KI SEMAR Hadirkan Cara Asyik Belajar Aksara Jawa, Ketua PGRI Banyumas: Teknologi Harus Menghidupkan Budaya


BANYUMAS, INFO BANYUMAS – Belajar Aksara Jawa kini tak harus terpaku pada buku dan hafalan. Melalui inovasi KI SEMAR (Kelas Interaktif Sarana Edukasi Modern Aksara Jawa), SD Negeri 2 Wangon, Kabupaten Banyumas, menghadirkan pembelajaran yang lebih interaktif dengan memadukan teknologi digital dan pelestarian budaya lokal.


Mengusung konsep “Maca lan Nulis Aksara Jawa dengan Web Interaktif”, KI SEMAR dirancang untuk membantu siswa mengenal, membaca, dan menulis Aksara Jawa melalui aplikasi berbasis web yang terintegrasi dengan Papan Interaktif Digital (PID).


Inovasi ini berangkat dari tantangan pembelajaran Bahasa Jawa di sekolah dasar. Bagi sebagian siswa, memahami bentuk aksara, pasangan, sandhangan, hingga angka Jawa membutuhkan latihan berulang dan pendampingan yang tepat. Pembelajaran yang hanya mengandalkan buku teks terkadang belum cukup untuk membangun keterlibatan siswa secara optimal.


KI SEMAR menawarkan pendekatan berbeda. Siswa tidak hanya membaca materi atau mendengarkan penjelasan guru, tetapi juga berkesempatan mencoba, berlatih, menjawab tantangan, dan berinteraksi langsung dengan materi melalui media digital.


Aplikasi Maca lan Nulis Aksara Jawa dilengkapi sejumlah fitur yang mendukung proses belajar secara bertahap. Menu Aksara & Unine membantu siswa mengenali bentuk aksara beserta bunyinya. Fitur Gladen Nulis & Converter menyediakan sarana latihan menulis melalui kanvas digital dan fitur transliterasi. Sementara itu, menu Gladen Maca memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih membaca Aksara Jawa secara bertahap.


Untuk membuat proses belajar semakin menarik, tersedia fitur Game & Tantangan yang menghadirkan latihan edukatif berbasis skor agar siswa dapat menguji pemahamannya dengan cara yang menyenangkan. Adapun menu Progress mendukung pencatatan aktivitas dan pencapaian belajar sehingga perkembangan pembelajaran dapat dipantau dan menjadi bahan evaluasi guru.


Ketika digunakan bersama Papan Interaktif Digital, aplikasi ini membuka ruang pembelajaran yang lebih partisipatif. Siswa dapat terlibat langsung di depan kelas, sementara guru berperan sebagai pendamping yang memberikan arahan, penguatan materi, dan umpan balik sesuai kebutuhan peserta didik. Dengan pendekatan tersebut, pembelajaran Aksara Jawa diharapkan menjadi lebih hidup sekaligus membantu siswa membangun pemahaman melalui pengalaman belajar yang menyenangkan.


Hal menarik dari KI SEMAR adalah proses pengembangannya yang memanfaatkan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) dan pengodean (coding). Dalam pengembangan aplikasi, Gemini AI dimanfaatkan untuk membantu penyusunan kode Google Apps Script, sedangkan Google Spreadsheet digunakan sebagai basis data pendukung.


Pemanfaatan teknologi tersebut menunjukkan bahwa pendidik dapat mengeksplorasi berbagai perangkat digital untuk merancang media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan di sekolah. AI dalam konteks ini bukan pengganti guru, melainkan alat bantu untuk mendukung kreativitas dan memperluas peluang pengembangan pembelajaran. Keberhasilan penerapannya tetap bergantung pada ketepatan materi, kemampuan guru mengelola pembelajaran, serta evaluasi terhadap manfaatnya bagi siswa.


Inovasi KI SEMAR juga memperlihatkan bahwa transformasi digital di sekolah tidak selalu harus dimulai dengan sistem yang rumit. Kreativitas, kemauan belajar, dan keberanian mencoba teknologi dapat menjadi langkah awal untuk menghadirkan solusi atas tantangan pembelajaran sehari-hari.


Ketua PGRI Kabupaten Banyumas, Sarno, S.Pd., S.H., M.Si., menempatkan adaptasi teknologi dan penguatan karakter sebagai dua hal yang perlu berjalan beriringan dalam pendidikan. Semangat inovasi seperti KI SEMAR sejalan dengan kebutuhan menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya bangsa.


Pemanfaatan teknologi dalam pendidikan tidak semestinya berhenti pada penggunaan perangkat digital di ruang kelas. Teknologi perlu memberikan manfaat nyata, membantu siswa memahami materi, serta membuka ruang bagi guru untuk mengembangkan metode pembelajaran yang kreatif dan bermakna.


KI SEMAR membawa pesan penting bahwa teknologi modern dapat menjadi jembatan pelestarian budaya. Melalui media yang dekat dengan keseharian anak, Aksara Jawa berpeluang hadir bukan sekadar sebagai materi pelajaran, melainkan sebagai warisan budaya yang menarik untuk dikenali, dipelajari, dan dicintai.


Guru pun tetap memegang peran utama dalam proses tersebut. Kecerdasan artifisial dapat membantu penyusunan materi dan pengembangan media, tetapi keteladanan, pendampingan, pembentukan karakter, serta sentuhan kemanusiaan dalam pendidikan tetap membutuhkan peran pendidik. Guru yang adaptif bukan hanya mampu menggunakan teknologi, melainkan juga mampu menentukan kapan dan bagaimana teknologi digunakan agar pembelajaran benar-benar memberikan manfaat bagi peserta didik.


Pendekatan yang dikembangkan melalui KI SEMAR memiliki keterkaitan dengan semangat pembelajaran mendalam (Deep Learning), yaitu mendorong siswa memahami materi, menerapkannya, dan merefleksikan proses belajar, bukan sekadar menghafal. Dalam pembelajaran Aksara Jawa, siswa dapat mengenali bentuk dan bunyi aksara, mencoba menuliskannya, membaca rangkaian kata, hingga menguji pemahaman melalui latihan interaktif. Guru kemudian memberikan penguatan dan pendampingan agar siswa semakin memahami materi yang dipelajari.


Efektivitas inovasi ini tetap perlu ditinjau secara berkala. Keterlibatan siswa, perkembangan keterampilan membaca dan menulis Aksara Jawa, serta hasil evaluasi pembelajaran menjadi aspek penting untuk melihat manfaat penerapannya. Pengelolaan data aktivitas siswa juga perlu memperhatikan keamanan dan kerahasiaan informasi pribadi agar pemanfaatan teknologi berlangsung secara bertanggung jawab.


Lebih dari sekadar penggunaan aplikasi digital, KI SEMAR membawa semangat untuk menjaga agar budaya lokal tetap hadir dalam pengalaman belajar generasi muda. Aksara Jawa merupakan bagian dari kekayaan sejarah, pengetahuan, dan identitas masyarakat Jawa. Karena itu, mengenalkannya melalui pendekatan yang sesuai dengan perkembangan zaman menjadi salah satu upaya untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya tersebut.


Inovasi ini juga berpotensi menjadi inspirasi bagi sekolah lain untuk mengembangkan media pembelajaran kreatif berdasarkan karakteristik mata pelajaran dan potensi budaya di lingkungan masing-masing, dengan tetap memperhatikan kebutuhan siswa serta kualitas materi.


KI SEMAR mempertemukan kreativitas pendidik, pemanfaatan teknologi, dan pelestarian budaya dalam satu ruang pembelajaran. Upaya tersebut menegaskan bahwa kemajuan pendidikan bukan semata-mata tentang kecanggihan perangkat, melainkan tentang bagaimana teknologi digunakan untuk membuat pembelajaran lebih bermakna.


Sebab, pendidikan yang baik tidak hanya menyiapkan generasi yang mampu mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga membentuk generasi yang mengenal akar budayanya, menghargai warisannya, dan bangga menjadi bagian dari Indonesia.


Penulis: Andi Dwi Atmoko 

Editor: Suripto 

INFO BANYUMAS — Terkini dan Terpercaya

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama