Dari Bambu Menjadi Prestasi, Wisnu Zakaria Harumkan SDN 4 Cingebul di FLS3N Banyumas 2026

PURWOKERTO, INFO BANYUMAS. Kreativitas anak-anak Banyumas kembali mendapat panggung dalam Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS3N) Tingkat Kabupaten Banyumas tahun 2026. Pada hari ketiga pelaksanaan FLS3N yang digelar Rabu, 13 Mei 2026 di Gedung Gurinda Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, cabang lomba kriya dan menulis cerita menjadi pusat perhatian. Di tengah puluhan karya kreatif dari peserta perwakilan 27 kecamatan se-Kabupaten Banyumas, siswa SDN 4 Cingebul Kecamatan Lumbir, Wisnu Zakaria, berhasil mencuri perhatian dewan juri lewat karya lokomotif kereta berbahan bambu dengan sentuhan teknologi sederhana. Karya tersebut mengantarkan Wisnu meraih peringkat ketiga tingkat Kabupaten Banyumas sekaligus membawa kebanggaan besar bagi sekolah dan masyarakat Kecamatan Lumbir.


Pelaksanaan FLS3N tahun ini berlangsung selama tiga hari dengan berbagai cabang lomba seni dan sastra tingkat sekolah dasar. Hari terakhir kegiatan dipusatkan pada cabang kriya dan menulis cerita yang diikuti para siswa terbaik hasil seleksi tingkat kecamatan. Sejak pagi hari suasana Gedung Gurinda Dindik Banyumas tampak ramai oleh peserta, pendamping, dan panitia yang datang dari berbagai wilayah di Banyumas. Para peserta terlihat membawa perlengkapan dan bahan karya masing-masing dengan penuh semangat untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka.


Cabang kriya tahun ini mengusung tema mainan anak berbahan alam. Tema tersebut dipilih untuk mendorong peserta memanfaatkan bahan-bahan alami yang tersedia di lingkungan sekitar menjadi karya kreatif yang memiliki nilai estetika dan fungsi permainan. Selain mengembangkan kreativitas siswa, kegiatan ini juga menjadi upaya mengenalkan pentingnya pelestarian budaya permainan tradisional dan pemanfaatan bahan ramah lingkungan di tengah maraknya permainan digital modern.


Pukul 07.00 WIB peserta mulai melakukan registrasi ulang sebelum memasuki ruang lomba. Tepat pukul 08.00 WIB panitia memberikan pengarahan teknis mengenai aturan lomba, aspek penilaian, serta waktu pengerjaan karya. Setelah itu, pada pukul 08.30 WIB seluruh peserta mulai bekerja membuat karya kriya masing-masing. Suasana ruang lomba terlihat penuh konsentrasi. Anak-anak tampak serius memotong, menyusun, mengikat, hingga membentuk berbagai bahan alami menjadi mainan kreatif. Waktu pengerjaan berlangsung hingga pukul 12.30 WIB.


Di antara deretan karya peserta, penampilan Wisnu Zakaria dari SDN 4 Cingebul menjadi salah satu yang menarik perhatian. Siswa asal Kecamatan Lumbir yang dikenal sebagai wilayah paling barat Kabupaten Banyumas itu menampilkan sebuah lokomotif kereta api berbahan dasar bambu dengan desain detail dan unik. Tidak hanya mengandalkan bentuk visual semata, karya tersebut juga dipadukan dengan sentuhan teknologi sederhana berupa sensor tangan yang dapat mengaktifkan lokomotif sekaligus menyalakan lampu pada miniatur kereta tersebut.


Karya tersebut menunjukkan kemampuan berpikir kreatif sekaligus keterampilan teknis yang jarang dimiliki siswa sekolah dasar. Dengan memanfaatkan bahan alam yang sederhana, Wisnu mampu menghadirkan mainan bernilai estetika tinggi serta memiliki unsur inovasi. Hasil karya itu pun menuai apresiasi dari dewan juri dan peserta lainnya.


Wisnu Zakaria mengaku tidak menyangka karyanya mampu meraih peringkat ketiga tingkat Kabupaten Banyumas setelah ada Purwojati di peringkat pertama dan Cilongok di peringkat kedua. Ia mengatakan bahwa dirinya hanya berusaha menampilkan karya terbaik sesuai kemampuannya. Ketertarikannya membuat berbagai mainan dari bahan alam ternyata menjadi modal penting dalam perlombaan tersebut.


