KEDUNGBANTENG, INFO BANYUMAS – Di bawah naungan langit pagi yang tenang, ratusan langkah kecil menyusuri jalanan setapak menuju kompleks pemakaman religi di wilayah Desa Melung. Siswa-siswi TK Pertiwi Melung, di bawah koordinasi Korwilcam Dindik Kedungbanteng, melaksanakan prosesi ziarah kubur massal sebagai rangkaian tradisi spiritual menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1447 H, Jumat (13/2). Kegiatan yang berlangsung khidmat ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan sebuah transformasi ruang kelas ke alam terbuka guna memperkenalkan konsep kehidupan, kematian, dan penghormatan kepada leluhur secara konkret kepada anak usia dini. Dengan tangan-tangan mungil yang menggenggam bunga mawar dan melati, para siswa diajak menyelami makna terdalam dari sebuah doa, menjadikan momen menyambut bulan puasa sebagai pijakan awal penguatan akhlakul karimah dan kecerdasan spiritual sejak masa golden age.
Pelaksanaan ziarah tersebut dirancang secara tematik dengan mengunjungi tiga titik makam tokoh besar yang menjadi pusat religi di wilayah setempat, yakni Makam Syech Abdurrahman Melung, Makam Kyai Azhari Depok – Melung, dan Dalem Santri Makam Syekh Akhmad Muhammad Kutaliman. Pemilihan lokasi-lokasi tersebut bertujuan agar para siswa tidak hanya mengenal ritual doa, tetapi juga memahami sejarah perjuangan tokoh-tokoh lokal yang telah berjasa menyebarkan nilai-nilai kebaikan di tanah kelahiran mereka. Selama perjalanan, para guru bertindak sebagai pemandu yang memberikan narasi-narasi sederhana mengenai keteladanan para tokoh yang dimakamkan di sana.
Informasi mengenai tata krama di area pemakaman menjadi poin utama dalam pembelajaran karakter kali ini. Pengurus sekolah menekankan bahwa pengenalan terhadap tempat pemakaman seringkali dianggap tabu atau menakutkan bagi anak-anak, namun melalui pendekatan yang hangat, perspektif tersebut diubah menjadi sebuah edukasi empati. Para siswa diajarkan bagaimana cara berjalan yang sopan, menjaga ketenangan, serta teknik menabur bunga yang benar sebagai simbol kasih sayang kepada mereka yang telah mendahului. Penjelasan mengenai makna ziarah tersebut disampaikan menggunakan diksi yang ringan agar anak-anak tidak merasa terbebani oleh konsep kematian yang berat, melainkan melihatnya sebagai bagian dari siklus kehidupan yang harus disyukuri dengan cara memperbanyak amal ibadah.
Partisipasi aktif orang tua siswa dalam pendampingan kegiatan tersebut turut memberikan nilai tambah pada aspek psikologis anak. Kehadiran figur orang tua di samping guru menciptakan sinergi pendidikan yang selaras antara sekolah dan rumah. Anak-anak tampak sangat antusias, bukan karena suasana rekreasi, melainkan karena mereka merasa dilibatkan dalam kegiatan orang dewasa yang penuh makna. Melalui interaksi langsung ini, nilai-nilai kejujuran dalam berdoa dan ketulusan dalam memberi salam kepada ahli kubur tertanam secara otomatis dalam memori jangka panjang mereka.
Kegiatan ziarah ini menjadi bagian integral dari kurikulum non-formal TK Pertiwi Melung dalam menyambut Ramadan 1447 H. Pihak sekolah meyakini bahwa persiapan menyambut bulan suci tidak boleh hanya berhenti pada aspek fisik seperti berpuasa, namun harus dimulai dari pembersihan hati dan penumbuhan kesadaran spiritual. Dengan mengunjungi makam, anak-anak diajak merefleksikan bahwa Ramadan adalah waktu terbaik untuk memperbaiki diri dan mendoakan sesama, baik yang masih hidup maupun yang sudah tiada. Kesadaran ini diharapkan mampu menumbuhkan rasa syukur yang tinggi atas nikmat kesehatan dan usia yang masih diberikan oleh Tuhan.
Kepala TK Pertiwi Melung, Tri Astuti, S.Pd., dalam keterangannya menegaskan bahwa pendidikan anak usia dini harus mampu menyentuh sisi kemanusiaan yang paling dasar. Ia memandang bahwa pengenalan nilai religius harus dilakukan melalui pengalaman empiris agar anak-anak memiliki kesan mendalam yang akan menjadi kompas moral mereka di masa depan.
“Melalui kegiatan ziarah kubur ini, kami ingin menanamkan nilai religius, rasa hormat kepada leluhur, serta membangun kesadaran spiritual anak sejak dini. Ramadan adalah momen yang tepat untuk memperkuat akhlak dan menumbuhkan kepedulian. Kami ingin anak-anak memahami bahwa setiap doa yang mereka panjatkan memiliki kekuatan yang luar biasa,” tutur Tri Astuti dengan nada penuh kesungguhan.
Lebih lanjut, Tri Astuti memaparkan bahwa visi sekolah saat ini adalah menciptakan generasi yang seimbang secara kognitif dan afektif. Ia tidak ingin para siswa hanya unggul dalam kemampuan membaca atau berhitung, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan penghormatan yang tinggi terhadap tradisi agama dan budaya lokal.
“Pendidikan anak usia dini tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan moral. Dengan pengalaman langsung seperti ini, anak-anak diharapkan mampu memahami nilai kehidupan secara sederhana namun bermakna. Mereka belajar tentang ketulusan, adab, dan bagaimana menghargai waktu yang mereka miliki saat ini,” tambahnya.
Keriuhan kecil namun tertib dari para siswa saat sesi doa bersama menjadi pemandangan yang menyentuh hati para peziarah lain di lokasi tersebut. Wajah-wajah polos yang menunduk khusyuk mencerminkan keberhasilan transfer nilai yang dilakukan oleh para pendidik. Suasana haru sempat menyelimuti ketika beberapa siswa bertanya dengan nada penasaran tentang mengapa mereka harus mendoakan leluhur, yang kemudian dijawab dengan bijak oleh para guru bahwa doa adalah jembatan kasih sayang yang tidak akan pernah terputus oleh maut.
Kegiatan ini pun diakhiri dengan sesi ramah tamah singkat antara guru, wali murid, dan tokoh masyarakat di sekitar makam. Kebersamaan ini mempertegas bahwa sekolah bukan merupakan institusi yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari ekosistem sosial yang memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga kelestarian tradisi religius. Dengan hati yang lebih bersih dan pemahaman yang lebih dalam, keluarga besar TK Pertiwi Melung kini siap memasuki bulan Ramadan 1447 H dengan semangat baru.
Melalui konsistensi dalam melaksanakan kegiatan edukatif berbasis karakter seperti ini, TK Pertiwi Melung membuktikan komitmennya untuk mencetak profil pelajar Pancasila yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ramadan tahun ini dipastikan akan terasa berbeda bagi para siswa, karena mereka telah mengawalinya dengan sebuah perjalanan batin yang mengenalkan mereka pada akar sejarah dan spiritualitas di tanah kelahiran mereka sendiri.

Posting Komentar