BANYUMAS – Suasana SD Negeri 1 Kediri, Korwilcam Dindik Karanglewas, Kabupaten Banyumas, mendadak menjadi perhatian pada Jumat (17/7/2026). Kehadiran sejumlah petugas dari Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Banyumas sempat mengundang rasa penasaran warga sekolah. Banyak yang bertanya-tanya mengenai maksud kedatangan mereka. Namun, kekhawatiran itu segera sirna setelah diketahui bahwa kedatangan BNN bukan untuk melakukan penggerebekan, melainkan memberikan edukasi pencegahan penyalahgunaan narkoba kepada ratusan peserta didik sebagai langkah nyata membangun benteng perlindungan sejak usia sekolah dasar.
Kegiatan yang berlangsung di lingkungan sekolah tersebut merupakan bagian dari upaya preventif BNN Kabupaten Banyumas dalam memperkuat kesadaran anak-anak terhadap bahaya narkotika. Diikuti seluruh peserta didik dengan penuh antusias, sosialisasi dikemas secara interaktif melalui penyampaian materi, simulasi, permainan edukatif, hingga kuis yang mampu menarik perhatian siswa. Pendekatan yang komunikatif membuat materi yang tergolong berat menjadi mudah dipahami oleh anak-anak sehingga pesan-pesan penting mengenai bahaya narkoba dapat diterima dengan baik.
Narasumber dari BNN Kabupaten Banyumas, Imam Teguh Santosa, S.Pd., M.Pd., mengingatkan para peserta didik agar selalu waspada terhadap berbagai modus baru peredaran narkoba yang kini mulai menyasar anak-anak.
"Jangan sekali-kali menerima makanan dari orang yang tidak dikenal, karena bisa jadi makanan yang diberikan tersebut sudah disusupi narkoba. Katakan tidak untuk narkoba!" tegasnya di hadapan ratusan siswa yang mengikuti kegiatan dengan penuh perhatian.
Selain mengingatkan bahaya menerima makanan dari orang asing, peserta didik juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya menggunakan obat-obatan secara benar. Anak-anak diingatkan agar tidak pernah mengonsumsi obat tanpa izin orang tua maupun petunjuk tenaga kesehatan. Edukasi tersebut menjadi sangat penting mengingat masih banyak anak yang belum memahami perbedaan antara obat yang bermanfaat bagi kesehatan dengan zat-zat berbahaya yang dapat merusak tubuh apabila disalahgunakan.
Dalam penyampaiannya, Imam Teguh Santosa juga mengajak anak-anak menjauhi kebiasaan merokok sejak dini. Menurutnya, rokok sering kali menjadi pintu masuk menuju penyalahgunaan zat adiktif lainnya. Oleh karena itu, peserta didik diminta menjauh apabila berada di sekitar orang yang sedang merokok demi menjaga kesehatan paru-paru sekaligus menghindari pengaruh buruk yang dapat muncul di kemudian hari.
"Merokok bukanlah tanda keberanian atau kedewasaan. Justru anak hebat adalah anak yang mampu menjaga dirinya, berani mengatakan tidak terhadap rokok maupun narkoba, serta memilih hidup sehat demi masa depan yang lebih baik," ujar Imam, yang disambut anggukan para peserta didik.
Materi sosialisasi semakin menarik ketika narasumber menjelaskan dampak buruk narkoba terhadap tubuh manusia. Dengan bahasa yang sederhana, anak-anak diberi gambaran bahwa penggunaan sabu dapat menghilangkan rasa lapar sehingga seseorang mampu tidak makan selama berhari-hari. Akibatnya, tubuh akan mengalami kerusakan serius, mulai dari gangguan tidur, penurunan berat badan secara drastis, kerusakan organ-organ vital, hingga penurunan kondisi kesehatan yang sangat memprihatinkan. Penjelasan tersebut membuat para siswa semakin memahami bahwa narkoba sama sekali tidak memberikan manfaat, melainkan hanya membawa penderitaan.
Untuk memudahkan anak-anak mengenali ciri-ciri pengguna narkoba, BNN memperkenalkan konsep sederhana yang disebut "3 Ong", yaitu suka bengong, suka bohong, dan suka nyolong atau mencuri. Melalui penyampaian yang ringan disertai contoh-contoh nyata, siswa menjadi lebih mudah memahami perubahan perilaku yang dapat muncul akibat penyalahgunaan narkoba.
"Perilaku buruk ini ujung-ujungnya pasti membuat orang tua kecewa dan kehilangan rasa bangga kepada kita. Karena itu, jadilah anak yang membanggakan keluarga dengan menjauhi narkoba," tutur Imam.
Agar suasana belajar semakin hidup, kegiatan dilanjutkan dengan sesi roleplay atau bermain peran. Dua orang siswa diminta maju ke depan untuk memperagakan situasi ketika seseorang yang tidak dikenal menawarkan minuman. Salah satu siswa berperan sebagai orang asing, sedangkan siswa lainnya menunjukkan cara yang benar dengan menolak tawaran tersebut, segera menjauh, lalu melaporkannya kepada guru maupun orang tua. Simulasi sederhana itu disambut gelak tawa sekaligus tepuk tangan dari seluruh peserta karena terasa menyenangkan namun sarat makna.
Kemeriahan semakin terasa saat narasumber mengadakan kuis interaktif mengenai materi yang telah disampaikan. Banyak siswa berebut mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan. Dari sesi tersebut, anak-anak diajak mengenal konsep Anak BERSINAR (Bersih Narkoba), yaitu anak yang sehat, rajin belajar, dan mampu membuat orang tua bangga. Melalui pendekatan edukatif yang menyenangkan, para siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga terdorong untuk membangun karakter positif sebagai bekal menghadapi berbagai tantangan di masa depan.
Di penghujung kegiatan, seluruh peserta didik berdiri bersama mengucapkan Janji Anak Hebat dengan suara lantang,
"Saya akan menjauhi narkoba, saya berani berkata tidak pada narkoba, dan saya akan meraih cita-cita!" Kepala SD Negeri 1 Kediri, Candra Septo Rinoaji, S.Pd., M.Pd., memberikan apresiasi tinggi kepada BNN Kabupaten Banyumas atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, pendidikan antinarkoba harus dimulai sejak usia dini agar anak-anak memiliki benteng moral yang kuat.
"Narkoba adalah musuh kita bersama. Kegiatan seperti ini sangat membuka mata anak-anak kita. Mari bersama-sama, baik guru maupun orang tua, kita jaga anak-anak kita dari bahaya destruktif narkoba," pungkasnya.
Melalui sinergi antara sekolah, BNN, dan keluarga, diharapkan lahir generasi Banyumas yang sehat, cerdas, berkarakter, serta berani mengatakan tidak terhadap narkoba demi mewujudkan masa depan Indonesia yang lebih gemilang.
Kontributor : Dyah Rahmawati, S.Pd., M.Pd

Posting Komentar