BANYUMAS, INFO BANYUMAS – Transformasi pendidikan di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak cukup hanya dengan menghadirkan teknologi ke sekolah. Lebih dari itu, teknologi harus mampu membantu guru berkembang, memperkuat kualitas pembelajaran, dan memastikan setiap keputusan pendidikan berpijak pada kebutuhan nyata peserta didik.
Semangat itulah yang tercermin dalam inovasi SIGAP RASA (Sistem Informasi Gumelar untuk Asesmen dan Pembelajaran) yang dikembangkan Waryanto, Kepala SMP Negeri 1 Gumelar, Kabupaten Banyumas. Inovasi ini memadukan jurnal refleksi guru, supervisi digital, dasbor pemantauan, dan pemanfaatan kecerdasan buatan untuk mendukung pengelolaan pembelajaran yang lebih terarah dan berbasis data.
SIGAP RASA dirancang untuk membantu sekolah membangun budaya refleksi dan perbaikan berkelanjutan. Melalui sistem tersebut, kepala sekolah dapat memanfaatkan informasi hasil refleksi dan supervisi sebagai bahan menentukan tindak lanjut pendampingan guru. Dengan demikian, supervisi tidak berhenti pada kegiatan pemeriksaan atau penilaian, tetapi menjadi bagian dari proses peningkatan kompetensi dan kualitas pembelajaran.
Inovasi ini mendapat apresiasi dari Ketua PGRI Kabupaten Banyumas, Sarno, S.Pd., S.H., M.Si. Menurutnya, langkah yang dilakukan Kepala SMP Negeri 1 Gumelar menunjukkan bahwa transformasi pendidikan harus dimulai dari keberanian membaca kebutuhan sekolah, membangun solusi, dan menghadirkan perubahan yang berdampak bagi guru maupun peserta didik.
“PGRI Kabupaten Banyumas mengapresiasi inovasi SIGAP RASA yang dikembangkan oleh Bapak Waryanto. Bagi kami, nilai penting inovasi ini bukan semata-mata pada penggunaan aplikasi atau kecerdasan buatan, melainkan pada ikhtiar menjadikan data sebagai dasar perbaikan pembelajaran dan refleksi sebagai budaya profesional guru,” demikian draf pernyataan apresiasi Ketua PGRI Kabupaten Banyumas.
Sarno menegaskan, guru tidak boleh hanya diposisikan sebagai pelaksana administrasi dan objek supervisi. Guru merupakan tenaga profesional yang membutuhkan kepercayaan, ruang untuk bertumbuh, pendampingan yang bermakna, serta kesempatan untuk memperbaiki praktik pembelajarannya secara berkelanjutan.
“Teknologi seharusnya meringankan pekerjaan yang tidak perlu, membantu guru melihat kebutuhan pembelajaran secara lebih jernih, dan memberikan ruang lebih besar bagi guru untuk mendidik. Jangan sampai sekolah terlihat semakin digital, tetapi guru justru semakin terbebani oleh administrasi. Ukuran keberhasilan inovasi bukan banyaknya fitur yang digunakan, melainkan manfaat nyata yang dirasakan guru dan peserta didik,” menjadi pesan yang relevan dalam transformasi pendidikan.
Menurut Sarno, pemanfaatan AI juga harus ditempatkan secara proporsional. Kecerdasan buatan dapat membantu mengolah informasi, membaca kecenderungan, dan memberikan bahan pertimbangan. Namun, keputusan pendidikan tetap memerlukan pertimbangan profesional, kearifan, empati, dan tanggung jawab manusia.
“Data dapat menunjukkan apa yang perlu diperbaiki, tetapi hati nurani dan kompetensi gurulah yang membantu menentukan bagaimana perbaikan itu dilakukan. AI boleh menjadi alat bantu, tetapi tidak boleh menggantikan relasi kemanusiaan antara guru dan peserta didik. Pendidikan bukan sekadar memindahkan pengetahuan, melainkan membangun karakter, menumbuhkan potensi, dan memuliakan manusia,” demikian pesan yang ingin ditekankan dalam pengembangan inovasi pendidikan.
Bagi PGRI, inovasi SIGAP RASA juga menjadi pengingat bahwa kepemimpinan sekolah memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem pembelajaran yang sehat. Kepala sekolah bukan sekadar pengelola administrasi, melainkan pemimpin pembelajaran yang mampu menggerakkan guru, membangun kolaborasi, dan memastikan setiap kebijakan berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan.
Semangat tersebut sejalan dengan tema PGRI POWER: Akselerasi Transformasi Pendidikan Indonesia di Era AI. Transformasi yang dibutuhkan bukan hanya perubahan dari sistem manual menuju digital, tetapi juga perubahan cara berpikir, budaya kerja, dan pendekatan dalam mendampingi guru agar semakin profesional dan berdaya.
Dalam penerapannya, pengelolaan data harus tetap memperhatikan perlindungan informasi pribadi, pembatasan akses sesuai kewenangan, serta penggunaan data secara objektif dan bertanggung jawab. Data supervisi seharusnya menjadi dasar pembinaan dan perbaikan, bukan semata-mata alat untuk memberi label atau menghakimi kinerja guru.
PGRI Kabupaten Banyumas berharap SIGAP RASA dapat menjadi inspirasi bagi satuan pendidikan lain untuk mengembangkan inovasi sesuai tantangan dan karakteristik sekolah masing-masing. Praktik baik seperti ini perlu terus dibagikan, dievaluasi, dan dikembangkan agar manfaatnya tidak berhenti pada satu satuan pendidikan.
Pada akhirnya, keberhasilan transformasi pendidikan tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang dimiliki sekolah, melainkan oleh seberapa jauh teknologi tersebut membantu guru mengajar dengan lebih baik dan peserta didik belajar dengan lebih bermakna.
SIGAP RASA menghadirkan pesan penting: data membantu sekolah membaca kebutuhan, teknologi membuka peluang perbaikan, dan hati memastikan pendidikan tetap memuliakan manusia.
INFO BANYUMAS — Terkini dan Terpercaya
Penulis: Suripto
Editor: Yusep Kurniawan

Posting Komentar