Sedhakep Ngawe-awe

 

Oleh: Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja

 

Siapa yang tidak hafal seruan itu? "Bersihkan negeri dari korupsi!" "Hukum harus tegak tanpa pandang bulu!" Kita teriakkan di mana saja: di mimbar, di media sosial, di percakapan pinggir jalan. Tapi cobalah tanya pelan-pelan pada diri sendiri: apakah kita benar-benar membenci kebusukannya, atau hanya marah karena belum mendapat giliran menikmatinya?

 

Negeri ini punya keajaiban yang aneh: yang mencuri sepasang sandal di teras masjid dikejar dan dihina seumur hidup. Sementara yang mengantongi triliunan rupiah dari uang rakyat lalu membagi sedikit kepada kerabat, malah dipuji dermawan dan disebut "seperti kakak yang menyayangi adiknya". Apakah ini keadilan? Bukan. Ini cuma aturan main negeri yang dibagi menurut kasta, kesempatan, dan kekuasaan yang dipegang.

 

Seni Menolak Sambil Menerima

 

Leluhur kita meninggalkan isyarat yang tajam lewat ungkapan sedhakep ngawe-awe. Berdiri tegak, tangan terlipat rapi di dada, wajah tampak tegas menolak pemberian yang tidak wajar. Namun jika diperhatikan saksama, telapak tangannya justru terbuka lebar, siap menerima apa saja yang disodorkan.

 

Tradisi ini tak pernah mati, hanya berganti pakaian. Dulu berjas seragam kolonial, kini berjas rapi, berkemeja bersih, atau bersorban rapi. Mereka bicara tentang kesederhanaan seolah itu satu-satunya jalan hidup. Padahal suara yang paling keras bergema di dalam dada hanyalah satu: "Aku ingin menjadi kaya raya secepat mungkin."

 

Kita sering membenci dunia bukan karena dunia ini jahat, melainkan karena kita belum berkuasa menguasainya. Begitu pintu kesempatan terbuka lebar, semua kebencian itu lenyap seketika. Apa yang kita peroleh lalu kita sebut dengan nama yang sangat indah: berkah. Dan apa yang belum kita peroleh, kita sebut sebagai takdir yang belum tiba.

 

Ukuran Sukses adalah Harta, Bukan Moralitas

 

Di negeri ini, kita sudah sepakat atas satu ukuran keberhasilan yang dianggap paling sah. Semua yang kita rencanakan, putuskan, dan kerjakan, pasti kita yakini sebagai jalan yang benar. Bukti kebenarannya pun sederhana: lihatlah seberapa besar hasil yang masuk, dan berapa angka yang tertulis di rekening.

 

Jika harta makin menumpuk, berarti itu berkah, berarti prestasi, berarti Tuhan pun merestui. Soal dari mana asalnya? Apakah diambil dari hak orang lain? Apakah membuat orang lain kelaparan atau kehilangan masa depan? Ah, itu hanya soal teknis yang tidak terlalu penting. Kita mudah berkata: "Segala sesuatu yang terjadi pasti ada izin-Nya."

 

Baru-baru ini publik diguncang penemuan brankas berisi uang tunai dan logam mulia senilai puluhan miliar rupiah di lokasi yang terafiliasi dengan pejabat tinggi yang seharusnya menjadi benteng pemberantas korupsi. Angka itu jauh melampaui apa yang pernah dilaporkannya sebagai harta kekayaan resmi. Namun di sisi lain, ada warga yang tertangkap mengambil beberapa butir beras dari gudang bantuan untuk keluarganya yang kelaparan, langsung diproses hukum dengan cepat dan tegas .

 

Dunia memang tidak abadi, jabatan tidak dibawa sampai ke liang lahat. Maka muncul pemikiran yang merayap pelan: mumpung pegang kuasa, gunakanlah sebaik-baiknya. Kalau hendak mengambil, jangan pakai sendok saja. Pakailah sekop, cangkul, dan segala alat yang bisa mengumpulkan lebih cepat. Simpanlah di tempat yang paling rahasia.

 

Di Luar Berisik, Di Dalam Nyaman

 

Salah satu pemandangan yang paling sering kita saksikan adalah orang yang paling lantang mengkritik segala kebusukan dari luar. Ia berdiri di depan pintu, menutup hidung rapat-rapat, dan berkata: "Tempat ini kotor, baunya tak tertahankan, sistemnya sudah rusak dari akarnya."

 

Ia mengajak orang lain menjauh. Namun setelah selesai bicara, ia pun ikut berdiri dalam barisan antrean. Dan ketika gilirannya tiba, pintu terbuka, ia masuk ke dalam... lalu hening seketika. Tidak ada lagi protes, tidak ada lagi rasa jijik. Ia duduk tenang, merasa nyaman, dan betah berlama-lama di sana.

 

Ternyata yang paling penting bukanlah membersihkan tempat itu, melainkan apakah saat ia sendiri berada di dalam, kepentingannya terpenuhi dengan aman. Dahulu ia bersuara keras bukan karena tidak suka dengan aturan mainnya, melainkan karena belum pernah diberi kesempatan menikmatinya. Begitu sudah menjadi bagian dari mereka yang berkuasa, mulutnya tertutup rapat, dan ia mulai mengaminkan segala kepalsuan yang dilihatnya.

 

Sedekah Sebagai Pencuci Harta

 

Kita bangga menjadi orang yang beriman. Kita tahu harta yang banyak perlu disucikan, dan hari yang paling tepat adalah hari Jumat yang mulia. Hanya saja, dalam praktiknya sudah ada aturan tak tertulis yang hampir semua orang pahami: berikanlah secukupnya saja, jangan sampai membuat kantong terasa berkurang banyak; pastikanlah orang lain tahu agar nama baik semakin terpancar terang; sementara harta yang sebenarnya besar tetap disimpan rapat-rapat.

 

Jangan sampai engkau menjadi miskin, karena di negeri ini, orang yang jujur namun miskin hampir selalu tetap dipandang rendah dan tidak dipercaya. Ada yang terlihat rajin menyalurkan bantuan di muka umum, berfoto tersenyum ramah, padahal di baliknya tersimpan aset-aset yang tak tercatat dalam laporan resmi. Kita pun sering terbuai, lalu berkata: "Lihatlah dermawannya, pasti hartanya halal dan penuh berkah."

 

Penutup

 

Di tengah semua kenyataan ini, masih ada satu suara kecil yang berbisik dari lubuk hati: "Aku masih bernapas, masih merasakan sakit melihat ketidakadilan, masih bertanya-tanya. Apakah itu tandanya kesadaranku belum mati sepenuhnya?"

 

Apakah saat kita merasa sudah selesai menjalankan semua kewajiban, maka perjalanan mencari kebenaran pun harus berhenti? Siapakah yang kelak memeriksa apa yang sungguh tersimpan di dalam dada? Siapakah yang mencatat apa yang kita sembunyikan rapi di balik senyum dan kata-kata manis?

 

Mungkin jawaban itu tidak ada di atas mimbar yang tinggi, tidak ada di dalam rapat yang penuh janji manis, dan tidak ada di tulisan yang hanya memuji diri sendiri. Jawabannya hanya akan kau temukan saat engkau berani melangkah maju bukan sekadar mengomentari baunya, melainkan mulai berani membersihkannya — mulai dari dalam diri sendiri terlebih dahulu.

 

Tulisan ini bukan tuduhan kepada siapa pun secara khusus. Ini hanyalah cermin yang diletakkan di hadapan kita semua. Jika saat membacanya kau tersenyum lebar dan tertawa santai, berarti kau masih mampu melihat dirimu sendiri dengan jujur. Tapi jika di tengah bacaan ini kau merasa dada sesak, hatimu terasa tersentuh atau bahkan tersinggung... selamatlah. Itu tandanya kesadaranmu belum mati, dan kewarasanmu masih utuh terjaga.

 

Semesta tidak pernah berbohong. Ia hanya diam, melihat, dan menunggu kapan kita berani berbicara jujur pada diri sendiri.

 

Ajibarang 17 Juli 2026





Tentang Penulis:

Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja adalah seorang guru  IPA SMP di Banyumas, dan menulis esai reflektif mengaitkan sains, budaya, dan spiritualitas dalam narasi pendidikan humanistik. Ia percaya bahwa belajar bukan hanya tentang logika, tetapi juga tentang energi yang menghubungkan hati manusia

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama