Belajar Wirausaha Sejak Dini, TK Pertiwi 1 Cingebul Ajak Anak Praktik Membuat dan Menjual Telur Asin


Cingebul, Info Banyumas. Suasana berbeda tampak di lingkungan TK Pertiwi 1 Cingebul pada Rabu, 20 Mei 2026. Puluhan anak usia dini terlihat antusias mengikuti praktik pembuatan telur asin yang dilaksanakan melalui kolaborasi antara TK Pertiwi 1 Cingebul dengan Kelompok Wanita Tani (KWT) Mugi Barokah Desa Cingebul. Kegiatan edukatif tersebut tidak hanya mengenalkan proses pengolahan makanan tradisional kepada anak-anak, tetapi juga menjadi sarana menanamkan jiwa kewirausahaan sejak usia dini melalui pengalaman belajar yang nyata dan menyenangkan.


Kegiatan yang berlangsung di lingkungan sekolah tersebut melibatkan guru, orang tua siswa, serta pengurus KWT Mugi Barokah Desa Cingebul. Sejak pagi hari, anak-anak tampak bersemangat mengikuti setiap tahapan kegiatan mulai dari mengenal bahan dasar telur asin, proses pengolahan, perebusan, hingga praktik menjual hasil produk yang telah dibuat bersama. Para siswa terlihat aktif bertanya dan mencoba secara langsung dengan pendampingan guru serta anggota KWT.


Pembelajaran berbasis praktik seperti ini menjadi salah satu inovasi pendidikan anak usia dini yang menggabungkan keterampilan hidup (life skill) dengan pembentukan karakter mandiri dan kreatif. Anak-anak tidak hanya belajar mengenal makanan tradisional, tetapi juga memahami bahwa sebuah produk memiliki proses panjang sebelum akhirnya dapat dijual dan dinikmati masyarakat.


Kepala TK Pertiwi 1 Cingebul, Uswatun Munawaroh, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang kontekstual kepada peserta didik. Menurutnya, pendidikan anak usia dini perlu menghadirkan pembelajaran yang dekat dengan kehidupan sehari-hari agar anak lebih mudah memahami makna dari setiap kegiatan yang dilakukan.


“Kami ingin anak-anak belajar langsung dari praktik nyata. Mulai dari proses membuat telur asin, memasak, sampai bagaimana hasilnya bisa dijual. Dari situ anak-anak belajar tentang kerja keras, proses, tanggung jawab, dan keberanian berinteraksi dengan orang lain,” ujar Uswatun Munawaroh.


Ia menambahkan bahwa kolaborasi dengan KWT Mugi Barokah menjadi langkah positif karena anak-anak dapat belajar langsung dari masyarakat yang memang memiliki keterampilan dalam bidang pengolahan pangan. Selain memperkuat hubungan sekolah dengan lingkungan sekitar, kegiatan tersebut juga menjadi bentuk pelestarian makanan tradisional lokal kepada generasi muda.


“Anak-anak terlihat sangat antusias karena mereka belajar sambil bermain dan mencoba langsung. Ini jauh lebih bermakna dibanding hanya melihat gambar atau mendengarkan penjelasan di kelas,” tambahnya.



Dalam kegiatan tersebut, anggota KWT Mugi Barokah memberikan penjelasan sederhana mengenai bahan-bahan yang digunakan untuk membuat telur asin, seperti telur bebek, garam, dan abu gosok. Anak-anak kemudian diajak melihat proses pelumuran telur menggunakan adonan garam hingga tahap penyimpanan sebelum telur direbus. Tidak sedikit siswa yang terlihat penasaran dan terus mengajukan pertanyaan kepada para pendamping.


Setelah proses pengolahan selesai, anak-anak juga diajak melihat tahapan perebusan telur asin hingga siap dikonsumsi. Aroma khas telur asin yang matang membuat suasana semakin meriah. Anak-anak tampak bangga saat hasil olahan mereka berhasil matang dengan baik. Menariknya, kegiatan tidak berhenti pada proses produksi saja. Guru dan orang tua siswa turut berperan sebagai pembeli hasil telur asin yang telah dibuat anak-anak.


Melalui simulasi sederhana tersebut, siswa dikenalkan pada konsep dasar kewirausahaan, seperti menghasilkan produk, menawarkan barang, dan melakukan transaksi jual beli secara sederhana. Meski masih dalam tahap bermain, kegiatan ini dinilai mampu menumbuhkan rasa percaya diri dan keberanian anak untuk berinteraksi dengan orang lain.


Penilik TK/PAUD Kecamatan Lumbir, Eko Adi P, dalam keterangannya memberikan apresiasi terhadap kegiatan kreatif yang dilaksanakan TK Pertiwi 1 Cingebul. Menurutnya, pembelajaran seperti ini sangat penting untuk membentuk karakter anak sejak usia dini, terutama dalam menanamkan nilai kemandirian, kreativitas, dan jiwa kewirausahaan.


“Kegiatan seperti ini sangat baik karena anak-anak belajar dari pengalaman nyata. Mereka tidak hanya mengenal teori, tetapi langsung mempraktikkan proses membuat produk hingga menjualnya. Ini menjadi bekal yang sangat bagus untuk membangun karakter mandiri dan kreatif sejak kecil,” ungkap Eko Adi P.


Ia juga menilai bahwa pembelajaran kontekstual berbasis lingkungan mampu meningkatkan rasa ingin tahu dan semangat belajar anak-anak. Dengan melibatkan unsur masyarakat seperti KWT, anak-anak akan lebih mudah memahami bahwa ilmu yang dipelajari di sekolah juga berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.


“Kegiatan kolaboratif seperti ini perlu terus dikembangkan karena memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna bagi anak usia dini,” tambahnya.


Sementara itu, para orang tua siswa juga menyambut positif kegiatan tersebut. Mereka menilai anak-anak menjadi lebih berani, aktif, dan tertarik mencoba hal-hal baru. Beberapa orang tua bahkan mengaku terharu melihat anak-anak mampu menjelaskan proses pembuatan telur asin dengan penuh semangat setelah kegiatan selesai.


Salah satu guru pendamping menjelaskan bahwa setelah kegiatan berlangsung, banyak siswa yang mengaku ingin mencoba membuat telur asin kembali di rumah bersama keluarga mereka. Hal tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran praktik memberikan kesan mendalam bagi anak-anak.


Kegiatan membuat telur asin ini sekaligus menjadi bukti bahwa pendidikan anak usia dini tidak selalu harus berlangsung di dalam kelas dengan metode konvensional. Melalui aktivitas sederhana yang dekat dengan kehidupan masyarakat, anak-anak justru memperoleh pengalaman belajar yang lebih kaya dan bermakna. Mereka belajar mengenal proses, menghargai hasil kerja, membangun kerja sama, hingga memahami nilai ekonomi secara sederhana.


Kolaborasi antara TK Pertiwi 1 Cingebul dan KWT Mugi Barokah Desa Cingebul juga memperlihatkan pentingnya sinergi antara sekolah dan masyarakat dalam mendukung pendidikan anak. Dengan keterlibatan berbagai pihak, pembelajaran menjadi lebih hidup, kontekstual, dan mampu membentuk karakter anak secara menyeluruh.


Di tengah tantangan pendidikan modern yang semakin kompleks, langkah sederhana yang dilakukan TK Pertiwi 1 Cingebul ini menjadi inspirasi bahwa menanamkan jiwa kewirausahaan dapat dimulai sejak dini melalui pengalaman nyata dan menyenangkan. Dari telur asin sederhana, anak-anak belajar tentang proses kehidupan, kerja keras, kreativitas, dan keberanian untuk berkarya.


Kontributor: Uswatun M.
Editor: Eko Adi P

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama