranya.
Ironisnya, di sekolah saya yang relatif
lengkap, literasi berjalan mulus di laporan. Buku ada. Jadwal ada. Foto ada.
Tapi makna sering absen. Sementara di sekolah istri saya, niat ada, makna ada,
tapi fasilitas tak pernah cukup.
Di situlah saya mulai sadar: kurikulum kita
sering seragam dalam tuntutan, tapi abai pada keragaman kenyataan.
7 KAIH lahir dari gagasan besar tentang
pembentukan karakter. Kurikulum terbaru pun memberi ruang pada pembiasaan,
projek, dan pembelajaran bermakna. Namun, di banyak sekolah, kurikulum masih
dipahami sebagai daftar kewajiban, bukan sebagai kerangka berpikir. Akibatnya,
karakter pun dikelola seperti administrasi.
Suatu hari, saya bertanya pada istri saya:
“Kalian buat laporan 7 KAIH juga?”
Ia tertawa kecil.
“Buat. Tapi lebih banyak menyesuaikan bahasa.”
Menyesuaikan bahasa itulah seni bertahan guru
di sekolah kecil. Apa yang ditulis sering kali lebih rapi daripada apa yang
dialami. Bukan untuk menipu, tapi untuk selamat. Karena di hadapan sistem,
sekolah kecil jarang punya ruang untuk berkata: kami belum bisa.
Di sekolah saya, Gen Z membaca situasi dengan
cepat. Mereka tahu kapan harus terlihat menjalankan kebiasaan.
“Pak, ini termasuk 7 KAIH kan?” tanya seorang
murid sambil menyusun bangku menjelang kunjungan.
“Iya.”
“Berarti nanti difoto?”
Saya mengangguk.
“Oke, Pak.”
Di sekolah istri saya, murid-murid tidak
bertanya soal foto. Mereka bertanya soal pulang lebih sore karena harus
membantu orang tua. Dua dunia, satu kurikulum.
Di sinilah peran kepemimpinan sekolah menjadi
penentu arah. Kepala sekolah yang melihat kurikulum sebagai teks mati akan
sibuk mengejar kesempurnaan laporan. Sebaliknya, kepala sekolah yang memandang
kurikulum sebagai alat hidup akan berani melindungi proses—meski hasilnya belum
indah.
Saya pernah mendengar kepala sekolah berkata,
“Yang penting aman dulu.”
Aman bagi siapa? Aman bagi murid, atau aman
bagi laporan?
Kepemimpinan yang kuat bukan yang paling patuh
pada format, tetapi yang paling jujur membaca konteks. Ia tahu bahwa 7 KAIH di
sekolah kota dan di sekolah kecil tidak bisa dipaksakan dengan ukuran yang
sama. Ia berani berkata ke atas: kami berjalan, tapi dengan langkah kami
sendiri.
Tanpa itu, guru akan terus berada di posisi
sulit: antara mendidik dengan nurani atau melaporkan dengan strategi. Dan
sering kali, yang menang adalah strategi.
Istri saya pernah berkata lirih,
“Kami ingin anak-anak berkarakter, tapi kami
juga ingin sekolah ini tetap hidup.”
Kalimat itu menghantam saya lebih keras
daripada kritik kebijakan apa pun. Karena di sanalah inti persoalan pendidikan
kita hari ini: kurikulum sering berbicara tentang masa depan, sementara sekolah
sedang sibuk menyelamatkan hari ini.
7 KAIH tidak salah. Kurikulum tidak keliru.
Yang sering luput adalah keberanian untuk memimpin dengan empati dan akal
sehat. Mengakui bahwa tidak semua sekolah berangkat dari garis yang sama. Bahwa
karakter tidak bisa tumbuh dari ketakutan administratif. Bahwa guru bukan mesin
pelaksana, melainkan manusia yang membaca realitas.
Selama kurikulum masih diperlakukan sebagai
kewajiban seragam, dan kepemimpinan sekolah lebih takut pada laporan daripada
kehilangan makna, maka 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat akan terus hidup paling
subur di kertas.
Sementara di sekolah kecil, tempat istri saya
mengajar, kebiasaan baik mungkin tumbuh perlahan tanpa spanduk, tanpa
jargon tapi dengan satu modal yang makin langka: kejujuran pada keadaan.
Dan mungkin, di situlah pendidikan sebenarnya
sedang bekerja.
Ajibarang, 30 Desember 2025
Tentang Penulis:
Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja adalah seorang guru IPA dan menulis esai reflektif mengaitkan sains, budaya, dan spiritualitas dalam narasi pendidikan humanistik. Ia percaya bahwa belajar bukan hanya tentang logika, tetapi juga tentang energi yang menghubungkan hati manusia

Posting Komentar