Workshop Penguatan Digitalisasi Pembelajaran KA: Guru Muhammadiyah Banyumas Siap Menjadi Pelopor Pembelajaran Digital Berkarakter

 



PURWOKERTO - Transformasi pendidikan di era kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) menuntut guru tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga mampu menjaga nilai-nilai karakter sebagai fondasi pembelajaran. Menjawab tantangan tersebut, Komunitas Belajar (Kombel) Guru SD/MI se-Eks Kotip Purwokerto menggelar Workshop Penguatan Digitalisasi Pembelajaran Kecerdasan Artificial (KA) bagi Guru Muhammadiyah pada Selasa (7/7/2026). Mengusung tema "Membangun Guru Unggul, Melek Digital, dan Berinovasi dengan Kecerdasan Artificial Berlandaskan Nilai-Nilai Islami," kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat kompetensi guru agar adaptif terhadap perkembangan teknologi tanpa meninggalkan jati diri sebagai pendidik yang berakhlak mulia.


Workshop diikuti oleh 43 peserta yang terdiri atas guru dan kepala sekolah SD/MI Muhammadiyah se-Eks Kotip Purwokerto, meliputi SD Muhammadiyah Purwokerto Barat, MI Muhammadiyah Sunyalangu, MI Muhammadiyah Pasir Muncang, MI Muhammadiyah Karanglewas Kidul, dan MI Muhammadiyah Pasir Lor. Kehadiran para pendidik dari berbagai satuan pendidikan tersebut mencerminkan besarnya semangat Muhammadiyah dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang mampu menjawab tantangan revolusi digital melalui pembelajaran yang inovatif, kreatif, dan tetap berpijak pada nilai-nilai Islam.


Materi pembuka disampaikan oleh Aminuddin, M.Pd., Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Banyumas. Dalam paparannya, ia mengajak seluruh peserta memaknai profesi guru sebagai amanah yang tidak hanya dipertanggungjawabkan kepada lembaga pendidikan, tetapi juga kepada Allah Swt. Menurutnya, profesionalisme guru harus dibangun di atas keikhlasan, dedikasi, dan komitmen untuk terus belajar sehingga setiap proses pendidikan menjadi bagian dari ibadah yang membawa manfaat bagi umat.


Ia menegaskan bahwa setiap kebaikan yang dilakukan dengan niat yang tulus tidak akan pernah sia-sia. Aminuddin mengingatkan peserta pada firman Allah Swt. bahwa perubahan hanya akan terjadi apabila manusia memiliki kemauan untuk memperbaiki dirinya sendiri. Karena itu, guru Muhammadiyah didorong agar terus meningkatkan kualitas diri, memperluas wawasan, serta memberikan pelayanan pendidikan terbaik sebagai bentuk pengabdian kepada Allah dan Persyarikatan Muhammadiyah.


"Menjadi guru Muhammadiyah bukan sekadar menjalankan profesi, tetapi mengemban amanah dakwah melalui pendidikan. Yakinlah bahwa setiap kebaikan yang dilakukan dengan penuh keikhlasan akan dibalas oleh Allah Swt. Tidak ada usaha yang sia-sia. Karena itu, teruslah belajar, tingkatkan kompetensi, dan jadikan setiap proses mendidik sebagai ibadah untuk mengharap rida Allah," pesan Aminuddin, M.Pd.


Memasuki sesi kedua, peserta diajak menyelami dunia kecerdasan artifisial bersama Dr. Lia Mareza, M.A. Melalui penyampaian materi yang komunikatif dan aplikatif, ia memperkenalkan berbagai pemanfaatan AI dalam dunia pendidikan, khususnya penggunaan ChatGPT dan Canva AI sebagai alat bantu bagi guru dalam menyusun perangkat pembelajaran, merancang media ajar yang menarik, membuat presentasi interaktif, menyusun soal evaluasi, hingga menghasilkan ide-ide kreatif yang dapat memperkaya pengalaman belajar peserta didik.


Tidak hanya mendengarkan teori, seluruh peserta juga mengikuti praktik langsung menggunakan berbagai fitur AI. Mereka mencoba menyusun modul ajar, membuat bahan presentasi, menghasilkan ilustrasi pembelajaran, hingga mengeksplorasi teknik menyusun prompt yang efektif agar teknologi AI mampu memberikan hasil yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran. Suasana workshop berlangsung dinamis karena setiap peserta diberikan kesempatan untuk berdiskusi, bertanya, dan berbagi pengalaman dalam mengintegrasikan teknologi digital ke dalam proses belajar mengajar.


"Artificial Intelligence bukanlah pengganti guru, melainkan mitra yang dapat membantu meningkatkan efektivitas dan kreativitas pembelajaran. Namun, teknologi tidak boleh menggantikan sentuhan kemanusiaan. Guru tetap memiliki peran utama dalam membimbing karakter, akhlak, serta perkembangan sosial dan emosional peserta didik. Karena itu, AI harus dimanfaatkan secara bijaksana, bertanggung jawab, dan tetap berlandaskan nilai-nilai Islami," jelas Dr. Lia Mareza, M.A.


Antusiasme peserta tampak sepanjang kegiatan berlangsung. Berbagai pertanyaan muncul mengenai penerapan AI dalam pembelajaran sehari-hari, mulai dari penyusunan perangkat ajar, pengembangan media digital, hingga strategi memanfaatkan teknologi secara etis di lingkungan sekolah. Diskusi yang hangat menunjukkan bahwa guru-guru Muhammadiyah memiliki semangat tinggi untuk terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa mengabaikan tanggung jawab moral sebagai pendidik yang membentuk karakter generasi masa depan.


Salah seorang peserta, Titis, guru dari SD Muhammadiyah Purwokerto Barat, mengaku memperoleh banyak wawasan baru setelah mengikuti workshop tersebut. Menurutnya, penggunaan AI mampu membantu guru bekerja lebih efektif tanpa mengurangi kualitas pembelajaran. Ia menilai teknologi seperti ChatGPT dan Canva AI dapat menjadi solusi dalam mengembangkan media pembelajaran yang kreatif sekaligus menghemat waktu sehingga guru memiliki ruang lebih luas untuk fokus mendampingi peserta didik.


"Materi yang disampaikan sangat relevan dengan kebutuhan guru saat ini. Saya menjadi lebih memahami bagaimana memanfaatkan ChatGPT dan Canva AI untuk membuat media pembelajaran yang lebih kreatif, interaktif, dan tidak memerlukan waktu yang terlalu lama. Semoga ilmu yang diperoleh dapat langsung diterapkan di kelas sehingga pembelajaran menjadi semakin menarik dan bermakna bagi peserta didik," ungkap Titis.


Workshop ini menjadi bukti bahwa transformasi digital di dunia pendidikan dapat berjalan harmonis dengan nilai-nilai keislaman ketika guru memiliki komitmen untuk terus belajar dan berinovasi. Melalui semangat kolaborasi yang dibangun dalam kegiatan tersebut, guru-guru SD/MI Muhammadiyah se-Eks Kotip Purwokerto bertekad meningkatkan kompetensi digital, memperkuat kreativitas pembelajaran, serta menjadikan kecerdasan artifisial sebagai sarana untuk menghadirkan pendidikan yang lebih berkualitas. Dari Purwokerto, lahir optimisme bahwa guru Muhammadiyah akan terus menjadi pelopor pendidikan yang unggul, melek digital, berkarakter Islami, dan mampu melahirkan generasi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, serta siap menghadapi tantangan zaman.


Kontributor: Dewi Meilansari Kurniati

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama