SOMAGEDE, INFO BANYUMAS — Upaya membangun kesadaran dan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana alam terus dilakukan Pramuka Peduli Kwartir Ranting (Kwarran) Somagede. Melalui kegiatan sosialisasi bencana alam yang digelar di Sekolah Dasar Negeri Plana, Jumat (22/5/2026), para peserta didik diberikan pemahaman mengenai langkah mitigasi, upaya penyelamatan diri, hingga tindakan yang harus dilakukan saat terjadi bencana.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari edukasi kebencanaan sejak usia dini guna meningkatkan kesadaran peserta didik terhadap berbagai potensi ancaman bencana di lingkungan sekitar. Sosialisasi berlangsung di halaman sekolah dengan melibatkan anggota Pramuka Peduli Kwarran Somagede serta didukung pihak sekolah dan unsur aparat kewilayahan.
Sejak pagi, suasana SD Negeri Plana tampak berbeda. Ratusan peserta didik mengikuti kegiatan dengan penuh antusias. Materi yang disampaikan dikemas secara menarik melalui pendekatan edukatif dan interaktif sehingga mudah dipahami anak-anak usia sekolah dasar.
Sosialisasi diawali dengan pembukaan oleh Ketua Majelis Pembimbing Gugus Depan (Mabigus) SD Negeri Plana, Kak Suparni, S.Pd.SD. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas kepedulian Pramuka Peduli Kwarran Somagede dalam memberikan pendidikan kebencanaan kepada peserta didik.
Menurutnya, pengetahuan mengenai mitigasi bencana sangat penting dikenalkan sejak dini agar anak-anak memiliki kesiapan mental dan pemahaman ketika menghadapi situasi darurat. Lingkungan sekolah, kata dia, menjadi salah satu tempat strategis untuk membangun budaya sadar bencana.
“Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat bagi peserta didik. Anak-anak perlu dibekali pengetahuan dasar mengenai kebencanaan agar mereka memahami bagaimana cara menjaga keselamatan diri ketika terjadi bencana,” ujarnya.
Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh anggota Pramuka Peduli Kwarran Somagede. Para peserta dikenalkan berbagai jenis bencana alam yang berpotensi terjadi di wilayah sekitar, seperti gempa bumi, banjir, angin kencang, dan tanah longsor.
Selain memahami jenis bencana, peserta didik juga diberikan simulasi sederhana mengenai langkah penyelamatan diri. Materi disampaikan dengan bahasa ringan dan mudah dipahami sehingga para siswa tampak aktif mengikuti setiap sesi kegiatan.
Dalam sosialisasi tersebut, peserta didik diajak memahami pentingnya kewaspadaan serta langkah pencegahan sebelum terjadi bencana. Mereka juga diberi pemahaman mengenai tindakan yang harus dilakukan saat situasi darurat agar dapat mengurangi risiko dan dampak yang ditimbulkan.
Waka Bidang Pengabdian Masyarakat (Abdimas) Kwarran Somagede, Kak Eko Herry Purnomo, S.Pd.SD, mengatakan pendidikan kebencanaan harus mulai dikenalkan sejak usia sekolah dasar. Menurutnya, anak-anak merupakan kelompok yang rentan ketika terjadi bencana sehingga perlu dibekali kemampuan dasar penyelamatan diri.
Ia menjelaskan, melalui sosialisasi tersebut peserta didik diharapkan mampu memahami langkah-langkah sederhana dalam pencegahan dan penanganan awal ketika menghadapi situasi darurat.
“Sosialisasi ini sangat penting mulai dikenalkan kepada peserta didik sejak usia sekolah dasar, karena mereka akan tahu apa saja yang harus dilakukan dalam pencegahan dan bagaimana tindakan yang tepat ketika terjadi bencana,” katanya.
Kak Eko menambahkan, kegiatan edukasi kebencanaan menjadi salah satu bentuk kepedulian Pramuka terhadap masyarakat, khususnya dalam membangun budaya siaga bencana di lingkungan sekolah. Menurutnya, peningkatan kesadaran masyarakat terhadap risiko bencana harus dilakukan secara terus-menerus dan berkelanjutan.
Ia menyebut, wilayah Indonesia yang rawan terhadap berbagai bencana alam membuat seluruh elemen masyarakat harus memiliki kesiapan menghadapi situasi darurat. Karena itu, pendidikan mitigasi tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah semata, tetapi memerlukan keterlibatan semua pihak.
“Kami akan terus melakukan sosialisasi seperti ini kepada peserta didik sehingga mereka tahu usaha pencegahan dan cara menyelamatkan diri jika sewaktu-waktu terjadi bencana alam di sekitar kita,” ujarnya.
Selain penyampaian materi kebencanaan, kegiatan juga diisi dengan berbagai aktivitas edukatif yang membuat suasana semakin hidup. Para peserta didik terlihat bersemangat mengikuti simulasi dan sesi tanya jawab bersama pemateri.
Metode penyampaian yang dikemas secara interaktif membuat anak-anak lebih mudah memahami materi yang diberikan. Beberapa siswa bahkan tampak aktif mengajukan pertanyaan terkait langkah penyelamatan diri ketika terjadi gempa bumi maupun banjir.
Kegiatan tersebut juga menjadi sarana membangun karakter disiplin, tanggap, dan peduli terhadap lingkungan sekitar. Para peserta didik diajak memahami bahwa kesiapsiagaan menghadapi bencana merupakan bagian penting dalam menjaga keselamatan diri sendiri maupun orang lain.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Babinsa Desa Plana, Kak Dwi Riyanto, yang memberikan materi mengenai bela negara. Dalam penyampaiannya, ia mengajak peserta didik untuk menanamkan rasa cinta tanah air, disiplin, dan semangat gotong royong sejak dini.
Menurutnya, sikap tanggap terhadap bencana juga merupakan bagian dari upaya bela negara. Ia menilai, generasi muda harus dibentuk menjadi pribadi yang peduli, tangguh, dan mampu membantu sesama ketika menghadapi situasi darurat.
“Anak-anak harus memiliki semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Sikap disiplin dan saling membantu menjadi modal penting dalam menghadapi berbagai kondisi, termasuk saat terjadi bencana,” katanya.
Kehadiran Babinsa dalam kegiatan tersebut semakin menambah wawasan peserta didik mengenai pentingnya menjaga persatuan dan kepedulian sosial di tengah masyarakat. Sinergi antara Pramuka, sekolah, dan aparat kewilayahan dinilai menjadi langkah positif dalam membangun karakter generasi muda.
Melalui sosialisasi tersebut, Pramuka Peduli Kwarran Somagede berharap peserta didik dapat menjadi agen penyebar informasi kesiapsiagaan bencana di lingkungan keluarga maupun masyarakat sekitar. Pengetahuan yang diperoleh di sekolah diharapkan mampu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan edukasi kebencanaan juga menjadi bagian dari upaya membangun budaya sadar bencana secara lebih luas. Dengan pemahaman yang baik, masyarakat diharapkan mampu mengurangi risiko serta dampak yang ditimbulkan ketika bencana terjadi.
Pramuka Peduli Kwarran Somagede menegaskan komitmennya untuk terus hadir di tengah masyarakat melalui berbagai kegiatan sosial dan edukatif. Selain membangun karakter generasi muda, Gerakan Pramuka juga diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi bencana alam.
Melalui kegiatan yang melibatkan peserta didik sejak dini, semangat kepedulian, kesiapsiagaan, dan gotong royong diharapkan terus tumbuh di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Dengan demikian, upaya pengurangan risiko bencana dapat menjadi gerakan bersama yang melibatkan seluruh elemen bangsa.


Posting Komentar