WANGON - Lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan dengan tartil dan penuh penghayatan mengantarkan Ulya Luthfi Zukhrufillah, siswa SDN 1 Randegan, meraih Juara 2 cabang Tartil Putri dalam ajang Ramadan Ceria 2026 tingkat Korwilcam Dindik Wangon. Prestasi tersebut diraih dalam kegiatan yang digelar Kamis (12/02/2026) di SD Negeri 1 Rawaheng, dan menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga besar sekolah.
Ramadan Ceria 2026 diselenggarakan untuk menyemarakkan bulan suci sekaligus menggali potensi siswa di bidang keagamaan. Ajang ini diikuti perwakilan sekolah dasar se-wilayah Wangon dengan berbagai cabang lomba bernuansa religius. Kategori Tartil Putri menjadi salah satu yang bergengsi karena menuntut ketepatan tajwid, kelancaran bacaan, kejernihan makhraj, serta penghayatan dalam melantunkan ayat suci.
Guru pendamping SDN 1 Randegan menyampaikan bahwa capaian tersebut merupakan hasil proses panjang yang dijalani dengan disiplin dan kesungguhan.
“Prestasi ini bukan hasil instan. Ulya berlatih secara rutin, memperbaiki tajwid, melatih pernapasan, dan menguatkan mental tampil. Kami bangga atas ketekunan dan semangatnya,” tuturnya.
Pelaksanaan lomba berlangsung khidmat dan tertib. Para peserta tampil secara bergantian di hadapan dewan juri dan hadirin yang menyimak dengan penuh perhatian. Saat namanya dipanggil, Ulya melangkah mantap ke depan panggung. Suaranya terdengar tenang dan stabil, pengucapan huruf-huruf hijaiyah jelas, serta hukum bacaan diterapkan dengan tepat.
Pihak sekolah menilai, selain kemampuan teknis, keberanian dan kesiapan mental menjadi faktor penting dalam keberhasilan tersebut. Dalam setiap sesi pembinaan, siswa tidak hanya dilatih membaca dengan benar, tetapi juga dibekali motivasi agar percaya diri dan mampu mengendalikan rasa gugup.
“Kami selalu menanamkan bahwa lomba bukan semata-mata soal menang, tetapi tentang proses belajar dan keberanian mencoba. Ketika anak berani tampil dan memberikan yang terbaik, di situlah kemenangan sesungguhnya,” imbuh guru pendamping.
Dukungan orang tua juga disebut berperan besar dalam menjaga konsistensi latihan. Di rumah, Ulya rutin mengulang bacaan dan memperbaiki kesalahan kecil yang ditemukan saat evaluasi bersama guru. Sinergi antara sekolah dan keluarga menjadi fondasi penting dalam membentuk kedisiplinan serta karakter religius siswa.
Ulya sendiri mengaku tidak menyangka dapat meraih posisi juara kedua di tengah persaingan yang cukup ketat. Ia sempat merasa gugup sebelum naik ke panggung, namun berusaha mengingat setiap arahan yang telah diberikan saat latihan.
“Aku nggak nyangka bisa juara 2. Makasih buat semua yang sudah doain dan dukung aku,” ujarnya singkat dengan wajah ceria usai menerima penghargaan.
Prestasi tersebut menjadi kebanggaan bagi SDN 1 Randegan sekaligus motivasi bagi siswa lain untuk terus mengembangkan potensi. Sekolah berkomitmen melanjutkan pembinaan keagamaan secara berkelanjutan, tidak hanya untuk kepentingan kompetisi, tetapi juga sebagai bagian dari pembentukan karakter dan akhlak mulia.
Ramadan Ceria 2026 pun meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh peserta. Bagi SDN 1 Randegan, keberhasilan Ulya bukan sekadar raihan juara, melainkan simbol dari kerja keras, ketekunan, serta doa yang mengiringi setiap proses. Dari panggung sederhana di Rawaheng, lahir semangat baru untuk terus melahirkan generasi Qur’ani yang berprestasi dan berakhlak.
Kontributor: Syahrul Giffari
Posting Komentar