MEMBANGKITKAN
NILAI KEBANGKITAN
Oleh:
Riswo Mulyadi
Di balik peringatannya yang rutin setiap tahun, Hari Kebangkitan Nasional
sesungguhnya menyimpan pertanyaan filosofis yang lebih dalam daripada sekadar
urusan sejarah: kapan sebuah bangsa dapat disebut benar-benar bangkit?
Sebab bangkit dari tidur, dalam pengertian yang paling hakiki,
bukan sekadar membuka mata. Banyak manusia terjaga sejak pagi, tetapi
pikirannya tetap tertidur. Banyak bangsa tampak bergerak, tetapi kehilangan
arah karena tidak lagi mengenali makna keberadaannya sendiri.
Kebangkitan nasional lahir ketika manusia mulai sadar akan
martabatnya.
Pada masa kolonial, penjajahan tidak hanya bekerja melalui kekuatan
senjata, melainkan juga melalui pembentukan mentalitas. Rakyat dibuat merasa
kecil, tidak mampu, dan bergantung. Dalam keadaan demikian, kesadaran
menjadi sesuatu yang revolusioner. Ketika kaum terpelajar bumiputra mulai
membaca, berdiskusi, dan memahami ketidakadilan yang mereka alami, lahirlah
cara pandang baru terhadap diri dan bangsanya.
Di titik itu, kebangkitan sebenarnya terjadi di dalam batin
manusia.
Karena itu, nilai filosofis Hari Kebangkitan Nasional tidak
berhenti pada lahirnya Budi Utomo atau tumbuhnya organisasi pergerakan. Yang
lebih penting adalah munculnya kesadaran kolektif bahwa manusia tidak boleh
kehilangan kemerdekaan berpikir.
Kesadaran itulah yang membedakan manusia dari sekadar kerumunan.
Secara filosofis, kebangkitan nasional juga mengajarkan bahwa
identitas bangsa tidak lahir dari kesamaan suku, bahasa, atau agama semata,
melainkan dari pengalaman bersama dalam memperjuangkan martabat. Indonesia
menjadi “Indonesia” bukan karena wilayahnya terbentang luas, melainkan karena
ada kehendak untuk hidup bersama sebagai sesama manusia yang setara.
Relevansi kebangkitan nasional semakin penting di zaman sekarang.
Di tengah kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi, manusia modern sering
mengalami paradoks: pengetahuan bertambah, tetapi kebijaksanaan tidak selalu
tumbuh. Orang mudah berbicara, tetapi sulit mendengar. Mudah bereaksi, tetapi
enggan memahami.
Maka kebangkitan hari ini mungkin bukan lagi soal melawan penjajah
dari luar, melainkan melawan berbagai bentuk “tidur batin”: sikap apatis,
fanatisme sempit, kebencian, dan hilangnya kemampuan berpikir kritis.
Sebuah bangsa dapat runtuh bukan hanya karena perang atau krisis
ekonomi, tetapi juga karena warganya berhenti peduli terhadap kebenaran dan
sesama.
Karena itu, Hari Kebangkitan Nasional dapat dimaknai sebagai ajakan
untuk terus membangunkan dimensi terdalam manusia: akal, nurani, dan tanggung
jawab moral. Sebab kemerdekaan sejati bukan hanya terbebas dari penjajahan
fisik, melainkan kemampuan untuk berdiri sebagai manusia yang sadar, berpikir,
dan berbelas kasih.
Dan mungkin, di situlah inti kebangkitan sejati: ketika manusia
tidak lagi hidup sekadar untuk dirinya sendiri, melainkan mulai merasa ikut
bertanggung jawab atas nasib bersama sebagai bangsa.
Indonesia bangkit, karena sudah terlalu lama sakit.
Cilangkap, 20 Mei 2026
Riswo Mulyadi, seorang guru madrasah di pelosok Banyumas yang hobi
membaca, menulis, dan mengamati keadaan. Sehari-hari disibukkan dengan
rutinitas mengajar, mendidik, dan tentu saja suka ngopi.
Posting Komentar