Dari Pinggir Kali ke Panggung Nasional: Jejak Panjang Eddy Pranata PNP Menjaga Api Sastra Banyumas

 



Oleh: Riswo Mulyadi

Di tengah derasnya arus digital yang membuat orang semakin terburu-buru membaca, masih ada segelintir manusia yang setia merawat kata-kata. Mereka menulis bukan untuk menjadi viral, melainkan untuk menjaga nurani zaman. Salah satu di antaranya adalah Eddy Pranata PNP.


Nama itu mungkin tidak sering muncul dalam percakapan dunia hiburan. Namun di lingkungan sastra Indonesia, terutama di wilayah Banyumas dan sekitarnya, Eddy adalah sosok yang telah mengabdikan hidupnya pada puisi selama lebih dari empat dekade. Pengabdian panjang itu akhirnya memperoleh pengakuan nasional ketika ia menerima Penghargaan Sastra Badan Bahasa tahun 2025, sebuah penghargaan yang diberikan kepada sastrawan dengan rekam jejak panjang dan kontribusi nyata bagi perkembangan bahasa dan sastra Indonesia.


Namun sesungguhnya, penghargaan bukanlah cerita utama tentang dirinya.


Cerita yang lebih penting adalah bagaimana seorang penyair memilih bertahan di pinggiran.


Cirebah: Ketika Pinggiran Menjadi Pusat


Dalam peta sastra Indonesia, pusat-pusat kebudayaan lazimnya berada di kota besar. Jakarta, Yogyakarta, Bandung, atau Surabaya kerap menjadi titik temu para penulis dan penerbit.


Tetapi Eddy mengambil jalan berbeda.


Lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat, pada 31 Agustus 1963, ia kemudian menetap di Dusun Cirebah, Banyumas Barat. Dari tempat yang jauh dari hiruk-pikuk pusat kebudayaan itulah ia membangun dunia kepenyairannya.


Pilihan tersebut bukan sekadar soal tempat tinggal. Ia merupakan sikap kebudayaan.


Di tangan Eddy, pinggiran bukan ruang keterbelakangan, melainkan ruang kontemplasi. Sungai, bukit, jalan desa, hujan, ombak, dan kehidupan masyarakat sederhana menjadi bahan baku yang terus hidup dalam puisi-puisinya. Ia membuktikan bahwa karya besar tidak selalu lahir dari gedung-gedung kebudayaan yang megah.


Kadang ia lahir dari sebuah rumah kecil di pinggir kali.


Menulis sebagai Cara Menghidupi Jiwa


Dalam dunia yang semakin menghitung segala sesuatu dengan angka dan keuntungan, Eddy tetap menempatkan puisi sebagai jalan hidup.


Sejak menerbitkan Improvisasi Sunyi pada 1997, ia terus melahirkan buku demi buku: Sajak-sajak Perih Berhamburan di Udara, Bila Jasadku Kaumasukkan ke Liang Kubur, Ombak Menjilat Runcing Karang, Abadi dalam Puisi, Jejak Matahari Ombak Cahaya, hingga Tembilang.


Produktivitas tersebut menjadi penanda bahwa menulis bagi Eddy bukan aktivitas musiman.


Puisi-puisinya tersebar di berbagai media nasional, mulai dari Horison, Jawa Pos, Kompas, Tempo, Media Indonesia, hingga Suara Merdeka. Namanya juga hadir dalam puluhan antologi bersama yang menghimpun karya penyair dari berbagai daerah di Indonesia.


Di tengah banyak penyair yang datang dan pergi, Eddy memilih tetap tinggal.


Spiritualitas yang Menyala dalam Kesunyian


Salah satu kekuatan utama puisi Eddy terletak pada kedalaman spiritualnya.


Puisi-puisinya tidak berkhotbah. Ia tidak menggurui pembaca. Namun hampir di setiap fase kreatifnya, pembaca dapat menemukan percakapan sunyi antara manusia dan Tuhannya.


Dalam sejumlah karya mutakhir yang terbit pada berbagai media sastra, tema perjalanan ruhani, zikir, penghambaan, dan pencarian cahaya ilahi semakin menonjol. Puisi tidak lagi sekadar alat ekspresi, melainkan menjadi jalan suluk menuju kedalaman diri.


Di situlah letak keunikan Eddy.


Ia menulis puisi sosial tanpa kehilangan dimensi spiritual. Sebaliknya, ia menulis puisi spiritual tanpa tercerabut dari realitas sosial.


Jaspinka dan Mimpi Membangun Ekosistem Sastra


Kontribusi Eddy tidak berhenti pada karya.


Sejak awal 2000-an, ia mengelola Jaspinka (Jaringan Sastra Pinggir Kali), sebuah komunitas yang tumbuh di Banyumas Barat dan menjadi ruang bertemunya penyair, pegiat literasi, seniman, serta masyarakat umum.


Melalui berbagai kegiatan seperti pembacaan puisi, musikalisasi puisi, diskusi sastra, pemutaran film sastra, hingga perhelatan budaya "Ontran-ontran Sastra", Jaspinka telah menjadi salah satu simpul kebudayaan penting di wilayah selatan Jawa Tengah.


Apa yang dilakukan Eddy sesungguhnya lebih sulit daripada menulis puisi.


Ia membangun komunitas.


Dan sejarah kebudayaan menunjukkan bahwa banyak karya besar lahir dari komunitas yang sehat.


Menjaga Nyala di Tengah Zaman yang Berubah


Tahun 2025 menjadi salah satu puncak pengakuan atas perjalanan panjangnya. Setelah lebih dari 44 tahun berkarya, Eddy menerima Penghargaan Sastra Badan Bahasa dan terpilih mengikuti Pertemuan Penyair Nusantara, forum sastra yang mempertemukan penyair dari berbagai negara serumpun. Dan tahun ini Eddy menjadi satu-satunya penyair Banyumas yang lolos Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV akan diselenggarakan di Aceh pada 22–28 Juni 2026. Acara ini mengusung tema besar "Puisi untuk Kemanusiaan: Dari Diksi Jadi Aksi" dan diikuti oleh perwakilan penyair dari 14 negara termasuk dari ASEAN, Jepang, Turki, dan Tasmania.


Namun jika dicermati lebih jauh, prestasi itu hanyalah akibat.


Sebab utamanya adalah ketekunan.


Di saat banyak orang mengejar sorotan, Eddy memilih merawat proses. Di saat banyak komunitas kebudayaan tumbuh lalu menghilang, ia tetap menjaga Jaspinka hidup. Di saat sastra sering dianggap tidak menjanjikan secara ekonomi, ia terus percaya bahwa puisi masih memiliki tugas moral untuk menjaga kemanusiaan.

 

Barangkali itulah sebabnya nama Eddy Pranata PNP penting dalam sejarah kebudayaan Banyumas.


Ia bukan hanya penyair yang menulis puisi. Ia adalah penjaga nyala.


Dari sebuah dusun bernama Cirebah, dari tepian sungai yang jauh dari gemerlap pusat kekuasaan budaya, ia mengingatkan kita bahwa sastra tidak pernah bergantung pada lokasi geografis. Sastra hidup karena ada orang-orang yang setia merawatnya.


Dan selama masih ada sosok seperti Eddy Pranata PNP, puisi akan terus menemukan jalannya pulang ke hati manusia.

 

Cilangkap, 05 Juni 2026



Tentang Penulis:

Riswo Mulyadi, seorang guru MI Ma’arif NU 1 Cilangkap yang hobi membaca, menulis, dan mengamati keadaan. Sehari-hari disibukkan dengan rutinitas mengajar, mendidik, dan tentu saja suka ngopi dan puisi. Tinggal di Karang Anjog, Cihonje Gumelar, Indonesia.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama