Kepada kalian, para penjaga lentera di tengah badai
peradaban
Oleh : Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja
Kepada setiap jiwa yang masih memegang pena ketika
dunia lebih sibuk memegang layar ponsel.
Kepada mereka yang menulis bukan demi pujian,
kedudukan, atau tepuk tangan, melainkan karena ada sesuatu yang terasa tidak
selesai ketika kebenaran dibiarkan berlalu begitu saja.
Kepada kalian yang mungkin tak pernah mendapat
panggung, tak banyak disebut dalam berita, dan karya-karyanya barangkali hanya
dibaca oleh segelintir orang—namun tetap duduk, menyusun kata, menenun makna,
dan memelihara sedikit keadaban di tengah zaman yang semakin gaduh.
Saudara-saudaraku.
Pernahkah kalian merasa lelah sedemikian rupa hingga
ingin berhenti?Dulu, mungkin kita bisa pergi ke tepi pantai. Berdiri menghadap
laut, lalu berteriak kepada ombak agar membawa pergi segala beban. Kini
barangkali kita hanya duduk di ruang kecil, di lantai yang dingin, membuka buku
atau layar, kemudian menulis.
Bukan untuk siapa-siapa.Hanya karena menulis terasa
seperti salah satu cara untuk tetap waras menghadapi dunia.
Di sana kita menemukan kesunyian. Tetapi anehnya,
justru di dalam kesunyian itu kadang kita menemukan diri sendiri.
Dunia di luar terus berbicara. Pesan datang tanpa jeda.
Berita berlari lebih cepat daripada pikiran sempat memeriksa kebenarannya.
Jempol bergerak lebih cepat daripada hati sempat mempertimbangkan akibatnya.
Teknologi menjanjikan kedekatan. Tetapi kedekatan tidak
selalu melahirkan keakraban.
Kita bisa begitu dekat di layar, tetapi begitu jauh
dalam kemanusiaan.
Kita saling menyapa, sekaligus saling mencela. Saling
mengikuti, sekaligus saling menjatuhkan. Kata-kata yang dahulu menjadi
jembatan, kini kadang berubah menjadi batu yang dilemparkan kepada siapa saja
yang berbeda.
Nilai seseorang pun perlahan sering disederhanakan
menjadi angka: berapa pengikutnya, berapa tanda suka, berapa kali dibagikan.
Seolah-olah kebenaran dapat ditentukan oleh jumlah
tepuk tangan.
Padahal suara yang paling ramai belum tentu suara yang
paling benar.
Dan di zaman ketika semua orang bisa berbicara tanpa
henti, barangkali yang semakin sulit ditemukan justru suara yang lembut,
jernih, dan tidak tergesa-gesa.
Maka, kalian tetap menulis.
Barangkali karena kalian tahu bahwa luka tidak selalu
harus dilawan dengan kemarahan.
Luka juga bisa dirawat dengan kata.Sebab sembuh bukan
berarti melupakan.Luka dari kehilangan, penolakan, ketidakadilan, bahkan dari
tempat yang semestinya menjadi rumah, tidak selalu hilang hanya karena waktu
berjalan. Ada luka yang menetap sebagai ingatan. Ada yang berubah menjadi
kebijaksanaan. Ada pula yang diam-diam mengubah cara seseorang memandang dunia.
Tetapi kita selalu mempunyai pilihan: menjadi pahit
karena luka, atau menjadi lebih manusiawi karenanya.Di situlah tulisan
menemukan tempatnya.
Tulisan yang baik tidak selalu berteriak. Kadang ia
hanya berbisik, tetapi justru karena itu ia masuk lebih jauh ke dalam hati.
Kata-kata dapat disusun menjadi cermin.Misalnya,
seorang pelajar bertanya tentang kata-kata yang memiliki bunyi akhir serupa:
birokrat, laknat, jahat, khianat, penjahat, bangsat.Gurunya kemudian
menambahkan: ingat, lahat, kualat, menghujat, sekarat.
Keduanya mungkin hanya sedang bermain bunyi.
Tetapi ketika kata-kata itu diletakkan berdampingan,
tiba-tiba ia seperti menyusun sebuah potret tentang negeri: tentang ingatan
yang mudah hilang, tentang kekuasaan yang bisa melahirkan kesombongan, tentang
penghujatan yang mudah dilakukan, tentang akibat yang suatu saat harus
ditanggung.
Begitulah sastra bekerja.
Sastra tidak selalu menunjuk hidung seseorang.Sastra
cukup meletakkan cermin di tengah ruangan.Selebihnya, biarlah masing-masing
melihat wajahnya sendiri.
Karena itu, para penulis dan pembaca yang jujur
sesungguhnya tidak sedang bermain-main dengan kata. Mereka sedang menjaga
sesuatu yang jauh lebih tua daripada teknologi: ingatan manusia.
Mereka melihat kenyataan, lalu membungkusnya dengan
metafora bukan untuk menyembunyikan kenyataan, melainkan agar ia dapat
direnungkan tanpa harus selalu diteriakkan.
Di tengah budaya yang semakin keras, tulisan menawarkan
kelembutan.Di tengah kepentingan yang semakin keruh, tulisan berusaha
menghadirkan kejernihan.Di tengah kegaduhan, tulisan menyediakan ruang untuk
berhenti sejenak dan bertanya:
Apakah kita masih manusia?
Pertanyaan itu sebenarnya sederhana.Tetapi semakin
tinggi seseorang berada, kadang semakin sulit ia menjawabnya.
Kita mengenal kisah lama tentang seekor kera yang
justru menjadi teladan kemanusiaan.
Hanoman.
Ia bukan manusia secara biologis, tetapi dalam kisah
pewayangan ia digambarkan memiliki keberanian, kesetiaan, kecerdasan, dan
pengabdian. Bahkan dalam perjalanan spiritualnya, ia menjadi simbol bahwa
kemuliaan tidak semata-mata ditentukan oleh bentuk lahir.
Di situlah kisah Hanoman menjadi menarik.Sebab manusia
ternyata tidak otomatis menjadi manusia hanya karena dilahirkan sebagai
manusia.
Menjadi manusia adalah pekerjaan seumur hidup.Ada hawa
nafsu yang harus dijinakkan. Ada keserakahan yang harus dikendalikan. Ada
kesombongan yang harus ditundukkan. Ada kekuasaan yang harus diingatkan bahwa
dirinya sementara.
Maka agak lucu jika sesekali kita melihat manusia yang
duduk di tempat tinggi, berbicara tentang kemanusiaan, tetapi perilakunya
justru menyerupai kawanan yang berebut buah di dahan.
Bukan karena ia tidak memiliki akal.Barangkali justru
karena akalnya terlalu sering disuruh bekerja untuk membenarkan kepentingannya
sendiri.
Di situlah peradaban diuji.Bukan ketika kita mempunyai
kekuasaan.Melainkan ketika kita memiliki kekuasaan dan tetap mampu menahan
diri.Bukan ketika kita bisa membalas.Melainkan ketika kita mampu memilih untuk
tidak membalas.
Bukan ketika semua orang memuji.Melainkan ketika tidak
seorang pun melihat, tetapi kita tetap memilih melakukan yang semestinya.
Sebab perjuangan menjadi manusia tidak selalu
berlangsung di jalan raya, di podium, atau di ruang sidang.
Sering kali ia berlangsung diam-diam di dalam diri.Di
situlah setiap orang berhadapan dengan dirinya sendiri.Dan mungkin, di situlah
para penulis mempunyai tugas yang tidak kecil.
Mereka menjaga agar manusia tidak terlalu cepat
lupa.Mereka menyimpan pertanyaan ketika orang lain sibuk mencari jawaban yang
menguntungkan.Mereka merawat ingatan ketika sejarah hendak diringkas menjadi
slogan.Mereka menyalakan lentera ketika sebagian orang memilih menutup mata.
Karya mereka mungkin tidak langsung mengubah dunia.Satu
puisi tidak serta-merta menghentikan ketidakadilan.Satu artikel tidak otomatis
mengubah kebijakan.Satu buku mungkin hanya dibaca beberapa puluh orang.
Tetapi peradaban memang tidak selalu dibangun oleh
sesuatu yang langsung terlihat.Benih pun bekerja dalam gelap.Akar tumbuh tanpa
tepuk tangan.Dan lentera tidak pernah bertanya berapa banyak orang yang
memujinya sebelum ia memberikan cahaya.
Karena itu, kepada kalian yang masih menulis di tengah
sunyi :
Jangan terlalu cemas jika tulisan kalian belum ramai.
Jangan merasa sia-sia hanya karena nama kalian tidak disebut.Jangan mengukur
nilai sebuah karya hanya dari banyaknya mata yang melihatnya.
Ada tulisan yang dibaca ribuan orang lalu hilang
keesokan harinya.Ada pula tulisan yang hanya dibaca satu orang, tetapi
diam-diam mengubah cara orang itu memandang hidup.Kita tidak pernah tahu ke
mana sebuah kata berjalan setelah tulisan dilepaskan.Mungkin tulisan berhenti
di halaman terakhir.Mungkin tulisan tinggal di kepala seseorang.Mungkin sebuah
karya menjadi percakapan.Mungkin saja isinya menjadi pemantik
keberanian.Mungkin pula sebuah karya baru ditemukan bertahun-tahun setelah
penulisnya tiada.
Maka tulislah.
Selagi napas masih ada.Sebab kita tidak pernah tahu
siapa yang lebih dahulu pergi.Bukan selalu yang tua.Bukan pula selalu yang
sakit.
Kehidupan tidak pernah mengirimkan surat pemberitahuan
tentang kapan seseorang harus meninggalkan dunia.
Karena itu, barangkali yang paling penting bukan berapa
lama kita tinggal, melainkan apa yang kita tinggalkan.
Jika hari ini kita masih diberi kesempatan membaca,
membaca.Jika masih diberi kesempatan menulis, menulis.Jika masih diberi
kesempatan berbuat baik, berbuatlah.
Tidak perlu menunggu menjadi besar untuk menjadi
berarti.Tidak perlu menunggu mempunyai panggung untuk menyalakan cahaya.
Cukup menjadi manusia di tempat kita berdiri.Dan jika
suatu hari lelah datang, biarlah lelah itu menjadi lelap.Jika hari ini terasa
berat, semoga malam memberi jeda.Jika perjalanan terasa panjang, semoga kita
masih menemukan alasan untuk melanjutkan.
Sebab esok masih ada.Matahari masih mungkin menyapa.Dan
selama masih ada seseorang yang mau menulis ketika dunia terlalu bising, masih
ada seseorang yang mau membaca ketika dunia terlalu tergesa-gesa, masih ada
seseorang yang memilih mengingat ketika dunia ingin melupakan,lentera itu belum
padam.
Barangkali kita memang hidup sendiri-sendiri.Tetapi
kesunyian tidak selalu berarti kesendirian.Ada tulisan yang menemani tulisan
lain.Ada pembaca yang diam-diam memahami penulisnya.Ada manusia yang belum
pernah bertemu, tetapi dipertemukan oleh kegelisahan yang sama.
Di sanalah kita tahu:Di tengah sunyi, kita masih
menjadi manusia.Dan mungkin, untuk sementara, itu sudah merupakan sebuah
perjuangan yang cukup mulia.
Dengan hormat kepada siapa pun yang masih memilih
menjaga cahaya, meski tidak selalu dilihat.
Salah seorang yang masih membaca di tengah sunyi.
Salam literasi
Ajibarang, 29 September 2026
Tentang Penulis:
Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja adalah seorang guru IPA SMP di Banyumas, dan menulis esai reflektif mengaitkan sains, budaya, dan spiritualitas dalam narasi pendidikan humanistik. Ia percaya bahwa belajar bukan hanya tentang logika, tetapi juga tentang energi yang menghubungkan hati manusia
Waaaahhh... Indaaahhh ...sekaligus ngeneeesss
BalasHapusBagi KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), menulis adalah sarana untuk melawan tanpa mencederai dan berbicara tanpa harus berteriak.
BalasHapusTerimakasih tulisannya Pak Tris
HapusPosting Komentar