MEMBACA RUANG MENATA SIKAP

 



Di tengah derasnya arus informasi dan kompleksitas persoalan sosial serta lingkungan dewasa ini, pendidikan tidak lagi cukup hanya berfokus pada penguasaan pengetahuan. Peserta didik dituntut memiliki kemampuan berpikir kritis, kepekaan sosial, dan tanggung jawab terhadap lingkungan hidup. Dalam konteks inilah Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) memegang peran strategis, khususnya melalui pembelajaran Geografi di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Sebagai bagian integral dari IPS, Geografi tidak hanya berfungsi sebagai wahana transfer pengetahuan tentang fenomena alam dan keruangan. Lebih dari itu, Geografi merupakan sarana pembentukan cara berpikir analitis, reflektif, dan bertanggung jawab terhadap realitas sosial dan lingkungan. Melalui kajian tentang hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungannya, peserta didik diajak memahami bahwa setiap fenomena alam memiliki implikasi sosial, ekonomi, dan budaya yang nyata dalam kehidupan masyarakat.



Dalam perspektif hakikat pendidikan, pembelajaran Geografi di SMA diarahkan untuk mengembangkan potensi intelektual, sosial, dan moral peserta didik secara seimbang. Peserta didik tidak hanya diminta menghafal konsep-konsep seperti dinamika litosfer, atmosfer, atau hidrosfer, tetapi diajak menganalisis hubungan sebab-akibat antara kondisi fisik wilayah, aktivitas manusia, dan dampaknya terhadap kehidupan sosial. Proses ini melatih peserta didik untuk berpikir kritis berbasis data dan fakta keruangan, sekaligus menumbuhkan kesadaran akan tanggung jawab manusia terhadap lingkungan. Kemampuan berpikir kritis yang dibangun melalui pembelajaran Geografi pada akhirnya bermuara pada pembentukan perilaku sosial yang positif. Pemahaman terhadap isu-isu keruangan seperti kerusakan lingkungan, ketimpangan pemanfaatan sumber daya alam, dan risiko bencana mendorong peserta didik untuk mengembangkan sikap peduli, empati, dan tanggung jawab sosial. Dengan demikian, perilaku sosial peserta didik menjadi manifestasi nyata dari proses pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada aspek kognitif, tetapi juga afektif dan psikomotorik.



Pembelajaran tidak lagi bersifat satu arah, melainkan dialogis dan kolaboratif, sehingga peserta didik memiliki ruang untuk mengonstruksi pengetahuan dan mengasah keterampilan berpikir tingkat tinggi. Sebagai contoh konkret, pada materi Geografi SMA kelas XI tentang dinamika litosfer dan mitigasi bencana, guru dapat menyajikan studi kasus gempa bumi, erupsi gunung api, atau tanah longsor yang terjadi di Indonesia. Melalui kegiatan analisis penyebab, dampak sosial-ekonomi, serta strategi mitigasi, peserta didik tidak hanya memahami konsep geografi, tetapi juga menumbuhkan sikap waspada bencana, empati terhadap korban, dan kepedulian terhadap keselamatan bersama. Pembelajaran semacam ini menjadikan Geografi relevan dengan realitas kehidupan peserta didik. Lebih jauh lagi, di tengah tantangan global seperti perubahan iklim dan krisis lingkungan, pembelajaran Geografi memiliki peran penting dalam membentuk kesadaran global peserta didik. Geografi mengajarkan bahwa persoalan lingkungan tidak mengenal batas wilayah dan menuntut tanggung jawab kolektif sebagai warga dunia. Dengan demikian, perilaku sosial yang dibangun melalui pembelajaran Geografi tidak hanya berorientasi lokal, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan universal dan keberlanjutan.



Pada akhirnya, Pendidikan IPS melalui pembelajaran Geografi SMA menjadi wahana strategis dalam mengintegrasikan pengembangan kemampuan berpikir kritis dan perilaku sosial peserta didik. Keterpaduan antara hakikat pendidikan, perilaku, dan landasan pedagogik menjadikan pembelajaran Geografi tidak hanya relevan secara akademik, tetapi juga bermakna dalam membentuk generasi yang cerdas secara intelektual, peka secara sosial, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan. Inilah esensi Geografi dalam Pendidikan IPS: membekali peserta didik untuk memahami dunia sekaligus bertindak bijak di dalamnya.

 

 

PENULIS

Goly Amin Priyono, S.Pd saat ini  sedang menempuh Pendidikan S2 Pascsarjana Magister Pendidikan IPS di Universitas Muhammadiyah Purwokerto, saat ini bekerja di SMA N 1 Ajibarang memiliki moto hidup bahwa setiap orang harus terus belajar karena belajar adalah bagian dari proses kehidupan yang membuat menjadi pribadi yang lebih baik lagi

 

 

1 Komentar

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama