Perburuan di Atas Kasur: Sebuah Paradoks Kebahagiaan

 



Oleh: Riswo Mulyadi

 

Ada zaman ketika manusia mencari kebahagiaan dengan cara yang sederhana: duduk di beranda, mendengar hujan, mencium tanah selepas kemarau, atau berbincang dengan tetangga sampai malam kehilangan batas. Kini kita memiliki aplikasi untuk tidur lebih baik, jam tangan untuk menghitung langkah menuju kesehatan, buku untuk berpikir positif, seminar untuk menjadi sukses, dan media sosial untuk memastikan bahwa kebahagiaan kita diketahui orang lain.

 

Kita hidup dalam zaman yang memiliki begitu banyak resep kebahagiaan, tetapi semakin banyak manusia yang tidak tahu bagaimana rasanya bahagia.

 

Kita berlari di atas treadmill takdir, berkeringat mengejar tubuh ideal, karier ideal, rumah ideal, pasangan ideal, kehidupan ideal. Ironisnya, semakin cepat kita berlari, semakin jauh kita merasa tertinggal. Kita membeli pengalaman agar merasa hidup, mengunggah kebahagiaan agar dianggap bahagia, dan mengoleksi pencapaian untuk menambal sebuah lubang yang tidak pernah bernama.

 

Barangkali inilah paradoks besar manusia modern: kita tidak lagi sekadar ingin bahagia; kita diwajibkan untuk tampak bahagia.

 

Kebahagiaan yang Dijual

 

Kebahagiaan telah menjadi salah satu industri paling menguntungkan. Ia dikemas dalam seminar, buku, perjalanan wisata, produk kecantikan, makanan sehat, aplikasi meditasi, kursus pengembangan diri, hingga benda-benda yang dijanjikan mampu membuat hidup terasa lebih bermakna.

 

Pasar memahami satu kelemahan manusia: kita takut merasa kurang.

 

Kebahagiaan kemudian diperlakukan seperti barang di etalase: ada paket dasar, paket premium, dan paket eksklusif bagi mereka yang sanggup membayar lebih mahal.

 

Yang lebih menggelikan, kebahagiaan kini juga memiliki ukuran sosial. Jumlah pengikut, jumlah tanda suka, restoran yang dikunjungi, tempat yang didatangi, kendaraan yang dipamerkan, dan foto keluarga yang tampak harmonis menjadi semacam statistik baru bagi kesejahteraan jiwa.

 

Kita bahkan telah menciptakan profesi baru: manusia yang menjual cara bahagia sambil terus-menerus harus membuktikan bahwa dirinya bahagia.

 

Di sinilah ironi itu mencapai bentuknya yang paling lucu sekaligus menyedihkan. Seseorang dapat menghabiskan uang untuk mendapatkan kebahagiaan.

 

Ia pergi jauh untuk mencari ketenangan, tetapi membawa kecemasan di dalam kopernya.

 

Budaya positive thinking kadang bahkan berubah menjadi tirani yang halus. Sedih dianggap kurang bersyukur. Gagal dianggap kurang berpikir positif. Marah dianggap energi negatif. Berduka dianggap belum mampu mencintai kehidupan.

Seolah-olah manusia yang baik adalah manusia yang selalu tersenyum.

Padahal bahkan langit pun tidak setiap hari cerah.

Ada hujan yang harus turun agar tanah tidak mati. Ada musim gugur dalam jiwa yang justru diperlukan agar manusia belajar melepaskan daun-daun lama dirinya.

 

Kita terlalu cepat mengusir kesedihan sehingga lupa bertanya: apa yang sebenarnya hendak disampaikan kesedihan kepada kita?

 

Ketika Luka Dianggap Kesalahan

 

Kebudayaan modern sering memperlakukan rasa sakit sebagai kegagalan sistem.

 

Kita ingin tubuh tanpa penyakit, hubungan tanpa konflik, karier tanpa kegagalan, keluarga tanpa pertengkaran, kehidupan tanpa kehilangan.

Padahal kehidupan tidak pernah menandatangani kontrak semacam itu.

 

Kematian akan tetap datang kepada orang kaya maupun miskin. Perpisahan tetap mungkin terjadi kepada mereka yang saling mencintai. Kegagalan dapat mengetuk pintu siapa saja. Bahkan orang yang telah melakukan segala sesuatu dengan benar tetap dapat menemukan dirinya berada di jalan yang salah.

 

Mungkin persoalannya bukan karena hidup terlalu kejam, melainkan karena kita menuntut hidup untuk selalu ramah.

 

Dan di situlah pencarian kebahagiaan modern sering berbelok menjadi pencarian kendali. Kita ingin mengatur segala sesuatu agar hidup sesuai dengan kehendak kita. Ketika kenyataan menolak, kita menyebutnya ketidakbahagiaan.

 

Padahal boleh jadi kebahagiaan bukan persoalan mengendalikan kehidupan, melainkan kemampuan untuk tidak selalu dikendalikan oleh keinginan.

 

Jalan Pulang ke Dalam

 

Di sinilah lensa sufistik menawarkan jalan yang hampir berlawanan dengan kebudayaan konsumtif.

