Kebangkitan Nasional atau Kebangkitan Notifikasi?
Oleh : Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja
Setiap tanggal 20 Mei tiba, bangsa ini dengan rajin
mengucapkan “Selamat Hari Kebangkitan Nasional”. Spanduk dipasang di sepanjang
jalan, tema disusun dengan nada gagah, dan foto para pemimpin dibingkai indah
dengan warna merah putih. Kata “bangkit” seolah dijadikan bedak tebal untuk
menutupi wajah lelah dari kenyataan yang tersembunyi di baliknya.
Padahal, di sudut-sudut lain negeri ini, kenyataan berbicara
lain. Ada anak-anak yang jauh lebih hafal pada nada notifikasi TikTok
daripada bunyi butir-butir sila dalam Pancasila. Ada pelajar yang luwes
menyunting video tiga puluh detik dengan kualitas kelas dunia, namun kesulitan
membaca satu halaman buku tanpa tergoda membuka media sosial. Ada sekolah yang
gedungnya dicat semarak dengan semboyan kemerdekaan, namun cara berpikir dan
cara kerjanya masih terbelenggu oleh aturan administrasi yang kaku dan membebani.
Maka pertanyaan yang pantas kita ajukan bukan lagi, “Apakah
bangsa ini sudah benar-benar bangkit?” Melainkan: jangan-jangan yang
sesungguhnya bangkit dan menjulang tinggi hanyalah lalu lintas di dunia maya,
bukan kesadaran dan kualitas manusianya.
Bangsa ini sungguh unik caranya menanggapi masalah. Ketika
jalan raya berlubang, masyarakat segera bersuara. Ketika aspal rusak, orang
ramai memotret dan mengunggahnya ke media sosial. Mengapa demikian? Karena
lubang di jalan itu nyata. Motor yang oleng karenanya nyata. Orang yang
terjatuh dan terluka pun nyata. Lubang tak bisa diperbaiki hanya dengan
mengadakan seminar bertema “Transformasi Permukaan Jalan Berkelanjutan”. Aspal
tak akan menjadi kuat hanya karena diberi kata-kata penyemangat. Ia butuh batu,
butuh pasir, dan butuh kerja nyata yang sungguh-sungguh.
Namun sayangnya, kita kini hidup di masa di mana banyak
kekurangan dianggap cukup diselesaikan di atas kertas laporan. Mutu pendidikan
menurun? Solusinya: ganti kurikulum. Karakter anak semakin luntur? Cukup buat
slogan baru yang lebih menggugah. Kemampuan membaca dan menulis lemah? Adakan
seminar dan pelatihan. Guru semakin kelelahan? Tambahkan lebih banyak aplikasi
baru untuk digunakan. Anak-anak kecanduan gawai? Suruh mereka membuat konten
edukatif tentang bahaya ketergantungan gawai—lalu unggah kembali ke media
sosial. Sungguh cara penyelesaian yang terlihat sangat modern: berusaha
memadamkan api yang berkobar dengan menyemprotkannya menggunakan air di dalam
dunia maya.
Di tengah segala kepalsuan itu, kita masih kerap menyuarakan
cita-cita luhur: melahirkan “Generasi Emas 2045”. Ungkapan itu kini terdengar
serupa iklan perumahan mewah: tampak indah dan sempurna di brosur, namun penuh
kerumitan dan kekurangan saat dihadapi kenyataan. Kita menginginkan generasi
yang tangguh dan cemerlang, padahal anak-anak sejak kecil justru dibesarkan
dalam lingkungan yang menanamkan nilai-nilai terbalik. Mereka hidup dalam dunia
yang diam-diam mengajarkan: lebih penting menjadi viral daripada menjadi benar;
lebih penting tampil menonjol daripada benar-benar memahami; lebih penting
bereaksi dengan cepat daripada berpikir secara mendalam dan tajam.
Tak heran jika kini banyak anak justru lebih takut
kehilangan sinyal internet daripada kehilangan akhlak yang mulia. Media sosial
hari ini bukan lagi sekadar alat berkomunikasi. Ia telah berubah menjadi pasar
raksasa tempat emosi diperjualbelikan. Kebencian dibungkus dan dijual sebagai
keberanian. Sindiran kasar dianggap sebagai tanda kecerdasan. Fitnah dikemas
sedemikian rupa hingga layak disebut hiburan. Kebodohan yang dilakukan secara
serempak diberi nama indah: “konten yang masuk halaman beranda”. Anak-anak
tumbuh di tengah aliran algoritma yang sama sekali tak mengenal kata moral.
Yang terpenting adalah keramaian. Yang terpenting adalah jumlah interaksi.
Jika dahulu penjajah datang membawa senapan dan kekerasan,
maka hari ini penjajahan datang dalam bentuk guliran layar yang tak berujung.
Dan sayangnya, dunia pendidikan kita pun ikut tertular wabah kedangkalan ini.
Sekolah sibuk mengejar angka statistik yang tampak mengagumkan. Guru sibuk
mengumpulkan bukti fisik agar dinilai rajin. Murid sibuk mencari pengakuan agar
dianggap hebat. Semua bergerak cepat, namun tak seorang pun yakin ke arah mana
sebenarnya langkah ini ditujukan. Seringkali rapat-rapat pendidikan terasa
ibarat bengkel kecantikan: sibuk merapikan tampilan luar agar tampak maju dan
modern saat difoto, padahal fondasi di dalamnya mulai keropos dan rapuh.
Ada sekolah yang menuliskan semboyan pembentukan karakter di
atas tembok besar, namun para muridnya saling menghina dan menyakiti hati dalam
kelompok percakapan daring. Ada pidato panjang lebar tentang pentingnya
moralitas, namun setiap hari anak-anak menyaksikan orang dewasa saling caci
maki di media sosial. Akhirnya, anak-anak pun menangkap satu pelajaran paling
nyata dari kehidupan bangsa ini: “Yang terpenting bukanlah menjadi orang yang
baik. Yang terpenting adalah terlihat seperti orang yang baik.”
Dan inilah yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar jalan
raya yang berlubang. Sebab jalan yang berlubang paling-paling hanya melukai
raga. Namun pendidikan yang berlubang, yang kosong dari nilai dan kejujuran, ia
akan melukai masa depan seluruh bangsa.
Dulu, Boedi Oetomo lahir dari kesadaran yang mendalam. Para
pemuda terpelajar bangkit karena sadar bahwa bangsa ini tak boleh terus-menerus
hidup sebagai pelayan di atas tanah kelahirannya sendiri. Namun hari ini,
ancaman yang kita hadapi berbeda rupa. Kita tak lagi dijajah oleh bangsa asing.
Kita justru sedang terancam dijajah oleh kedangkalan berpikir. Kita terlalu
sibuk menjadi ramai hingga tak sempat merenung. Terlalu sibuk tampil sempurna
hingga tak sempat bertumbuh menjadi lebih baik. Sungguh ironis: di era yang
disebut-sebut sebagai masa paling terhubung, manusia justru makin menjauh dari
makna kehidupan. Di satu meja makan, semua orang diam membisu—bukan karena
khusyuk bersyukur, melainkan karena masing-masing sibuk menatap layar gawainya.
Negeri ini kini persis seperti jalan rusak yang ditutup
rapat dengan karpet merah hanya saat pejabat berkunjung. Tampak rapi dan indah
sesaat. Namun begitu hujan turun, lubang-lubang itu kembali terbuka lebar.
Mungkin inilah sindiran paling tajam di Hari Kebangkitan
Nasional: kita begitu rajin memperingati hari kebangkitan, namun diam-diam kita
sedang membiasakan diri dengan kebangkrutan—kebangkrutan nalar yang tajam,
kebangkrutan karakter yang teguh, dan kebangkrutan kejujuran yang murni.
Padahal, bangsa yang besar tidak dibangun di atas pencitraan
yang viral. Ia dibangun dari keberanian untuk mengakui lubang-lubang yang ada
di dalam diri sendiri. Sebab lubang yang diakui masih mungkin ditambal dan
diperbaiki. Namun lubang yang terus disembunyikan di balik baliho-baliho
semangat dan motivasi, ia hanya akan menjadi jebakan yang menanti generasi
mendatang untuk jatuh ke dalamnya.
Dan mungkin, sesungguhnya kebangkitan nasional yang sejati
hari ini tak perlu dimulai dengan pidato panjang atau upacara megah. Ia cukup
dimulai dari langkah yang paling sederhana: meletakkan gawai sejenak di atas
meja, membuka kembali lembaran buku, berbicara dengan bahasa yang jujur, dan
berhenti menyunting kenyataan hanya agar tampak indah di layar.
Karena sesungguhnya bangsa ini tidak kekurangan orang yang
pintar. Yang mulai langka dan sulit dicari adalah orang yang tetap berani
berpikir jernih, bersedia bekerja sungguh-sungguh, dan tetap menjaga kewarasan
di tengah dunia yang makin ramai, namun makin hampa maknanya.
Sebagai penutup, mari kita merenungkan pesan bersejarah dari
Ir. Soekarno, Sang Proklamator:
“Perjuanganku melawan penjajah itu lebih mudah, karena
hanya melawan orang asing. Namun perjuangan kalian ke depan akan jauh lebih
berat, sebab kalian harus berjuang melawan musuh yang ada di dalam diri bangsa
sendiri: melawan kebodohan, melawan kemalasan, melawan kepalsuan, dan melawan
ketidakjujuran.”
Di sinilah letak momen kesadaran itu: kebangkitan yang
sesungguhnya bukanlah yang terlihat gemerlap di layar kaca, melainkan
keberanian untuk bangkit menaklukkan kelemahan diri sendiri—agar kelak kita
tidak hanya menjadi bangsa yang ramai, tetapi bangsa yang benar-benar beradab,
berakal budi, dan tegak di atas kebenaran.
Ajibarang, 20 Mei 2026
Tentang Penulis:
Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja adalah seorang guru IPA SMP di Banyumas, dan menulis esai reflektif mengaitkan sains, budaya, dan spiritualitas dalam narasi pendidikan humanistik. Ia percaya bahwa belajar bukan hanya tentang logika, tetapi juga tentang energi yang menghubungkan hati manusia
Posting Komentar