“Alhamdulillah saya sangat senang dan bersyukur bisa mendapatkan juara tiga tingkat kabupaten. Awalnya saya tidak menyangka karena semua karya peserta bagus-bagus. Saya memang suka membuat mainan dari bambu dan bahan alam lainnya di rumah, jadi saat lomba saya mencoba membuat lokomotif kereta api dengan tambahan lampu dengan sensor tangan,” ujar Wisnu dengan wajah bahagia usai menerima penghargaan.


Keberhasilan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi SDN 4 Cingebul dan masyarakat Kecamatan Lumbir. Prestasi Wisnu membuktikan bahwa siswa dari wilayah pedesaan juga mampu bersaing dan menunjukkan kemampuan terbaiknya di tingkat kabupaten. Kreativitas yang lahir dari lingkungan sederhana ternyata mampu menghasilkan karya yang inovatif dan bernilai tinggi.


Salah satu dewan juri cabang kriya, Pak Cocos, menjelaskan bahwa seluruh peserta sebenarnya memiliki kreativitas yang sangat baik. Namun dalam proses penilaian, juri tetap mengacu pada petunjuk teknis lomba dengan beberapa aspek utama seperti nilai estetika, tingkat kerumitan karya, kreativitas ide, dan kemampuan mengolah bahan alam menjadi produk mainan yang menarik.


“Semua karya anak-anak sebenarnya bagus dan kreatif. Penilaian kami mengacu pada juknis lomba, terutama pada aspek estetika, kerumitan, dan bagaimana bahan alam itu bisa diubah menjadi produk mainan yang memiliki nilai seni tinggi. Karya Wisnu cukup menarik karena selain detail, ada sentuhan teknologi sederhana yang membuat karyanya berbeda,” ungkap Pak Cocos.



Sementara itu, Kepala SDN 4 Cingebul, Suripto, turut menyampaikan rasa bangga dan syukurnya atas prestasi yang diraih peserta didiknya. Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan hasil dari bakat alami siswa yang terus didukung dan diarahkan oleh lingkungan sekolah maupun keluarga.


“Alhamdulillah kami sangat bangga dengan capaian Wisnu. Memang sejak di rumah anak ini suka membuat berbagai mainan dari bahan alam seperti bambu dan kayu. Bahkan terkadang hasil buatannya juga dibeli oleh teman-temannya untuk bermain bersama. Ini membuktikan bahwa kreativitas anak perlu diberi ruang dan dukungan agar bisa berkembang menjadi prestasi. Semoga di kesempatan berikutnya bisa menjadi yang terbaik” tutur Suripto.


Ia juga berharap prestasi tersebut dapat menjadi motivasi bagi siswa lain untuk terus mengembangkan bakat dan kreativitas sesuai minat masing-masing. Menurutnya, pendidikan tidak hanya berfokus pada kemampuan akademik semata, tetapi juga perlu memberi ruang bagi pengembangan seni, keterampilan, dan inovasi anak.


Ajang FLS3N sendiri selama ini dikenal sebagai wadah strategis untuk menggali potensi seni dan kreativitas peserta didik sejak usia dini. Melalui kegiatan tersebut, siswa tidak hanya belajar berkompetisi, tetapi juga belajar percaya diri, disiplin, berpikir kreatif, serta menghargai karya orang lain. Atmosfer kompetisi yang sehat menjadi sarana pembentukan karakter positif bagi generasi muda.


Prestasi Wisnu Zakaria di cabang kriya FLS3N Banyumas 2026 menjadi bukti bahwa kreativitas dapat tumbuh dari mana saja, termasuk dari desa yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Dengan memanfaatkan bahan sederhana yang tersedia di alam sekitar, seorang siswa sekolah dasar mampu menghasilkan karya inovatif yang membanggakan daerahnya. Dari bambu, lahirlah sebuah karya penuh imajinasi yang tidak hanya mengantarkan prestasi, tetapi juga menginspirasi banyak orang tentang pentingnya kreativitas, ketekunan, dan keberanian untuk berkarya.


Kontributor: Ade S.

Editor: Suripto

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama