Oleh: Kang Riswo Mulyadi
Bagi sebagian besar dari kita,
ingatan tentang hari pertama masuk sekolah baru biasanya berkelindan dengan
memori yang agak bikin dahi berkerut. Mulai dari urusan rambut dikuncir tali
rafia, kaos kaki warna-warni yang beda sebelah, sampai titah senior yang kadang
ajaib dan bikin geleng-geleng kepala. Dulu, istilahnya keren: Masa Orientasi
Siswa alias MOS, atau kalau di kampus akrab disebut Ospek. Sebuah ritual
tahunan yang niatnya mengenalkan lingkungan sekolah, tapi bungkusnya sering
kali dibumbui drama senioritas.
Namun, kalau Anda menengok gerbang
madrasah pada awal tahun ajaran baru ini, pemandangan buram itu sudah resmi
masuk kotak sejarah. Kementerian Agama meluncurkan konsep anyar bertajuk Masa
Ta'aruf Murid Madrasah, yang biar renyah di telinga disingkat menjadi MATAMUDA.
Lewat regulasi terbarunya, MATAMUDA
bukan sekadar ganti baju atau ganti singkatan dari MATSAMA yang kita kenal
sebelumnya. Ini adalah sebuah pergeseran budaya belajar yang drastis, santai,
tapi tetap berisi.
Bukan Ajang "Dikerjain",
tapi Disambut Ngemong
Kata Ta'aruf sendiri
sebenarnya punya makna yang mendalam. Ia bukan cuma sekadar tahu nama atau
alamat rumah, melainkan proses saling membuka hati dan mengenali potensi. Maka,
lupakan bayangan tentang bentakan di lapangan atau hukuman fisik yang tak masuk
akal.
Dalam juknis MATAMUDA yang baru, ada
aturan main yang sangat ketat: kakak kelas atau alumni dilarang keras
menjadi penyelenggara utama. Komando sepenuhnya dipegang oleh para guru.
Langkah ini jelas memotong mata rantai budaya perpeloncoan yang biasanya
diwariskan dari angkatan ke angkatan.
Pendekatannya kini berganti menjadi ngemong.
Murid baru yang datang dengan wajah tegang disambut layaknya anak sendiri yang
baru pulang ke rumah. Atmosfer yang dibangun wajib memenuhi rumus SANM:
Sehat, Aman, Nyaman, dan Menyenangkan. Jadi, alih-alih pulang sekolah dengan
mata sembap karena stres dikerjain senior, anak-anak kita sekarang pulang
dengan cerita seru tentang teman baru dan ruang kelas yang asyik.
Dari Ngopi di Kantin hingga Merawat
Bumi
Yang menarik dari MATAMUDA adalah
materi yang diselipkan. Tidak ada lagi hafalan visi-misi sekolah yang dibaca
sekadar formalitas sambil berdiri di bawah terik matahari. Alih-alih demikian,
orientasi dikemas lewat diskusi interaktif, simulasi digital, hingga aksi nyata
di lapangan.
Ada lima menu utama yang disajikan
selama maksimal lima hari pelaksanaan. Dua di antaranya sangat kontekstual
dengan kondisi zaman sekarang: Moderasi Beragama dan Ekoteologi
alias program madrasah ASRI.
Lewat jalan yang santai, anak-anak
diajak memahami bahwa perbedaan baik itu urusan pilihan organisasi, sudut
pandang, hingga latar belakang sosial adalah hal yang biasa dan justru
memperkaya kita sebagai satu bangsa. Di sisi lain, mereka juga langsung diajak
membumi. Lewat program ekoteologi, murid baru diajari bahwa kesalehan itu tidak
cuma di atas sajadah, tapi juga tercermin dari bagaimana mereka merawat pohon
dan menjaga kebersihan lingkungan madrasah.
Menghapus Sekat Sosial di Garis Awal
Satu hal lagi yang patut diacungi
jempol adalah ketegasan regulasi soal atribut dan biaya. Tidak boleh ada
pungutan sepeser pun dari murid baru untuk acara ini semuanya wajib ditanggung
dana BOS. Pakaian pun harus wajar, rapi, dan menutup aurat, tanpa perlu
embel-embel kardus bekas di dada atau topi kerucut dari karton.
Di garis awal ini, semua anak berdiri
setara. Tidak peduli anak pejabat atau anak petani, semuanya memakai tanda
pengenal yang sama wajarnya. Ini adalah edukasi budaya yang mahal: menghormati
martabat manusia sejak hari pertama melangkah.
Pada akhirnya, MATAMUDA berhasil
membuktikan bahwa mengenalkan aturan dan disiplin tidak harus lewat wajah
garang dan suara tinggi. Lewat senyuman hangat para pendidik, ruang belajar
yang inklusif, dan atmosfer yang memanusiakan manusia, madrasah sedang menyemai
benih-benih generasi masa depan yang tidak hanya cerdas otaknya, tapi juga
anggun budi pekertinya.
Selamat datang di lembaran baru, para
murid muda. Nikmati prosesnya, ambil ilmunya, dan mari tumbuh bersama.
Cilangkap, 16 Juli 2026
Tentang Penulis:
Riswo Mulyadi, seorang guru MI Ma’arif NU 1 Cilangkap yang hobi membaca, menulis, dan mengamati keadaan. Sehari-hari disibukkan dengan rutinitas mengajar, mendidik, dan tentu saja suka ngopi dan puisi. Tinggal di Karang Anjog, Cihonje Gumelar, Indonesia.
Posting Komentar