Jika dunia mengajarkan kita menambah, kesufian mengajarkan mengurangi.

Jika pasar berkata, “Miliki lebih banyak,” jalan batin berkata, “Lepaskan.”

Jika ego berkata, “Jadilah seseorang,” pengalaman mistik berbisik, “Luruhkan keakuanmu.”

 

Dalam tradisi kesufian, manusia justru menemukan kekayaan melalui kefakiran: fakir bukan semata-mata miskin secara material, melainkan kesadaran bahwa segala sesuatu yang kita genggam pada akhirnya bukan benar-benar milik kita.

 

Maka kebahagiaan yang lahir dari kepemilikan selalu mengandung kecemasan kehilangan. Semakin banyak yang kita miliki, semakin banyak pula yang harus kita jaga. Rumah menjadi tanggung jawab, kendaraan menjadi kecemasan, reputasi menjadi beban, popularitas menjadi penjara.

 

Kita membeli banyak kunci, lalu lupa bahwa sebagian besar kunci itu digunakan untuk mengunci diri sendiri.

 

Sufisme membawa manusia kepada paradoks yang lebih dalam: untuk menemukan diri, seseorang harus berani kehilangan dirinya.

Bukan kehilangan keberadaan, melainkan kehilangan ego yang terus-menerus ingin menjadi pusat semesta.

 

Di dalam keheningan, manusia perlahan menyadari bahwa kebahagiaan tidak selalu berupa rasa senang. Ia dapat hadir sebagai ketenteraman yang tidak membutuhkan alasan.

Ia seperti cahaya pagi yang masuk melalui celah jendela: tidak mengumumkan kedatangannya, tetapi membuat kita tiba-tiba mampu melihat debu yang selama ini kita abaikan.

 

Barangkali inilah yang sering hilang dari kehidupan modern: kemampuan untuk diam tanpa merasa kehilangan sesuatu.

 

Kita takut sunyi karena dalam sunyi kita berjumpa dengan diri sendiri. Maka kita menyalakan televisi, membuka telepon, menggulir layar, mencari percakapan, mencari hiburan, mencari apa saja—asal tidak bertemu dengan ruang kosong di dalam dada.

Padahal ruang kosong itu mungkin bukan kekurangan.

Ia mungkin pintu.

 

Berhenti Memburu

 

Pada akhirnya, mungkin kebahagiaan tidak pernah benar-benar hilang. Kitalah yang terlalu sibuk mengejarnya sampai tidak sempat menyadari bahwa ia sedang menemani perjalanan.

Kita mencari kebahagiaan seperti orang mencari kacamata yang sebenarnya sedang dipakainya.

Kita pergi ke banyak tempat untuk menemukan rumah, padahal yang paling jauh adalah rumah di dalam diri sendiri.

 

Karena itu, mungkin tugas manusia bukan menjadi bahagia setiap saat.

Tugas manusia adalah menjadi utuh menerima bahwa hidup terdiri atas terang dan gelap, kehilangan dan perjumpaan, kelahiran dan kematian, keberhasilan dan kegagalan.

Kebahagiaan yang matang tidak mengusir kesedihan. Ia memberi kesedihan tempat untuk duduk.

Ia tidak menyangkal luka. Ia mengajarkan kita membaca luka tanpa menjadikannya identitas.

Ia tidak menuntut kehidupan sempurna. Ia mengajarkan cara berdamai dengan sesuatu yang tidak dapat kita sempurnakan.

 

Maka pada suatu titik, manusia mungkin perlu berhenti berlari.

Bukan karena ia telah sampai.

Melainkan karena ia akhirnya sadar: selama ini tidak ada garis akhir.

Kebahagiaan bukan kota di penghujung jalan yang harus kita taklukkan. Ia adalah cara berjalan ketika kita tidak lagi memaksa jalan untuk membawa kita ke tempat yang kita inginkan.

 

Dan mungkin, pada saat itulah, ketika ego berhenti membuat daftar tentang apa yang belum dimiliki, ketika tangan perlahan terbuka dari genggaman, ketika manusia bersedia duduk bersama ketidaksempurnaan hidupnya sendiri, sesuatu yang sederhana tiba-tiba terjadi:

kita tidak lagi mencari kebahagiaan.

 

Kita hanya hadir.

Dan dalam kehadiran yang sunyi itu, tanpa kamera, tanpa tepuk tangan, tanpa sertifikat keberhasilan, kita menemukan bahwa yang selama ini kita kejar ternyata tidak pernah berlari ke mana-mana.

Kitalah yang terlalu jauh meninggalkan diri sendiri.

 

Cilangkap, Awal Oktober 2026

 


Tentang Penulis:


Riswo Mulyadi, adalah seorang guru MI Ma’arif NU 1 Cilangkap yang hobi membaca, menulis, dan mengamati keadaan. Sehari-hari disibukkan dengan rutinitas mengajar, mendidik, dan tentu saja suka ngopi dan puisi serta geguritan banyumasan. Tinggal di Karang Anjog, Cihonje Gumelar, Indonesia.

 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama