SEMARANG, — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Tengah memperkuat sinergi dengan PGRI Jawa Tengah dalam penguatan literasi keuangan bagi guru dan pelajar melalui kegiatan Training of Trainers (ToT) Literasi Keuangan, Rabu (20/5/2026).
Kegiatan yang dimulai pukul 13.00 WIB hingga selesai itu dilaksanakan secara paralel blended di kantor OJK se-Jawa Tengah dan melalui platform Zoom. Pelatihan tersebut diikuti guru, pengurus organisasi pendidikan, serta perwakilan pelajar di berbagai daerah di Jawa Tengah.
Kepala OJK Provinsi Jawa Tengah, Hidayat Prabowo, mengatakan guru memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan dalam membangun budaya finansial sehat di masyarakat.
“Guru se-Jawa Tengah dapat menjadi agen literasi keuangan sekaligus role model di lingkungannya,” ujar Hidayat.
Menurutnya, penguatan literasi keuangan tidak bisa dilakukan secara parsial. Karena itu, sinergi dan kolaborasi dengan berbagai pihak menjadi strategi penting untuk memastikan edukasi keuangan menjangkau masyarakat lebih luas.
Hidayat menyebut jumlah anggota PGRI di Jawa Tengah mencapai sekitar 250 ribu orang. Potensi besar tersebut dinilai mampu menjadi kekuatan utama dalam memperluas edukasi keuangan hingga ke tingkat sekolah dan lingkungan masyarakat.
“Bagaimana memastikan 250 ribu anggota PGRI teredukasi dengan baik, itu menjadi tantangan sekaligus peluang besar,” katanya.
Tak hanya guru, OJK juga mulai melibatkan pengurus OSIS sebagai bagian dari gerakan literasi keuangan di sekolah. Para pengurus OSIS diharapkan menjadi pembuka jalan kerja sama OJK dengan berbagai pihak sekaligus menjadi agen perubahan di lingkungan pelajar.
Sementara itu, Ketua PGRI Jawa Tengah, Dr. Saptono Nugrohadi, menilai literasi keuangan menjadi kebutuhan penting di tengah meningkatnya pola konsumsi masyarakat saat ini.
Menurutnya, masyarakat harus mampu memilah dan menentukan skala prioritas kebutuhan agar lebih bijak dalam mengelola keuangan.
“Kerja sama strategis ini penting untuk menguatkan guru anggota PGRI agar lebih selektif terhadap konsumsi finansial,” ujarnya.
Saptono mengakui materi literasi keuangan sebenarnya sudah mulai dikenalkan di sekolah. Namun, implementasinya dalam praktik kehidupan sehari-hari dinilai belum optimal.
Karena itu, melalui pelatihan tersebut pihaknya berharap guru mampu mengimplementasikan pendidikan literasi keuangan secara lebih nyata, baik di sekolah maupun di lingkungan keluarga.
“Selamat mengikuti ToT Literasi Keuangan ini. Kami berharap implementasinya nanti bisa lebih optimal,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Biro Keuangan Provinsi Jawa Tengah, Johar Hadiarto, menegaskan pentingnya peningkatan kecakapan finansial masyarakat sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia.
Ia memaparkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Jawa Tengah saat ini berada di angka 74,7 dengan rata-rata lama sekolah sekitar delapan tahun. Sementara pengeluaran per kapita masyarakat mencapai sekitar Rp 12,7 juta per tahun.
Menurut Johar, bonus demografi usia produktif yang dimiliki Indonesia harus diimbangi dengan peningkatan produktivitas dan kemampuan pengelolaan keuangan masyarakat.
“Sekolah memiliki peran penting dalam penguatan karakter, termasuk karakter dalam pengelolaan keuangan,” ujarnya.
Melalui kegiatan tersebut, OJK, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, dan PGRI berharap lahir gerakan bersama untuk membangun budaya literasi keuangan sejak dini, dimulai dari sekolah dan diperkuat oleh para guru sebagai teladan di lingkungan masyarakat. (YK)


Posting Komentar