Kemarau Berkepanjangan, SDN 2 Cirahab Gelar Salat Istisqa dan Ajak Siswa Merawat Lingkungan


CIRAHAB, Info Banyumas. Menghadapi kemarau berkepanjangan yang menyebabkan kekurangan air bersih, keluarga besar SD Negeri 2 Cirahab, Kecamatan Lumbir, Kabupaten Banyumas, menggelar salat istisqa pada Jumat (16/10/2026). Kegiatan yang berlangsung di halaman sekolah tersebut diikuti seluruh siswa, guru, dan karyawan sebagai ikhtiar spiritual memohon turunnya hujan sekaligus menanamkan nilai keimanan dan kepedulian terhadap lingkungan sejak dini.


Di bawah hangatnya sinar matahari, para siswa berbaris membentuk saf dengan tertib. Suasana khusyuk menyelimuti halaman sekolah ketika takbir dikumandangkan dan doa-doa dipanjatkan. Di tengah kondisi lingkungan yang mengalami kekeringan, kegiatan tersebut menjadi momentum bagi warga sekolah untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. seraya berharap hujan segera turun dan kebutuhan air masyarakat kembali terpenuhi.


Baca juga:

Salat istisqa merupakan salat sunah yang dilaksanakan untuk memohon kepada Allah agar menurunkan hujan ketika terjadi kekeringan. Bagi warga SD Negeri 2 Cirahab, pelaksanaannya bukan sekadar kegiatan keagamaan, melainkan juga bagian dari pendidikan karakter yang mengajarkan ikhtiar, kesabaran, kebersamaan, dan kesadaran bahwa manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga kelestarian alam.


Kekurangan Air Bersih Mengganggu Aktivitas Sekolah

Kemarau yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir berdampak terhadap ketersediaan air bersih di Desa Cirahab, termasuk di lingkungan SD Negeri 2 Cirahab. Kebutuhan air untuk aktivitas harian sekolah menjadi persoalan yang harus dihadapi, sementara berbagai upaya untuk mendapatkan sumber air belum memberikan hasil yang memadai.


Kepala SD Negeri 2 Cirahab, Hari Mulyanto, menjelaskan bahwa kondisi kekurangan air tidak hanya dirasakan oleh pihak sekolah, tetapi juga oleh masyarakat sekitar. Sejumlah warga bahkan harus mengambil air dari sumber yang lokasinya cukup jauh dari tempat tinggal mereka.


“Kami benar-benar kekurangan air bersih, bukan hanya di sekolah, akan tetapi di rumah penduduk pun sudah ‘ngangsu’ dari sumber air yang letaknya jauh,” papar Hari Mulyanto.


Menurutnya, keterbatasan air tersebut turut memengaruhi pelaksanaan sejumlah kegiatan pembiasaan keagamaan di sekolah. Program salat Zuhur berjemaah dan salat Duha berjemaah untuk sementara terpaksa ditiadakan karena kebutuhan air untuk bersuci belum dapat terpenuhi secara memadai.


“Beberapa program sekolah seperti salat Zuhur berjemaah dan salat Duha berjemaah terpaksa ditiadakan karena keadaan tersebut,” lanjutnya.


Kondisi itu menunjukkan bahwa ketersediaan air bersih memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas pendidikan, termasuk pelaksanaan pembiasaan hidup bersih dan kegiatan keagamaan. Ketika sumber air terbatas, sekolah harus menyesuaikan kegiatan dengan kondisi yang ada tanpa mengabaikan kebutuhan dasar peserta didik.


Sebelum melaksanakan salat istisqa, berbagai upaya nyata telah dilakukan untuk mencari sumber air. Upaya tersebut meliputi pencarian sumber air di kawasan pegunungan, pendalaman sumur yang sudah tersedia, hingga penggalian sumur baru di kawasan Sungai Dengat, yang berada di sekitar area sekolah.


Namun, sejumlah upaya tersebut belum menghasilkan pasokan air yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Keadaan inilah yang mendorong warga sekolah untuk melengkapi usaha lahiriah dengan ikhtiar spiritual melalui kegiatan Jumat Beribadah.


Jumat Beribadah Diisi Salat Istisqa

Guru Pendidikan Agama dan Budi Pekerti SD Negeri 2 Cirahab, Amar Mawwas, S.Pd.I., menginisiasi pelaksanaan salat istisqa sebagai bagian dari program Jumat Beribadah. Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai pengganti kegiatan salat Duha berjemaah yang untuk sementara belum dapat berjalan akibat keterbatasan air bersih.



Amar Mawwas bertindak sebagai imam sekaligus khatib. Dalam khotbahnya, ia mengangkat tema “Jagat Terus Dirawat, Air Terus Mengalir”. Tema tersebut menekankan hubungan antara permohonan turunnya hujan, tanggung jawab manusia terhadap lingkungan, dan pentingnya menjaga keseimbangan alam.


Melalui pesan yang disampaikan, para siswa diajak memahami bahwa manusia memiliki amanah sebagai khalifah di bumi. Tanggung jawab tersebut tidak hanya diwujudkan melalui doa, tetapi juga melalui tindakan nyata untuk menjaga lingkungan dan menghindari perbuatan yang dapat menimbulkan kerusakan.


“ Hari ini kita berkumpul dalam kebersamaan, bermunajat mengetuk pintu langit mengharapkan keberkahan turunnya hujan untuk keberlanjutan kehidupan bumi. Dalam menjalankan misi menjadi khalifah di bumi berupa merawat jagat, kita telah diingatkan oleh Allah untuk tidak berbuat kerusakan setelah Allah menciptakannya dengan sempurna, dan menjaga jagat ini adalah tanggung jawab bersama,” tutur Amar dalam khotbahnya.


Baca juga:

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian dari nilai keagamaan yang perlu ditanamkan kepada anak-anak sejak usia sekolah dasar. Menjaga alam bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau kelompok tertentu, melainkan tanggung jawab bersama yang dapat dimulai dari kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.


Bagi peserta didik, pengalaman mengikuti salat istisqa juga menjadi pembelajaran langsung tentang bagaimana sebuah komunitas menghadapi persoalan bersama. Mereka dapat melihat bahwa ketika masyarakat mengalami kesulitan, kebersamaan, doa, dan usaha nyata dapat berjalan beriringan.


Menanamkan Nilai Religius dan Kepedulian Lingkungan

Pelaksanaan salat istisqa di SD Negeri 2 Cirahab memiliki tujuan pendidikan yang lebih luas daripada sekadar memohon hujan. Kegiatan ini menjadi sarana mengenalkan kepada siswa pentingnya mengiringi usaha lahiriah dengan ikhtiar batin, disertai kesabaran dan sikap berserah diri kepada Allah Swt.


Dalam pendidikan agama, pengalaman keagamaan yang dilaksanakan secara bersama-sama dapat menjadi sarana pembiasaan nilai-nilai religius. Siswa tidak hanya mempelajari konsep ibadah melalui penjelasan guru, tetapi juga menyaksikan dan mengikuti praktiknya secara langsung sesuai dengan tuntunan yang diajarkan.


Di sisi lain, tema khotbah yang mengangkat pentingnya merawat bumi memberikan ruang untuk menghubungkan pendidikan agama dengan kepedulian ekologis. Persoalan kekeringan dapat menjadi bahan pembelajaran mengenai pentingnya menjaga sumber air, menggunakan air secara bijak, serta memelihara lingkungan di sekitar sekolah dan rumah.


Nilai-nilai tersebut dapat diterapkan melalui tindakan sederhana, seperti tidak membiarkan keran air terbuka, menggunakan air secukupnya, menjaga kebersihan sumber air, dan tidak membuang sampah sembarangan. Pembiasaan semacam ini penting agar siswa memahami bahwa menjaga lingkungan tidak cukup hanya melalui nasihat, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.


Meski demikian, salat istisqa merupakan ikhtiar spiritual, sedangkan pemenuhan kebutuhan air bersih tetap memerlukan langkah nyata yang berkelanjutan. Pencarian sumber air, pengelolaan penggunaan air, serta dukungan berbagai pihak menjadi bagian penting dalam menghadapi dampak kekeringan.


Bagi sekolah, keadaan ini juga menjadi pengingat pentingnya memperhatikan ketersediaan air bersih sebagai salah satu kebutuhan dasar yang menunjang kesehatan, kebersihan, dan kelancaran kegiatan belajar mengajar.


Berharap Hujan Turun, Ikhtiar Terus Dilanjutkan

Melalui kegiatan Jumat Beribadah yang diisi salat istisqa, keluarga besar SD Negeri 2 Cirahab berharap hujan segera turun sehingga ketersediaan air bersih di lingkungan sekolah dan masyarakat Desa Cirahab dapat membaik. Doa yang dipanjatkan bersama menjadi wujud harapan sekaligus penguat kebersamaan di tengah situasi yang tidak mudah.


Baca juga:

Kegiatan tersebut juga menegaskan bahwa pendidikan dapat hadir melalui pengalaman nyata yang dekat dengan kehidupan siswa. Persoalan kekeringan tidak hanya menjadi masalah yang dirasakan, tetapi juga dapat menjadi pelajaran tentang keteguhan, kepedulian sosial, nilai spiritual, dan tanggung jawab terhadap alam.


Di tengah keterbatasan air, warga SD Negeri 2 Cirahab berusaha menjaga semangat kebersamaan sembari terus menghadapi persoalan yang ada. Ikhtiar lahiriah dan batiniah diharapkan dapat berjalan beriringan, disertai kesadaran bahwa air merupakan sumber kehidupan yang harus dijaga dan dimanfaatkan secara bertanggung jawab.


Salat istisqa pada Jumat, 16 Oktober 2026, menjadi simbol harapan warga sekolah agar kemarau segera berakhir. Lebih dari itu, kegiatan tersebut membawa pesan bahwa merawat bumi, menjaga sumber air, dan membangun kepedulian terhadap sesama merupakan tanggung jawab bersama yang perlu ditanamkan sejak dini.


Kontributor: Bung Harry

Editor: Suripto

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama